Di Tengah Kenaikan Harga Hortikultura, Inflasi Jawa Tengah Tetap Terkendali

0

SEMARANG — Inflasi Provinsi Jawa Tengah pada Mei 2026 masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1 persen meskipun terjadi kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura. Kondisi ini menunjukkan stabilitas harga di Jawa Tengah tetap terjaga di tengah berbagai tekanan dari sisi pasokan maupun peningkatan permintaan masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Jawa Tengah pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan (month to month/mtm), setelah pada April 2026 mencatat deflasi sebesar 0,03 persen. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,28 persen secara bulanan.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Anggis Rakhmi, mengatakan inflasi pada periode tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

“Inflasi Jawa Tengah pada Mei 2026 masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia. Kenaikan harga terutama berasal dari komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah,” ujar Anggis dalam keterangannya.

Menurutnya, kenaikan harga komoditas tersebut dipicu penurunan produktivitas akibat perubahan cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tumbuhan, serta kekeringan yang terjadi di sejumlah sentra produksi. Untuk cabai, gangguan produksi terjadi di wilayah Temanggung, sementara bawang merah terdampak di daerah Pati dan Demak.

Selain faktor produksi, peningkatan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan musim hajatan juga turut mendorong kenaikan harga komoditas pangan tersebut.

Di samping itu, harga minyak goreng juga mengalami kenaikan. Kondisi tersebut dipengaruhi keterbatasan pasokan serta meningkatnya biaya produksi akibat naiknya harga bahan pendukung, termasuk plastik kemasan.

Meski demikian, tekanan inflasi dari kelompok makanan berhasil tertahan oleh turunnya harga beberapa komoditas peternakan. Komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras memberikan andil deflasi karena pasokan yang melimpah di tingkat peternak.

Selain kelompok makanan, inflasi juga disumbang oleh kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga adalah telepon seluler.

Bank Indonesia menjelaskan, kenaikan harga telepon seluler dipengaruhi meningkatnya harga komponen elektronik seperti chipset dan memori akibat keterbatasan pasokan global. Kondisi tersebut dipicu tingginya permintaan industri teknologi, khususnya untuk kebutuhan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Inflasi juga berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Hal ini berkaitan dengan penyesuaian harga LPG non-subsidi yang dilakukan pada pekan ketiga April 2026 seiring perkembangan harga energi di pasar internasional. Dampak penyesuaian tersebut masih dirasakan konsumen hingga Mei 2026.

Di sisi lain, laju inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas emas perhiasan.

Koreksi harga emas dipengaruhi tren penurunan harga emas global dalam beberapa bulan terakhir. Kebijakan sejumlah bank sentral dunia, termasuk Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), yang mempertahankan suku bunga tinggi mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen berbasis bunga sekaligus melakukan aksi ambil untung setelah sebelumnya harga emas mengalami kenaikan.

Secara spasial, seluruh kota dan kabupaten yang menjadi wilayah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mencatat inflasi pada Mei 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surakarta, Kudus, dan Cilacap yang masing-masing mencapai 0,31 persen (mtm).

Selanjutnya, Kabupaten Wonogiri mencatat inflasi 0,30 persen, Purwokerto 0,28 persen, Kabupaten Rembang 0,24 persen, Kota Semarang 0,16 persen, Kota Tegal 0,14 persen, dan Kabupaten Wonosobo 0,12 persen.

Sementara secara tahunan (year on year/yoy), inflasi tertinggi tercatat di Cilacap sebesar 3,22 persen. Disusul Kabupaten Wonogiri sebesar 3,02 persen, Kota Tegal 2,90 persen, Purwokerto 2,88 persen, Kota Surakarta 2,85 persen, Kota Semarang 2,79 persen, Kabupaten Wonosobo 2,73 persen, Kudus 2,67 persen, dan Kabupaten Rembang 2,59 persen.

Anggis menegaskan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas harga di Jawa Tengah.

“Fokus pengendalian inflasi ke depan diarahkan pada upaya menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang, khususnya komoditas pangan strategis. Dengan sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan, inflasi Jawa Tengah diharapkan tetap terjaga dalam rentang sasaran yang ditetapkan,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

email kami rahasiakan

Verified by MonsterInsights