Di Tangan Muhdi, Limbah Kain Perca Bisa Diubah Jadi Lukisan Bernilai Tinggi

Muhdi, warga Desa Karangrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah saat menunjukan proses pembuatan lukisan dari limbah kain perca, Sabtu (13/10).

Di USIANYA yang sudah tak muda lagi, tak membuat surut semangat Muhdi (60), Warga Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Tangannya masih gesit membuat lukisan dari limbah kain perca yang ia ambil dari warga sekitar desanya. Setiap detail bentuk lukisan ia perhatikan dan dibentuk perlahan hingga berwujud sebuah pemandangan maupun hewan-hewan yang sangat elok dilihat.

Muhdi biasa membuat lukisan limbah kain perca tersebut dengan memadukan paku hingga batang talas.

Tak tanggung-tanggung, Muhdi bahkan pernah membuat sebuah lukisan kain perca berukuran 5 x 2,5 meter dan laku dijual Rp 1.5 juta.

Muhdi mengemukakan, awal mula menekuni lukisan limbah kain perca karena ketidaksengajaan. Ia biasa mendekor ruangan khajatan pernikahan. Karena dekorasi perpaduan kain dan lainnya sangat indah, ia pun diminta oleh pengurus Borobudur membuat sebuah lukisan dari kain.

Muhdi pun mencoba membuat sebuah lukisan yang mengambil limbah-limbah kain perca tersebut. Karena puas dengan hasilnya, lukisan Muhdi itu pun diberi nama Mozaik Batik.

“Dulu kan biasa mendekorasi acara pernikahan ke sana-sini pakai kain (jarik) yang besar. Nah dari situ saya disuruh bikin lukisan dari kain perca, dan akhirnya saya buat lukisan dari limbah ini,” kata Muhdi, Sabtu (13/10).

Pria paruh baya yang dikarunia dua anak itu mengemukakan, ketika membuat sebuah lukisan ia tidak pernah memiliki gambar nyata, ia hanya melihat sekejap baik di televisi yang menampilkan sebuah pemandangan atau dengan sebuah imajinasinya sendiri.

“Biasa lukisan pemandangan itu saya lihat di TV, lihat gambar, kemudian saya bikin. Jadi enggak pakai desain, tau dari gambar langsung buat. Sekatang lagi menyelesaikan lukisan burung-burung ada 20 burung yang masih saya rancang,” ucapnya.

Muhdi saat menunjukan hasil lukisan limbah kain perca yang dipajang di Balkondes Karangrejo, Kabupaten Magelang.

Disebutnya, untuk lukisan berukuran 1 x 7,5 meter biasa diselesaikannya dalam waktu dua hari. Lukisannya pun memiliki filosofi yang berbeda-beda satu dengan yang lain.

Ia pun mengaku tidak bosan melukis dari limbah tersebut. Karena lukisan berbentuk 3D tersebut sangat unik dengan lukisan biasanya.

“Lukisan 3D kalau dilihat kan enggak membuat kita merasa bosen. Kita tinggal bayangkan oh bentuk ini seperti ini maksudnya,” ucapnya.

Dikatakan, saat ini lukisannya telah tembus ke pasar luar negeri mulai Malaysia, India, Itali. Sedangkan untuk dalam negeri ia biasa menerima pesanan dari Jakarta, Surabaya, dan dari Magelang sendiri.

“Dan khusus lukisan ini sudah saya berikan ke Ibu Susi, Mentri Kelautan dan Perikanan sama pak camat, pak gubernur juga,” terangnya.

Dilanjutkan, lukisannya dibandrol dengan harga terjangkau mulai dari harga Rp 100 ribu hingga paling mahal Rp 1.5 jutaan.

“Lukisan enggak mahal-mahal karena ini khusus dibuat untuk menengah ke bawah,” tutupnya.

Sementara itu, lukisannya biasa ditampilkan di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Karangrejo. Ia juga telah memiliki galeri sendiri di rumahnya yang desain khusus, sehingga bagi yang yang ingin melihat-lihat tinggal datang ke rumahnya saja di Desa Karangrejo, Kebupaten Magelang. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here