PUSAKA Jateng 2026 Bidik Pariwisata sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

SEMARANG – Pariwisata didorong menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Jawa Tengah yang mampu memberikan dampak luas bagi masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Hal tersebut menjadi fokus utama Puncak Forum Perumusan Analisis dan Rekomendasi Kebijakan Jawa Tengah (PUSAKA JATENG) 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Semarang, Jumat (11/9/2026).

Mengangkat tema “Transformasi Pariwisata Jawa Tengah sebagai Sumber Pertumbuhan Baru yang Inklusif dan Berkelanjutan”, PUSAKA Jateng tahun ini menjadi ruang kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar pengetahuan serta merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis riset.

Puncak PUSAKA Jateng 2026 sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak Maret melalui Road to Forum PUSAKA JATENG, Call for Paper, hingga Workshop Karya Tulis Ilmiah.

Kegiatan dibuka Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho dan dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen serta Menteri Pariwisata periode 2020–2024 Sandiaga Salahuddin Uno.

Dalam sambutannya, M. Noor Nugroho mengatakan momentum pertumbuhan ekonomi dan kestabilan harga perlu terus dijaga untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah agar semakin kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

Menurutnya, terdapat sejumlah sektor ekonomi yang perlu diperkuat karena memiliki kontribusi besar maupun kemampuan menyerap tenaga kerja dalam jumlah tinggi.

“Area pertama adalah sektor ekonomi yang berkontribusi tinggi dan menjadi pondasi ekonomi, yakni sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketiga sektor tersebut perlu diperkuat melalui integrasi antara pertanian dan industri, yang didukung aktivitas perdagangan yang kuat.

Sementara area kedua adalah sektor yang berorientasi pada penyerapan tenaga kerja sekaligus memiliki pertumbuhan relatif tinggi, seperti sektor akomodasi serta makanan dan minuman.

Aktivitas sektor tersebut, lanjutnya, memiliki keterkaitan erat dengan pariwisata sehingga relevan dengan tema Puncak PUSAKA Jateng 2026.

Upaya memperkuat sumber pertumbuhan baru, menurut M. Noor, dapat dilakukan dengan mendorong peningkatan kontribusi sektor-sektor terkait. Dalam perspektif ekonomi, hal itu dapat dijelaskan melalui pendekatan fungsi Cobb-Douglas, yang menunjukkan bahwa peningkatan output dipengaruhi tiga variabel utama, yakni kapital atau investasi, tenaga kerja, serta teknologi atau inovasi.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menekankan pentingnya menjaga sekaligus meningkatkan kinerja pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.

Pariwisata, kata dia, memiliki potensi besar menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru karena mampu mendorong aktivitas ekonomi masyarakat, terutama melalui penguatan dan pemberdayaan UMKM.

Jawa Tengah juga memiliki potensi pariwisata yang beragam untuk terus dikembangkan. Salah satunya adalah wisata religi yang ditopang kekayaan sejarah, budaya, serta keberadaan berbagai destinasi dan situs religi di sejumlah daerah.

Taj Yasin juga menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan PUSAKA Jateng 2026 yang menghasilkan berbagai karya ilmiah berkualitas dan dapat menjadi bahan pendukung dalam penyusunan kebijakan ekonomi Jawa Tengah.

Dalam kesempatan yang sama, Sandiaga Uno menyoroti pentingnya melihat kualitas pariwisata tidak hanya dari jumlah kunjungan wisatawan.

Menurutnya, indikator lain yang perlu diperhatikan adalah lama tinggal wisatawan (length of stay) dan tingkat kunjungan berulang (repeat visit).

Kunjungan berulang menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur kualitas pariwisata Jawa Tengah. Semakin banyak wisatawan yang kembali berkunjung, menunjukkan adanya daya tarik dan pengalaman wisata yang mampu membuat wisatawan ingin datang kembali.

Bahas Transformasi Pariwisata

Seminar Puncak PUSAKA Jateng 2026 menghadirkan tiga narasumber, yakni Wakil Gubernur Bali periode 2018–2023 Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah Yusmanto S.Pi., M.Si., serta Wakil Ketua Bidang Pengembangan Akademik, Riset, dan Kajian ISEI Cabang Semarang Prof. Firmansyah.

Diskusi dipandu Kepala Perwakilan Bisnis Indonesia Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Farodillah Muqoddam.

Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati memaparkan pengalaman transformasi pariwisata berkualitas di Bali, khususnya dalam membangun ekosistem pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.

Sementara Yusmanto membahas pengembangan pariwisata ramah muslim berbasis desa sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru Jawa Tengah.

Adapun Prof. Firmansyah mengangkat isu optimalisasi peran pariwisata dalam mendorong kemandirian ekonomi daerah.

Selain seminar, PUSAKA Jateng 2026 juga menghasilkan karya melalui Call for Papers. Fokus kegiatan tersebut adalah menghasilkan rekomendasi implementatif untuk mendorong sumber pertumbuhan baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.

Tahun ini, Call for Papers PUSAKA Jateng berhasil menjaring enam paper terbaik dengan tema pariwisata, ekonomi kreatif berbasis pedesaan, ekonomi hijau, serta digitalisasi pemerintah daerah.

Enam karya tersebut selanjutnya disampaikan kepada pihak terkait, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, melalui penyerahan bunga rampai dan forum diskusi lanjutan.

M. Noor berharap Forum PUSAKA Jateng dapat terus menjadi wadah sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis riset.

“Sehingga memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat pondasi ekonomi Jawa Tengah untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.***

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

Verified by MonsterInsights