Satu Dekade Jaga Konsistensi, PWI Jateng-FH Unissula Cetak Lulusan Berintegritas di Sekolah Jurnalistik Angkatan 27

SEMARANG — Memasuki satu dekade perjalanan kolaborasi, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah kembali menggandeng Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang dengan menggelar Sekolah Jurnalistik Angkatan XXVII.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Sabtu (6/6/2026) ini diikuti oleh 91 mahasiswa FH Unissula lintas jalur—mulai dari kelas reguler, karyawan eksekutif, hingga program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Hadir dalam pembukaan ini, Wakil Dekan I FH Unissula Dr Ida Musofiana SH MH yang mewakili Dekan Prof Dr Jawade Hafidz SH MH. Turut mendampingi Wakil Dekan II Dr Muhammad Ngazis SH MH, Kaprodi S1 Ilmu Hukum Dr M Rizal Bagaskoro SH MH, serta Sekretaris Prodi S1 Ilmu Hukum Aditya Noviansyah SH MH.
Sementara dari pihak PWI Jateng, hadir Ketua PWI Jateng Setiawan Hendra Kelana, Ketua Dewan Kehormatan PWI Jateng sekaligus pemateri utama Amir Machmud NS, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Alkomari, serta jajaran pemateri kompeten lainnya seperti R Widiyartono, Zaenal Muttaqin, dan Budi Sutomo.
Ketua PWI Jateng, Setiawan Hendra Kelana, menegaskan, pelaksanaan Sekolah Jurnalistik Angkatan XXVII ini merupakan wujud komitmen bersama antara PWI dan FH Unissula. Agenda tahunan ini dirancang khusus untuk membekali para calon sarjana hukum agar mampu menguasai literasi media dan keterampilan menulis secara profesional.
“Angkatan ke-27 ini menjadi penanda kuat. PWI dan FH Unissula satu frekuensi yaitu saat lulus dan bekerja nanti, peserta menguasai hukum pers, kode etik, menulis artikel, hingga konvergensi media yang kini rawan hoaks dan doxing. Kemampuan menulis pendapat hukum (legal opinion) akan menempa mereka menjadi lawyer yang tangguh dan disegani di dunia kerja,” tegas Iwan, panggilan akrabnya.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan I FH Unissula, Dr Ida Musofiana, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas hubungan erat yang telah terjalin dengan PWI Jateng sejak tahun 2016. Menurutnya, menembus Angkatan ke-27 dalam kurun waktu 10 tahun bukanlah perkara mudah.
“Angka 27 merupakan simbol kedewasaan, di mana program ini sudah teruji dan terlatih. Pondasinya sudah kokoh dan kuat. Dirintis sejak 2016, satu dekade ini bukan angka yang sedikit untuk sebuah konsistensi,” ujar Ida.
Ida menambahkan, sebagai bagian dari rumpun ilmu sosial humaniora, mahasiswa hukum dituntut peka terhadap dinamika peradaban yang kini bergerak cepat dari era Industri 4.0 menuju era Society 5.0. Di era digital ini, lompatan teknologi informasi tidak jarang memicu gesekan sosial hingga badai disinformasi (hoaks) di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, pihak fakultas menekankan bahwa kemampuan menulis yang beretika adalah senjata mutlak bagi para lulusan hukum di masa depan, baik mereka yang akan berkarier sebagai akademisi, praktisi hukum (hakim, jaksa, pengacara), demokrat hukum, maupun penggerak masyarakat.
*Orisinal dan Akurat*
Melalui Sekolah Jurnalistik bersama PWI ini, FH Unissula ingin memastikan setiap karya tulis ilmiah yang dihasilkan mahasiswa memiliki orisinalitas tinggi dan akurasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun hukum.
“Lulusan FH Unissula dituntut memiliki kompetensi mumpuni, dan salah satunya adalah kemampuan menulis. Dengan bimbingan langsung dari PWI, kami berharap mahasiswa memiliki integritas dan etika yang kuat, sehingga melahirkan karya tulis yang berkualitas, objektif, dan bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Ini adalah kawah candradimuka mahasiswa FH Unissula untuk mengasah kemampuan berjurnalistik,” tandas Ida.
Sesi materi berlangsung berbobot. Ketua Dewan Kehormatan PWI Jateng, Amir Machmud NS, membedah tuntas Hukum Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Dalam paparannya, dia melayangkan peringatan keras mengenai bahaya Anarki Jurnalistik—kondisi di mana produk informasi diproduksi tanpa standar UU Pers dan KEJ, yang dampaknya bisa menghancurkan reputasi seseorang maupun institusi dalam sekejap.
Amir juga menguliti fenomena kecerdasan buatan (AI) mengacu pada Peraturan Dewan Pers No. 1/2025.
“Ingat, AI hanyalah asisten, bukan pengganti! Kendali moral dan akurasi tetap ada di tangan wartawan demi menjaga kredibilitas produk informasi,” tegas Amir.
Di sisi lain, Zaenal Muttaqin membongkar rahasia konvergensi media. Di era di mana teks, gambar, suara, dan video melebur dalam satu platform digital, Zaenal membagikan taktik jitu bagaimana media harus adaptif melalui penguatan kapasitas SDM dan kreasi konten yang memikat telinga dan mata publik.
Gaya penulisan yang memikat dikupas habis oleh R. Widiyartono. Asesor Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) ini menularkan ilmu tingkat tinggi: mulai dari cara memburu ide segar, meracik judul yang menendang dan provokatif, hingga teknik menyusun intro (lead) yang mengikat pembaca sampai kalimat terakhir.
Sebagai pamungkas, Budi Sutomo menutup kelas dengan materi krusial bagi calon penegak hukum: anatomi pembuatan Legal Opinion (nasihat hukum). Budi mengingatkan bahwa sebagian besar napas pekerjaan seorang advokat dan konsultan hukum habis di meja kerja untuk menyusun legal opinion.
“Penguasaan teori, regulasi, serta ketajaman menafsirkan pasal demi pasal perundang-undangan adalah taruhan utama bagi reputasi seorang profesional hukum. Salah analisis, taruhannya adalah nama baik,” pungkas Budi.***
