Moko Garment, Kisah Ketekunan Mengantar Produk Lokal Menembus Pasar Dunia

0
Direktur PT Moko Garment Indonesia, Rian Muhammad saat mengecek proses produksi berbagai produk pesanan pelanggan.

Semarang – Pagi itu, aktivitas di PT Moko Garment Indonesia di Jalan Karanggayam, Mangunharjo, Tugu, Semarang, sudah berjalan seperti biasa. Mesin-mesin jahit berdengung, karyawan sibuk menyelesaikan pesanan, sementara sejumlah paket siap dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Sulit membayangkan bahwa perusahaan yang kini mempekerjakan hampir 100 orang itu berawal dari sebuah kamar sederhana berukuran 3×3 meter.

Pada 2012, dua saudara, Budi Turmoko dan Rian Muhammad, memulai usaha dengan modal terbatas. Mereka hanya memiliki tiga mesin jahit dan dua pekerja. Bahkan satu mesin harus dibeli dengan sistem tempo karena keterbatasan modal.

“Awalnya kami hanya bermodal sekitar Rp5 juta. Dua mesin kami beli tunai, satu lagi dicicil. Dari situ kami mulai menerima pesanan sedikit demi sedikit,” kenang Rian Muhammad, Direktur PT Moko Garment Indonesia, Selasa 2 Juni 2026.

Berbekal keberanian dan kegigihan, keduanya menawarkan jasa produksi secara door to door. Tak jarang mereka harus pulang dengan tangan kosong karena ditolak calon pelanggan.

“Dulu belum sempat masuk kantor, baru sampai pintu saja sudah ditolak. Tapi itu menjadi bagian dari proses belajar kami,” ujarnya sambil tersenyum.

Alih-alih menyerah, mereka justru memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Promosi dilakukan melalui media sosial dan website perusahaan. Strategi itu perlahan membuahkan hasil. Nama Moko Garment mulai dikenal berbagai perusahaan di Indonesia.

Kini, perusahaan tersebut mampu memproduksi sekitar 10.000 potong produk setiap bulan, mulai dari wearpack, overall, polo shirt, t-shirt, jas hujan hingga tas kerja. Produknya digunakan berbagai perusahaan nasional dan mulai merambah pasar internasional seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste, Taiwan, Oman hingga Siprus.

Namun, di balik pertumbuhan itu ada satu mitra yang turut mendukung perjalanan bisnis mereka sejak masa awal, yakni JNE.

Menjangkau Pelosok Bersama JNE

Rian masih mengingat bagaimana awal mula bekerja sama dengan JNE. Saat volume pengiriman masih kecil, ia dan tim harus mengantar sendiri paket ke kantor cabang JNE.

Kini situasinya berbeda. Setiap hari petugas JNE datang langsung melakukan penjemputan paket dari kantor Moko Garment.

“Dari awal kami sudah menggunakan JNE. Dulu kami yang mengantar paket ke kantor cabang, sekarang justru dijemput. Itu salah satu layanan yang sangat membantu kami,” katanya.

Bagi perusahaan yang mengandalkan pemasaran digital hingga 90 persen, kecepatan dan keamanan pengiriman menjadi faktor penting. Setiap hari puluhan hingga ratusan paket dikirim ke berbagai daerah.

Sekitar 70 persen pengiriman Moko Garment menggunakan layanan JNE. Tidak hanya untuk kota-kota besar, tetapi juga wilayah pelosok yang menjadi bagian penting dari pasar mereka.

“Customer kami banyak yang berada di daerah-daerah yang tidak mudah dijangkau. Karena itu kami memilih JNE karena jaringannya luas dan bisa menjangkau sampai pelosok,” ujar Rian.

Pengiriman produk Moko Garment bahkan rutin menjangkau titik-titik terjauh Indonesia, mulai dari Merauke di Papua hingga Aceh.

Menurut Rian, kepercayaan kepada JNE tidak hanya dibangun oleh luasnya jaringan distribusi, tetapi juga konsistensi layanan.

“Selama ini barang aman, tidak pernah hilang, tidak tertukar, dan sampai sesuai waktu yang dijanjikan. Itu yang membuat kami tetap percaya menggunakan JNE,” ungkapnya.

Direktur PT Moko Garment Indonesia, Rian Muhammad (kanan) saat mengirim pesanan pelanggan melalui jasa logistik JNE.

Kepercayaan tersebut didukung oleh jaringan logistik JNE yang telah menjangkau seluruh Indonesia. Branch Manager JNE Semarang, Wahyu Sangerti Alam, mengatakan JNE terus memperkuat layanan untuk mendukung kebutuhan pelanggan, mulai dari UMKM, pelaku usaha daring, hingga perusahaan berskala besar.

Di wilayah Semarang, JNE didukung sekitar 600 karyawan dan lebih dari 100 armada operasional yang melayani pengiriman ke berbagai daerah. Secara nasional, volume kiriman JNE mencapai sekitar satu juta paket per hari.

“Layanan reguler masih menjadi produk yang paling banyak digunakan pelanggan karena menawarkan keseimbangan antara kecepatan pengiriman dan efisiensi biaya,” kata Wahyu.

Menurutnya, pelaku usaha memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan bisnis logistik. Segmen korporasi menyumbang lebih dari 40 persen volume pengiriman, sementara sisanya berasal dari pelanggan ritel dan social commerce yang terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas perdagangan digital.

Untuk mendukung pertumbuhan UMKM, JNE juga menghadirkan layanan fulfillment, yaitu solusi logistik terpadu yang mencakup penyimpanan barang, pengelolaan stok, pengemasan, hingga pengiriman kepada pelanggan.

Melalui layanan tersebut, pelaku usaha tidak perlu lagi mengelola operasional pergudangan secara mandiri dan dapat lebih fokus mengembangkan bisnis.

“Fulfillment merupakan layanan logistik pihak ketiga atau third party logistics yang membantu UMKM mengelola stok hingga pengiriman dengan biaya terjangkau. Bahkan tersedia fasilitas free trial agar pelaku usaha dapat merasakan manfaatnya terlebih dahulu,” jelas Wahyu.

Bertumbuh Bersama Lingkungan

Kesuksesan Moko Garment tidak hanya diukur dari jumlah produksi atau luas pasar. Perusahaan ini juga tumbuh bersama masyarakat sekitar.

Sekitar 60 persen tenaga kerja berasal dari lingkungan sekitar perusahaan. Moko Garment secara rutin membuka pelatihan menjahit gratis bagi warga yang ingin belajar keterampilan baru.

Bagi peserta yang dinilai memiliki kemampuan sesuai standar perusahaan, kesempatan bekerja pun terbuka lebar.

Tidak hanya itu, perusahaan juga menjalin kerja sama dengan sejumlah SMK di Jawa Tengah. Setiap tahun puluhan siswa mengikuti program magang yang dirancang layaknya kurikulum industri.

Para peserta tidak hanya belajar menjahit, tetapi juga diperkenalkan pada dunia digital marketing, administrasi, desain, hingga distribusi produk.

“Harapan kami mereka punya bekal yang lebih luas sehingga bisa bekerja di banyak bidang,” kata Rian.

Model pemberdayaan lainnya dilakukan melalui sistem kemitraan produksi. Sejumlah mantan karyawan yang telah berpengalaman diberdayakan untuk membentuk unit produksi rumahan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Skema tersebut memungkinkan masyarakat tetap memperoleh penghasilan sekaligus memperluas manfaat ekonomi ke lingkungan sekitar.

Menjahit Harapan yang Lebih Besar

Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, Budi Turmoko dan Rian Muhammad masih memegang prinsip yang sama seperti saat memulai usaha dari kamar kecil belasan tahun lalu: bekerja dengan jujur dan terus memberikan manfaat.

Sebagian keuntungan perusahaan bahkan dialokasikan secara rutin untuk kegiatan sosial, termasuk santunan dan doa bersama anak-anak yatim.

Bagi mereka, bisnis bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga menciptakan dampak bagi banyak orang.

Kini, dari sebuah ruangan sederhana berukuran 3×3 meter, Moko Garment telah menjelma menjadi perusahaan yang produknya digunakan di berbagai penjuru Indonesia hingga mancanegara.***

Tinggalkan pesanan

email kami rahasiakan

Verified by MonsterInsights