Pupuk Subsidi Lancar : Panen Melonjak di Cilacap, Produksi Tembus 10 Ton per Hektare

CILACAP – Produktivitas pertanian di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menunjukkan tren positif. Kelancaran distribusi pupuk subsidi yang didukung sistem digital membuat hasil panen petani di Desa Mernek, Kecamatan Maos, melonjak hingga mencapai 10 ton per hektare.
Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa akses pupuk yang mudah dan tepat waktu berperan besar dalam meningkatkan hasil produksi sekaligus mendongkrak kesejahteraan petani.
Salah satu petani setempat, Tolkhah, mengungkapkan bahwa musim panen kali ini menjadi yang terbaik dalam beberapa waktu terakhir. Dari lahan seluas dua hektare yang dikelolanya, produksi rata-rata mencapai 9,5 ton per hektare, bahkan di beberapa titik menyentuh angka 10 ton.
“Hasilnya jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Ketersediaan pupuk yang selalu ada membuat perawatan tanaman jadi maksimal,” ujarnya.
Selain ketersediaan, faktor harga pupuk subsidi yang lebih terjangkau sejak Oktober 2025 juga ikut meringankan beban petani. Dengan kebutuhan pupuk urea sekitar 75 kilogram per hektare dan pupuk NPK (Ponska) mencapai 300–400 kilogram per hektare, penurunan harga hingga 20 persen dinilai sangat membantu efisiensi biaya produksi.
“Biaya jadi lebih ringan, jadi kami bisa fokus meningkatkan kualitas tanaman,” tambah Tolkhah.
Digitalisasi Distribusi Pupuk Permudah Petani dan Kios
Tak hanya faktor harga dan ketersediaan, transformasi digital melalui aplikasi IPubers turut mempercepat dan mempermudah distribusi pupuk subsidi. Aplikasi yang dikembangkan Kementerian Pertanian bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) ini memungkinkan proses pemesanan hingga pemantauan pengiriman dilakukan secara real-time.
Pemilik kios pupuk UD Berkah Azzam di Desa Mernek, Puji Riyani, mengaku sistem baru ini membuat proses distribusi jauh lebih transparan dan efisien sejak mulai diterapkan pada April 2026.
“Sekarang pemesanan cukup lewat aplikasi. Kami bisa langsung memantau statusnya sampai pupuk dikirim. Dulu harus manual dan tidak bisa dilacak,” jelasnya.
Menurut Puji, keberadaan aplikasi tersebut juga berdampak pada ketepatan distribusi. Pasokan pupuk menjadi lebih cepat sampai ke kios, sehingga kebutuhan petani bisa segera terpenuhi tanpa kendala berarti.
Ia memastikan stok pupuk di kiosnya selalu dalam kondisi aman. Sejak mulai beroperasi pada 2025, kios miliknya belum pernah mengalami kekosongan pasokan meskipun melayani sembilan kelompok tani dengan kebutuhan cukup besar.
“Kami wajib menjaga stok minimal lima ton. Selama ini pasokan selalu datang tepat waktu sebelum habis,” katanya.
Selain itu, sistem distribusi pupuk kini juga semakin tertib melalui pendataan berbasis Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK). Proses verifikasi petani pun lebih praktis karena cukup menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) melalui aplikasi IPubers.
Dengan kombinasi antara ketersediaan pupuk, harga yang lebih terjangkau, serta dukungan teknologi digital, sektor pertanian di Cilacap diproyeksikan terus mengalami peningkatan produktivitas pada musim tanam berikutnya.
