Nilai Tukar Petani Jateng Februari 2019 Turun 1,06%

Seorang petani memanen padi di areal sawah desa Panyindangan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (30/3). Kementerian Pertanian menargetkan produksi padi nasional pada tahun 2015 sebesar 73,4 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik sebesar 10 persen dari tahun lalu. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/Rei/nz/15.

SEMARANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah bulan Februari 2019 sebesar 102,67 atau turun 1,06% dibanding NTP bulan sebelumnya sebesar 103,77.

“Penurunan NTP karena lndeks Harga Yang Diterima Petani (It) turun 1,10% lebih rendah dibandingkan lndeks Harga Yang Dibayar Petani (lb) yang turun 0,04%,” ujar Kepala BPS Provinsi Jateng, Sentot Bangun Widoyono, Sabtu (2/3).

Disebutnya, dari Iima subsektor pertanian komponen penyusun NTP, subsektor yang mengalami penurunan indeks yaitu subsektor Tanaman Pangan turun 1,92%, subsektor Hortikultura turun 2,22% dan subsektor Perikanan turun 0,01%.

Sedangkan dua subsektor lainnya yang mengalami kenaikan indeks yaitu subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat naik 0,43% dan subsektor Peternakan naik 0,17%.

“Komoditas yang mengalami penurunan harga, antara Iain, gabah, kacang tanah, jagung, cabai merah, cabai rawit, bawang merah alpukat, jambu biji, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, telur ayam ras, udang, gerot-gerot dan nilem. Sedangkan komoditas yang mengalami kenaikan harga, antara lain, komoditas temulawak, kunyit, pala biji, kelapa, sapi potong, domba, babi, kerapu, rumput laut, mujair dan bandeng,” ucapnya.

Dikatakan, dari 33 provinsi di Indonesia, pada Februari 2019 kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Riau sebesar 1,58%. Sebaliknya penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah sebesar 1,47%. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here