Cegah Kasus Deman Berdarah Meluas, Dinkes Ajak Lakukan Hal Ini

SEMARANG- Mencegah penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan meminta fogging, tak terlalu efektif. Bukan saja karena cara itu hanya membunuh nyamuk dewasa, namun salah dosis insektisida yang digunakan, juga mengakibatkan nyamuk menjadi kebal. Asap dan insektisida yang dipakai pun dapat membahayakan kesehatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tatik Murhayati mengungkapkan, angka kesakitan (incidence rate/ IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah dari tahun 2008-2018 mengalami fluktuasi, di mana pada 2008 menunjukkan angka kesakitan tertinggi.

Angka kematian (case fatality rate/ CFR) tertinggi di Provinsi Jawa Tengah pada 2015 yang tercatat 2,91%. Sementara, pada 2015 sampai 2018, IR maupun angka CFR mengalami penurunan.

Namun, pada awal 2019 ini, sejumlah wilayah di Jawa Tengah menunjukkan trend peningkatan IR DBD, salah satunya di Sragen. Karenanya, Tatik mengingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaannya, dan memutus mata rantai penyebaran DBD.

“Kejadian DBD memang cenderung meningkat saat hujan turun tak menentu, karena terjadi genangan air bersih, yang menjadi tempat perindukan nyamuk, khususnya Aedes aegypti. Apalagi, telur nyamuk bisa bertahan selama enam bulan, sehingga begitu hujan turun, telur akan menetas dalam waktu dua hari,” ucapnya, Kamis (24/1).

Dia mengingatkan, selain di bak penampungan air, ada sejumlah tempat yang luput dari perhatian masyarakat. Seperti, genangan air di ban bekas, botol, gelas, kaleng, dan wadah lainnya. Selain itu, genangan air di penampungan air dispenser, kulkas, tempat minum hewan peliharaan, bahkan lubang untuk tiang bendera pun berpotensi sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk pembawa vektor DBD.

“Hati-hati pula dengan sela-sela batang tanaman yang memungkinkan menjadi tempat hidup nyamuk. Hindari menumpuk pakaian kotor, maupun menggantung, karena bisa menjadi tempat persembunyian nyamuk,” jelasnya.

Ditambahkan, pengendalian DBD tak cukup hanya dilakukan pemerintah. Justru yang lebih penting adalah menciptakan kesadaran masyarakat untuk menekan pertumbuhan nyamuk. Caranya, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan membersihkan lingkungan rumah dan sekitarnya.

Lakukan 3 M, menguras tempat yang sering dijadikan penampungan air, menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air, dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk pembawa vektor DBD.

Ditambah lagi dengan sejumlah kegiatan pencegahan, seperti menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat antinyamuk, memakai kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

“Peningkatan kesadaran warga untuk membasmi jentik di lingkungannya sangat penting. Jangan bilang peduli DBD kalau belum melaksanakan PSN di rumah sendiri. Terus optimalkan gerakan satu rumah, satu jumantik (juru pemantau jentik). Jika dimulai dari rumah tangga, akan bisa mewujudkan desa/ kelurahan bebas jentik, bahkan kecamatan, kabupaten/ kota, maupun provinsi bebas jentik,” tegasnya.

Diakui, terkadang masih ada anggapan masyarakat yang lebih mempercayai foggingatau pengasapan sebagai upaya cepat mencegah DBD. Hal itu berpeluang pula dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menyelenggarakan fogging mandiri dengan berbayar, tanpa memperhatikan dosis dan cara yang benar. Padahal, fogging yang tidak benar justru membahayakan.

“Nyamuk menjadi kebal. Selain itu bahan kimia dalam asap, jika terlalu banyak dapat membahayakan kesehatan, tak hanya saat terhisap, tapi juga kalau sampai tertelan, misalnya pada sayur atau buah yang terkena paparan zat kimia fogging,” katanya. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here