one-stop-property-new

Industri Jasa Keuangan Jateng Terus Tumbuh Positif

0
one-stop-property-new
Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan DIY, Aman Santosa/Zikan.

SEMARANG- Industri perbankan Jawa Tengah pada posisi Oktober 2018 mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan dan dinilai positif, terlihat dari pertumbuhan aset mencapai Rp 406,34 triliun atau tumbuh sebesar 6,71% yoy, kredit Rp 297,28 triliun atau tumbuh sebesar 9,15% yoy dan dana pihak ketiga Rp 307,83 triliun atau tumbuh sebesar 9,09% yoy.

Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan DIY, Aman Santosa mengatakan, pertumbuhan kredit di Jawa Tengah tersebut juga diikuti dengan kualitas kredit yang lebih baik, tercermin dari rasio NPL sebesar 3,10% sedikit lebih kecil dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebesar 3,11% yoy.

Disisi lain, kata Aman, perbankan syariah di Jawa Tengah pun mengalami pertumbuhan yang menggembirakan, posisi Oktober 2018 jumlah pembiayaan yang disalurkan tercatat sebesar Rp 20,10 triliun atau mengalami pertumbuhan 16,81% yoy, dengan share terhadap nasional tercatat sebesar 6,76%. Adapun NPF pembiayaan di Jawa Tengah tercatat sebesar 2,94% atau lebih rendah dibanding NPF nasional yang tercatat sebesar 3,57%.

“Penyaluran kredit di Jawa Tengah per jenis penggunaan paling banyak digunakan untuk kredit modal kerja sebesar Rp 163,27 triliun atau tumbuh sebesar 12,12% dan memiliki share sebesar 54,92% dari total keseluruhan kredit,” ujar Aman, Kamis (13/12).

Di sisi lain, lanjutnya di sektor pasar modal sendiri, pada posisi Oktober 2018 jumlah single investor identity (SID) di Jawa Tengah tercatat sebanyak 75.331 atau tumbuh 35,97% yoy, dengan nilai transaksi saham sebesar Rp 4.92 triliun.

Ditambahkan, jumlah Emiten di Jawa Tengah sebanyak 8 dan 1 Emiten Obligasi yaitu Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Sri Rejeki Isman Textile Tbk (SRIL), PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (SMNUF), dan PT Prima Cakrawala Abadi (PCAR), PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM), PT Kota Satu Property (SATU), PT Sri Wahana Adhikarya (SWAT) dan Bank Jateng sebagai Emiten Obligasi Subordinasi. Selain itu terdapat 1 perusahaan public a.n PT Phapros.

Selanjutnya, perkembangan sektor jasa keuangan non Bank atau IKNB di Jawa Tengah posisi Oktober 2018 aset Dana Pensiun tercatat Rp 4,66 triliun dengan share terhadap nasional 1,80% sedangkan nilai investasi sebesar Rp 4,65 triliun dengan share secara nasional sebesar 1,85%. Sedangkan dari perusahaan pembiayaan, nilai piutang perusahaan pembiayaan tercatat sebesar Rp 48,20 triliun dengan share terhadap nasional sebesar 10,67% dan NPF yang hanya sebesar 1,36% lebih rendah dibanding nasional yang sebesar 3,2 1%.

Dilanjutkan, tren pembiayaan baru melalui Peer-to-Peer Lending Financial Technology (Fintech) berkembang cukup signifikan dimana sampai dengan per Oktober 2018 terdapat 72 perusahaan terdaftar (1 berizin).

Dari sisi outstanding pembiayaan tercatat sebesar Rp 845,42 miliar terdiri dari 172.142 orang jumlah peminjam (borrower) sedangkan dari sisi pemberi pinjaman (lender) per Oktober 2018 tercatat sebesar 164,43 miliar dengan jumlah lender sebanyak 13.388 orang.

Diungkapkannya, selain sebagai bagian dari fungsi OJK dalam perlindungan konsumen, penyelesaian pengaduan konsumen masih menjadi salah satu fokus perhatian OJK. “Berdasarkan data Oktober 2018, jumlah pengaduan konsumen yang masuk pada OJK Regional 3 Jateng dan DIY mencapai 319 pengaduan dengan pengaduan tertinggi pada sektor perbankan sebanyak 188 pengaduan 59% dan jumlah pengaduan yang telah selesai sebanyak 293 pengaduan 92% sedangkan sisanya masih dalam proses klarifikasi,” pungkas Aman. (ZP/05)

Tinggalkan pesanan

email kami rahasiakan