one-stop-property-new

Ngabuburit, Rektor UMP dan Wartawan Deklarasi Tolak People Power

0
one-stop-property-new
Rektor UMP, Dr Anjar Nugroho membacarakan deklrasi tolak people power bersama para wartawan Purwokerto. (FOTO : Dok/Ning Effendi)

PURWOKERTO – Acara ngabuburit dan buka bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Dr Anjar Nugroho bersama para wartawan Purwokerto diisi dengan deklarasi menolak people power. Deklarasi dilaksanakan di halaman UMP, Senin (20/5/2019).

Pada kesempatan tersebut, Rektor UMP menyatakan, selaku bagian dari civitas akademika, pihaknya terpanggil dan merasa bertanggung jawab untuk ikut menjaga kondusifitas bangsa ini pasca pemilu 2019. Sebab, benih-benih konflik dalam pemilu kemarin sangat tajam dan masih tumbuh subur, meskipun pemilu sudah selesai.

“Saya tekankan di sini bahwa meskipun banyak hambatan dan tantangan, namun pemilu sudah berlangsung dengan lancar dan damai. Karena itu, saya menghimbau kepada seluruh civitas akademika UMP serta masyarakat Banyumas, jangan mudah terprovokasi, mari sama-sama kota tunggu dengan sabar hasil pemilu yang akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU),” terangnya.

Lebih lanjut Dr Anjar mengungkapkan,  pernyataan dari pimpinan pusat Muhammadiyah sudah jelas, yaitu harus menjaga kondusifitas dan menerima hasil keputusan KPU. Jika ada pihak-pihak yang tidak puas akan proses demokrasi kemarin, bisa menyelesaikan secara konstitusi yaitu dengan melapor ke Bawaslu. Jika masih tidak puas dengan keputusan  Bawaslu, maka masih ada ruang untuk laporan di Mahkamah Konstitusi (MK).

Pengerahan massa dalam jumlah besar, lanjut Dr Anjar, sangat berpotensi menimbulkan kerusuhan, rawan akan provokasi dan akan menyebabkan kedamaian bangsa ini terciderai. Sehingga lebih baik dihindari dan menempuh jalur konstitusi.

“Terus terang saya tidak bisa melarang, jika ada mahasiswa yang ikut dalam pople power, namun saya menghimbau dengan sangat, agar semua itu dipikirkan lagi secara matang. Sebagai kaum intektual, kita harus dengan dewasa menerima semua hasil pemilu,” pungkasnya.

Dari perwakilan wartawan, Driyanto menyatakan, menolak keras people power karena akan merugikan bangsa dan negara. Dimana hanya berujung pada kerusuhan dan keonaran.

Usai deklrasi rombongan rektor dan wartawan kemudian mengunjungi pasar Ramadhan yang berada di sebelah gedung rektorat. Puluhan pedagang takjil berjejer dan Rektor UMP memborong aneka makanan, mulai dari keong atau kraca hingga jus buah. (Ning Effendi)

Tinggalkan pesanan

email kami rahasiakan