Khojas Gelar Lomba, Angkat Pembuat Bolu Lapis Jadi UMKM Berkelas

Semarang – Komunitas Budaya Khoja Semarang (Khojas) mulai menyiapkan generasi muda, khususnya Gen Z, sebagai penerus warisan kuliner khas Khoja. Upaya regenerasi tersebut diwujudkan melalui Lomba Bolu Lapis Khoja yang digelar Sabtu (14/2/2026) di Kampung Begog, Pekojan, Semarang.
Ketua Khojas, M Sholeh Jaelani, menyebut Bolu Lapis Khoja sebagai salah satu warisan kuliner berkelas yang belum banyak dikenal masyarakat luas.
“Makanan ini biasanya hanya muncul saat momentum Lebaran dan menjadi pelengkap sajian di kamar pengantin Khoja. Tidak setiap hari tersedia, sehingga kami menilainya sebagai sajian eksklusif,” ujar Sholeh.
Ia menjelaskan, Khoja merupakan sebutan bagi masyarakat keturunan Gujarat atau India yang datang ke Indonesia sejak abad ke-17. Mereka berkembang melalui asimilasi dengan masyarakat pribumi. Selain dikenal sebagai pelaku usaha rempah-rempah, banyak di antaranya juga berperan sebagai pengajar ilmu agama.
Lomba tersebut diikuti 15 peserta yang sebagian besar telah terbiasa membuat Bolu Lapis Khoja. Keterampilan itu umumnya diwariskan secara turun-temurun dari orang tua atau nenek mereka.
“Yang membedakan tiap pembuat biasanya pada racikan bumbu rempahnya. Masing-masing punya ciri khas,” ungkap Sholeh.
Bolu Lapis Khoja memiliki cita rasa berbeda dari bolu pada umumnya. Kue ini menggunakan rempah khas seperti kapulaga, pala, kayumanis, serta serutan kulit jeruk. Bahan dasarnya didominasi telur ayam, minimal 15 butir untuk loyang berdiameter 18 sentimeter, dengan tambahan sedikit terigu, gula, margarin, dan minyak samin.
Perpaduan tersebut menghasilkan tekstur yang manis, empuk, berlemak, dan kaya aroma rempah khas Khoja.
Di kalangan masyarakat Khoja, khususnya saat perayaan Idul Fitri, Bolu Lapis Khoja menjadi sajian istimewa di meja tamu. Bagi keluarga Khoja yang mampu, menyuguhkan kue ini menjadi kebanggaan tersendiri sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.
Ketua UMKM Khoja, Anissa Devi Ika, menuturkan lomba ini tidak hanya bertujuan mempopulerkan Bolu Lapis Khoja ke masyarakat luas, tetapi juga mengangkat para pembuatnya sebagai pelaku UMKM yang lebih profesional.
“Kami ingin memberdayakan mereka agar memiliki daya saing dengan produsen kuliner yang sudah eksis. Semakin dikenal masyarakat, tentu akan berdampak pada peningkatan ekonomi mereka,” kata Anissa.
Seepuh Khoja, Ustaz Muhammad Faiq Hafidh, turut mendukung penuh kegiatan tersebut. Ia menilai lomba ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan membangun jejaring antara produsen dan konsumen.
“Ini kompetisi yang belum pernah ada dalam sejarah Khoja di Semarang, bahkan Indonesia. Selain membangun kebersamaan, para pembuat juga bisa saling berbagi pengalaman dan mengembangkan kreativitas,” ujar Faiq yang juga pemilik Madina Kebab.
Dewan juri yang terdiri dari Chef Arie, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Lilis, Ustaz Muhammad Faiq Hafidh, dan Anissa Devi Ika, menetapkan lima pemenang. Mereka adalah Nuri Aska, Nanahe, Maimun, Azizah, dan Fatimah Mustafa Heimi.
Hadiah berupa uang pembinaan akan diserahkan dalam kegiatan Pasar Kuliner Khas Khoja (Paku Khoja) yang digelar pada Sabtu–Minggu (21–22/2/2026) di depan Masjid Jami Pekojan.
Paku Khoja akan menghadirkan beragam kuliner khas Khoja untuk kebutuhan takjil berbuka puasa. Kegiatan ini dibuka mulai pukul 15.00 hingga 18.00 WIB.***
