Harga Pangan dan Emas Turun, Jawa Tengah Catat Deflasi April 2026

0

Semarang – Tekanan harga di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan kondisi yang relatif terkendali setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H. Pada April 2026, Jawa Tengah mengalami deflasi tipis sebesar 0,03 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), berbanding terbalik dengan inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,13 persen.

Penurunan harga terutama terjadi pada sejumlah komoditas pangan, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit. Kondisi ini mencerminkan mulai normalnya pola konsumsi masyarakat setelah lonjakan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri. Selain itu, penurunan harga emas perhiasan seiring koreksi harga emas global serta turunnya tarif angkutan antar kota turut memberikan andil terhadap deflasi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menyampaikan bahwa kondisi ini merupakan sinyal positif bagi stabilitas harga di daerah.

“Deflasi yang terjadi pada April 2026 menunjukkan bahwa tekanan inflasi pasca-Lebaran dapat dikelola dengan baik. Normalisasi permintaan masyarakat menjadi faktor utama yang mendorong penurunan harga, khususnya pada komoditas pangan,” ujarnya.

Meski demikian, penurunan harga tidak terjadi secara merata. Beberapa komoditas justru mengalami kenaikan, seperti minyak goreng yang terdampak kenaikan harga kelapa sawit dan biaya produksi kemasan. Selain itu, tarif angkutan udara, harga telepon seluler, laptop atau notebook, serta makanan jadi seperti nasi dengan lauk juga mengalami peningkatan akibat naiknya biaya energi dan komponen impor.

Lebih lanjut, Noor menambahkan bahwa dinamika global turut memberikan pengaruh terhadap pembentukan harga di daerah.

“Kenaikan harga komoditas tertentu, seperti minyak goreng dan perangkat elektronik, tidak terlepas dari faktor eksternal, termasuk perkembangan harga komoditas global dan gangguan rantai pasok,” jelasnya.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Jawa Tengah tercatat sebesar 2,11 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen. Inflasi tahunan ini terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, serta komoditas utama lainnya seperti beras, daging ayam ras, dan minyak goreng.

Dari sisi wilayah, sebagian besar kabupaten/kota di Jawa Tengah mengalami deflasi secara bulanan, dengan penurunan terdalam terjadi di Kabupaten Wonogiri. Namun, secara tahunan seluruh wilayah tetap mencatat inflasi, dengan Kota Tegal sebagai daerah dengan tingkat inflasi tertinggi.

Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas harga.

“Kami akan terus memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, sehingga inflasi tetap berada dalam sasaran yang telah ditetapkan, yaitu 2,5±1 persen,” tutup Noor.

Upaya ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung stabilitas perekonomian daerah di tengah dinamika global yang masih berlangsung.***

Tinggalkan pesanan

email kami rahasiakan

Verified by MonsterInsights