OJK Jateng Pacu Literasi Keuangan, Inklusi Masyarakat Sudah Tembus 95 Persen

SEMARANG – Akses masyarakat Jawa Tengah terhadap layanan keuangan semakin luas. Pada 2026, tingkat inklusi keuangan di provinsi ini telah mencapai 95 persen. Namun, peningkatan akses tersebut belum sepenuhnya diikuti pemahaman masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan produk keuangan. Tingkat literasi keuangan tercatat baru mencapai 72,8 persen.

Kesenjangan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk terus memperkuat edukasi keuangan. Sebab, masyarakat tidak cukup hanya memiliki akses terhadap layanan perbankan, pembiayaan, maupun investasi, tetapi juga harus memahami manfaat, risiko, serta konsekuensi dari setiap produk yang digunakan.

Kepala OJK Jawa Tengah Hidayat Prabowo mengatakan, peningkatan literasi keuangan membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, industri jasa keuangan, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Hal itu disampaikannya dalam puncak kegiatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 di area bekas parkir Plaza Gajahmada, Semarang, Sabtu (7/11) malam.

Menurut Hidayat, capaian inklusi keuangan yang tinggi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan keuangan secara tepat. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan, tetapi juga memahami hak, kewajiban, dan risiko yang menyertainya.

“Yang harus kita lakukan adalah membarengi tingginya akses ke sektor keuangan dengan pemahaman masyarakat. Karena itu, sinergi dan kolaborasi untuk meningkatkan literasi harus terus diperkuat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, puncak BIK 2026 menjadi momentum untuk mengapresiasi sekaligus memperkuat kolaborasi antara OJK, industri jasa keuangan, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperluas akses keuangan serta meningkatkan pemahaman masyarakat.

Hidayat menambahkan, literasi keuangan juga berperan penting dalam melindungi masyarakat dari berbagai risiko, terutama penipuan berkedok investasi dan pinjaman online ilegal. Masyarakat diimbau agar tidak mengambil pinjaman secara sembarangan dan selalu menyesuaikannya dengan kebutuhan serta kemampuan membayar.

Sementara itu, Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Jateng, Taufik Andriawan, mengingatkan masyarakat untuk lebih kritis terhadap berbagai penawaran produk keuangan.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh mudah tergiur investasi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa mempertimbangkan legalitas dan risiko yang menyertainya.

Untuk memastikan keamanan, masyarakat dapat memeriksa legalitas perusahaan maupun produk jasa keuangan melalui layanan OJK di nomor 157.

Selain memastikan perusahaan dan produknya terdaftar serta diawasi OJK, masyarakat juga perlu mencermati kewajaran imbal hasil yang ditawarkan.

“Jangan hanya melihat imbal hasilnya. Periksa dulu apakah perusahaan dan produknya terdaftar serta diawasi OJK. Setelah itu, pastikan penawarannya masuk akal,” katanya.

Judi Online di Jateng Capai 1,4 Juta Pengguna
Dalam kesempatan tersebut, Taufik juga menyoroti persoalan judi online yang masih menjadi ancaman bagi masyarakat. Berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang disampaikannya, jumlah pengguna judi online di Jawa Tengah pada 2025 mencapai sekitar 1,4 juta orang.
Ia mengungkapkan, penggunaan dana pinjaman untuk membiayai aktivitas judi online juga menunjukkan tren peningkatan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas judi online berpotensi berkaitan dengan penggunaan pinjaman online ilegal. OJK bersama lembaga terkait terus mendorong upaya pemberantasan praktik tersebut.

Selain judi online, Taufik mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan keamanan rekening perbankan. Rekening yang sudah tidak digunakan sebaiknya segera ditutup untuk menghindari penyalahgunaan.

Pasalnya, rekening yang masih aktif tetapi tidak terpantau pemiliknya berisiko dimanfaatkan dalam praktik jual beli rekening maupun berbagai tindak kejahatan keuangan.

“Kalau rekening sudah lama tidak digunakan, sebaiknya ditutup. Jangan sampai rekening kita disalahgunakan untuk aktivitas ilegal,” ujarnya.

Melalui BIK 2026, OJK berharap peningkatan akses keuangan di Jawa Tengah berjalan beriringan dengan peningkatan literasi dan perlindungan konsumen. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan layanan keuangan secara aman, bijak, dan bertanggung jawab sehingga memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan.

Daftar Pemenang BIK 2026

Dalam rangkaian puncak BIK 2026, OJK juga mengumumkan para pemenang Investment Competition tingkat SMA/SMK/MA se-Jateng-DIY serta Duta Literasi dan Inklusi Keuangan Jawa Tengah.

Berikut daftar pemenangnya:

Investment Competition Tingkat SMA/SMK/MA se-Jateng-DIY

SMAN 3 Semarang
MAN 1 Yogyakarta
SMAN 1 Magelang
SMKN 1 Randudongkal
SMA Negeri 1 Maos
SMAIT Nurul Islam

Duta Literasi dan Inklusi Keuangan Jawa Tengah

Miftakhul Naim
Hamzah Fahmi
Siska Wulandari
Aliffia Rohmadiana Putri – Juara Favorit 1
Annisa Laras Rahayu – Juara Favorit 2
Lintang Prayogi – Juara Favorit 3.***

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

Verified by MonsterInsights