Ganjar Minta Pemerintah Segera Buka Keran Impor Bawang Putih

Ilustrasi.

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta pemerintah pusat segera membuka keran impor bawang putih untuk mengatasi kelangkaan dan mahalnya bahan pokok tersebut.

Ganjar mengatakan, saat ini harga bawang putih telah melonjak Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu per kilogram.

Ia pun berharap, jika tidak mendatangkan impor dari China, Pemerintah bisa mencari alternatif lain seperti India, meskipun secara kualitas masih di bawah bawang putih China.

“Kemarin kita sudah koordinasi, saya sudah telpon Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian. Mudah-mudahan dari Pusat bisa lebih cepat untuk melakukan impor karena kita kurang. Karena kurang maka harus dipercepat impor untuk stabilisasi harga agar inflasi bisa ditekan,” katanya, Senin (10/2/20).

Disebutnya, saat ini pasokan bawang putih di Tanah Air sangat turun drastis dan harganya melambung akibat pembatasan impor produk China, imbas dari mewabahnya virus Corona.

Menurutnya, momentum ini mesti dimanfaatkan untuk menggenjot pertanian bawang putih Tanah Air.

“Ini momentum buat pertanian kita khususnya bawang, dengan Corona dan orang bertanya-tanya di mana sumber bawang putih. Ini harus kita manfaatkan, musibah ini harus kita cari barokahnya. Barokahnya apa, kita mesti berdikari. Kalau sudah begitu bisa kita kejar itu (peningkatan produksi bawang putih),” ucapnya.

Dia pun berharap Pemerintah Pusat menjadikan bawang putih sebagai salah satu komoditas prioritas yang saat ini mesti digenjot. Terlebih secara nasional suplai Bawang Putih di Tanah Air kekurangannya masih sangat banyak.

“Maka ini mesti digenjot jadi satu komoditas prioritas tinggal nyarikan bibit yang banyak, lahan dan disiapkan offtacker yang baik,” katanya.

Adapun lahan pertanian bawang putih, di Jawa Tengah saat ini terdapat 2.573 hektare dengan kemampuan produksi 195.472 kg. Menurutnya, luasan itu tersebar hampir di seluruh wilayah pegunungan di Jawa Tengah, dari Tawangmangu, Sindoro Sumbing, hingga Tegal.

“Itu sebenarnya bagian untuk mendorong kekurangan ini. Cuman ngejar waktu tidak bisa. Maka harus ada crash program (percepatan) untuk meningkatkan produksi ini,” pungkasnya. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here