537 Gagasan Pusaka Jateng Buka Jalan Baru Pengembangan Pariwisata

SEMARANG – Masa depan pariwisata Jawa Tengah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya destinasi yang dimiliki, tetapi juga oleh gagasan untuk mengelolanya agar menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas. Hal itu tergambar dari 537 abstrak yang masuk dalam Call for Paper Pusaka Jateng 2026.
Ratusan gagasan tersebut menjadi bagian dari Forum Perumusan Analisis dan Rekomendasi Kebijakan Jawa Tengah (Pusaka Jateng) 2026 yang mengusung tema “Transformasi Pariwisata Jawa Tengah sebagai Sumber Pertumbuhan Baru yang Inklusif dan Berkelanjutan”.
Forum tersebut digelar di Ballroom Hotel Padma Semarang, Jumat (11/9/2026), sebagai ruang untuk mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan kebijakan pembangunan Jawa Tengah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, Pusaka Jateng merupakan forum untuk menghasilkan asesmen dan rekomendasi kebijakan yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan.
Dari 537 abstrak yang masuk, proses seleksi menghasilkan 100 paper. Selanjutnya, 30 paper masuk tahap penjurian hingga terpilih enam karya terbaik.
“Harapannya mudah-mudahan paper-paper ini bisa dimanfaatkan untuk kita semua, baik Pemprov maupun OPD dan stakeholder lainnya untuk sebagai referensi apabila ingin melakukan asesmen atau mengambil kebijakan yang terkait dengan perekonomian dan khususnya pariwisata,” kata Noor.
Beragam isu dibawa dalam karya-karya tersebut. Selain pariwisata, terdapat gagasan mengenai ekonomi syariah berbasis pesantren, ekonomi kreatif berbasis desa, ekonomi hijau, serta digitalisasi pemerintah daerah.
Khusus pariwisata, gagasan yang berkembang menunjukkan perlunya perubahan orientasi. Keberhasilan sektor ini tidak lagi cukup diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi dari seberapa besar aktivitas ekonomi yang tercipta setelah wisatawan berada di Jawa Tengah.
Lama tinggal, kunjungan berulang, belanja wisatawan, serta keterlibatan UMKM menjadi sejumlah indikator yang dapat digunakan untuk melihat kualitas dampak pariwisata.
Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tidak sekadar menjadi pengunjung destinasi. Mereka diharapkan ikut menggerakkan perdagangan, kuliner, kerajinan, transportasi, akomodasi, hingga produk-produk UMKM di sekitar destinasi.
Potensi desa juga menjadi bagian penting. Desa wisata dapat dikembangkan bukan hanya sebagai tempat kunjungan, tetapi sebagai pusat ekonomi yang menawarkan produk lokal, budaya, kuliner, dan pengalaman yang membuat wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama.
Konsep wisata juga dapat diperluas melalui wisata religi, budaya, wisata ramah muslim hingga wisata industri. Pengembangan wisata industri misalnya, dapat memperkenalkan potensi ekonomi Jawa Tengah sekaligus membuka peluang investasi bagi wisatawan maupun pelaku usaha.
Pengembangan wisata ramah muslim juga dinilai memiliki prospek besar. Ketersediaan tempat ibadah, akomodasi yang sesuai, serta makanan bersertifikat halal menjadi bagian dari ekosistem yang perlu diperkuat untuk menarik wisatawan muslim dari berbagai negara.
Selain daya tarik, konektivitas menjadi faktor penting. Infrastruktur antardestinasi perlu diperkuat agar wisatawan dapat dengan mudah berpindah dari satu kawasan wisata ke kawasan lainnya. Dengan demikian, perputaran ekonomi tidak hanya terjadi di satu destinasi, tetapi menyebar ke berbagai daerah.
Pengembangan pariwisata juga memiliki kaitan dengan investasi. BI bersama Pemprov Jateng telah membentuk Koridor Ekonomi Perdagangan Investasi dan Pariwisata Jawa Tengah (KERIS Jateng) untuk mengintegrasikan tiga sektor tersebut.
Dorongan tersebut sejalan dengan kinerja ekonomi Jawa Tengah. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jawa sebesar 5,65 persen dan nasional 5,29 persen.
Di tengah pertumbuhan tersebut, pariwisata dinilai memiliki ruang untuk menjadi sumber pertumbuhan baru karena melibatkan banyak sektor dan menyerap tenaga kerja, terutama melalui akomodasi serta makanan dan minuman.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan, berbagai gagasan dari Pusaka Jateng juga berpeluang digunakan sebagai bahan masukan dalam penyusunan kebijakan pembangunan melalui APBD Jawa Tengah 2027.
“Tidak menutup kemungkinan kami juga akan mengambil yang tadi di awal yaitu 500-an (gagasan) untuk menjadi bahan masukan kami meningkatkan dan mengarahkan menjadi literasi untuk arahan APBD kita di 2027,” ujar Taj Yasin.
Adapun juara pertama Pusaka Jateng 2026 diraih Bayu Dwi Kurniawan, Yohanes Eki, dan Dede Yoga melalui paper “Transformasi Industri Menuju Ekonomi Sirkular: Identifikasi Sumber Pertumbuhan Baru untuk Mendorong Produktivitas Hijau di Pantura Jawa Tengah”.
Juara kedua diraih Regina Arva Salsabila, Daffa Rahmad Nabil, dan Sandira Ulima Yassar melalui paper “Jelajah LEREP: Evaluasi Ex-Ante Kebijakan Integrasi Lima Atraksi Desa Wisata Lerep Berbasis Jejak Digital, Deep Learning, dan Agent-Based Modeling”.
Sedangkan juara ketiga diraih Manuel Exaudi Hutajulu, Firda Putri Kurniasari, dan Patricia Eunike Vanuela Simarmata melalui paper “Mampukah Pariwisata Mendorong Sektor Riil dan Pendapatan Fiskal Daerah? Analisis Heterogenitas Dampak Pengembangan Desa Wisata di Jawa Tengah”.
Ratusan gagasan tersebut menjadi modal pengetahuan untuk merancang kebijakan pariwisata Jawa Tengah yang tidak hanya mengejar angka kunjungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, memperkuat masyarakat lokal, dan membuka sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan.***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.