ISPA dan Anemia Dominasi Pengungsian Tanah Gerak Brebes, Dokter Speling Disiagakan Penuh Selama 24 Jam

BREBES – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat layanan kesehatan bagi pengungsi terdampak tanah gerak di Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, dengan menerjunkan mobil spesialis keliling dan membuka posko kesehatan 24 jam. Dari hasil pemeriksaan, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan gejala anemia menjadi temuan utama di lokasi pengungsian.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Kusminar, mengatakan layanan kesehatan melibatkan tim gabungan dari kabupaten dan provinsi. Mobil spesialis keliling diterjunkan bersama dokter penyakit dalam, dokter spesialis anak, psikolog anak, serta tenaga kesehatan lainnya untuk memastikan kondisi pengungsi tetap terpantau.
“Dalam situasi bencana, kami mengantisipasi munculnya penyakit akibat lingkungan dan trauma. Karena itu, layanan spesialis dan posko 24 jam kami siapkan,” ujarnya.
Mayoritas pengungsi terdiri atas perempuan, lansia, dan balita. Cuaca dingin serta hujan yang terus turun selama beberapa pekan terakhir memicu keluhan batuk dan pilek pada anak-anak.
Dokter spesialis anak dari RSUD Dr Moewardi, dr Irfan Zaki Nugroho, menyebut sebagian besar anak mengalami ISPA ringan. Selain itu, ditemukan pula kasus sakit gigi serta mimisan pada seorang anak yang diduga akibat iritasi karena sering mengusap hidung saat pilek.
“Keluhan terbanyak batuk dan pilek. Ada juga beberapa anak sakit gigi sehingga perlu edukasi kebersihan gigi dan mulut. Tadi ada satu anak yang sering mimisan, kemungkinan karena iritasi, namun tidak serius,” jelasnya.
Tim medis juga mendapati sejumlah anak menunjukkan tanda-tanda anemia, yang terlihat dari kelopak mata pucat. Kondisi tersebut mengindikasikan perlunya peningkatan asupan nutrisi, khususnya protein hewani, serta pemberian suplemen penambah darah.
Untuk mendukung kebutuhan balita, dapur umum menyiapkan bubur bayi, biskuit, dan susu tambahan. Bantuan perlengkapan bayi seperti popok juga tengah diusulkan melalui APBD guna memenuhi kebutuhan dasar selama masa pengungsian.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengimbau warga tidak kembali ke rumah yang terdampak karena berpotensi membahayakan keselamatan. Pemerintah daerah, kata dia, akan menyiapkan hunian sementara hingga rumah tetap bagi warga terdampak.
“Di pengungsian pelayanan kesehatan tersedia. Kalau sakit ada dokternya. Kami pastikan kebutuhan warga terpenuhi sembari menunggu penyiapan rumah sementara dan rumah tetap,” ujarnya saat meninjau lokasi pengungsi.
Salah satu pengungsi, Susi Susanti, yang memiliki bayi berusia 10 bulan, mengaku terbantu dengan kehadiran tenaga medis di lokasi. “Anak saya sempat pilek dan langsung diperiksa. Alhamdulillah ada dokter,” katanya.
Posko kesehatan dari puskesmas setempat dijadwalkan berjaga 24 jam. Mobil spesialis dari rumah sakit provinsi, termasuk dari RSUD Dr Moewardi, RSUD Margono Soekarjo, dan RSUD Dr Adhyatma Tugurejo, akan bergantian hadir setiap hari hingga kondisi pengungsi dinyatakan stabil.
Pemerintah berharap langkah preventif tersebut mampu mencegah munculnya penyakit lanjutan selama masa tanggap darurat, sehingga kesehatan warga tetap terjaga di tengah situasi bencana.***
