BI: Industri Makanan dan Minuman Berperan Besar Menopang Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah

Bali – Industri makanan dan minuman terus menunjukkan perannya sebagai salah satu motor penggerak ekonomi Jawa Tengah. Sektor ini dinilai memiliki kontribusi paling dominan dalam industri pengolahan, sehingga menjadi penyangga penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Peneliti sekaligus Ekonom Senior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Agni Alam Awirya, mengatakan industri makanan dan minuman menyumbang sekitar 30 persen terhadap total kontribusi sektor industri pengolahan di Jawa Tengah. Angka tersebut mencerminkan besarnya peran sektor ini dalam menjaga aktivitas ekonomi di provinsi tersebut.
Hal itu disampaikan Agni saat menjadi pembicara pada kegiatan Pengelolaan Publikasi Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Hijau Melalui Jejaring Media Strategis yang digelar di Novotel Hotel & Resort Ubud, Bali, Rabu (29/7).
“Jika dilihat lebih rinci, industri makanan dan minuman menjadi penyumbang terbesar di dalam sektor industri pengolahan, dengan kontribusi sekitar 30 persen,” ujarnya.
Agni menjelaskan, kategori industri makanan dan minuman yang dimaksud berkaitan dengan aktivitas konsumsi di sektor jasa, seperti makanan dan minuman yang disajikan di restoran maupun rumah makan. Adapun produk yang dibeli masyarakat atau wisatawan di toko ritel dan minimarket tercatat sebagai bagian dari sektor perdagangan.
Ia menambahkan, meskipun kontribusi lapangan usaha akomodasi serta penyediaan makan dan minum terhadap produk domestik regional masih belum sebesar sektor lain, laju pertumbuhannya tergolong tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan peluang pengembangan yang masih terbuka lebar.
Menurut Agni, penguatan sektor pariwisata menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kontribusi industri makanan dan minuman terhadap perekonomian. Penyelenggaraan berbagai agenda sport tourism maupun pengembangan wisata religi atau halal tourism dinilai mampu menarik lebih banyak wisatawan sekaligus memperpanjang lama kunjungan mereka.
“Event sport tourism seperti RBP menjadi contoh bagaimana sebuah kegiatan dapat meningkatkan length of stay wisatawan. Semakin lama wisatawan berada di suatu daerah, semakin besar pula potensi belanja yang akan menggerakkan ekonomi lokal,” pungkasnya.***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.