Berburu Gethuk Lindri, Kuliner Legendaris yang Mulai Langka

Gethuk
one-stop-property-new
Saidi, salah satu pedagang gethuk lindri di bilangan Jl Raden Patah, Semarang.

SEMARANG – Mencari gethuk lindri keliling saat ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Padahal dahulu saat kecil para penjual gethuk ini biasa keliling depan rumah.

Warna-warni gethuk lindri dan rasanya yang enak, sekaligus empuk membuat siapa saja rindu untuk memakannya.

Penjual gethuk lindri yang berkeliling sambil diiringi lagu-lagu campursari ataupun dangdut juga membuatnya memiliki kesan tersendiri.

Saat Zonapasar.com berusaha mencari kuliner tradisional ini membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum menemukan Saidi, salah satu pedagang gethuk lindri di bilangan Jl Raden Patah, Semarang.

“Saya berjualan Gethuk Lindri sudah lebih dari 15 tahun mas. Dari tahun 2000 saya sudah berkeliling menjajakan gethuk ini mas,” ujarnya, Sabtu (7/9/19).

Benar saja, Saidi masih mempertahankan bentuk dari Gethuk Lindri tersebut. Seperti gerobak yang dilengkapi sound pengeras suara sebagai pengundang pembeli.

“Kalau lagunya ndak ada khususnya harus apa. Tapi memang biasanya lagu dangdut kalau nggak campursari,” terangnya.

Ditanya kenapa dinamakan Lindri, Saidi menerangkan bahwa sebutan itu lantaran Gethuk yang memiliki bentuk seperti tumpukan mie.

“Ya karena sebelum dipotong-potong bentuknya seperti tumpukan mie yang menjalar. Mungkin dari situ sebutan Lindrinya,” imbuhnya.

Saidi menerangkan pembuatan gethuk ini tak jauh berbeda dengan membuat gethuk lainnya. Mulai dari pengupasan singkong sebagai bahan dasar, kemudian ditumpuk dan dicetak.

“Kalau warnanya, Gethuk Lindri seringnya warna merah stroberi, hijau pandan, Coklat, dan yang original. Penyajiannya dicampur parutan kelapa dan ditaburi gula pasir,” katanya.

Saat ini, pria asal Boyolali ini menjual setiap potong Gethuk Lindrinya dengan harga Rp 500. Dalam seharinya, dia mempu menjual kurang lebih 800 poting gethuk Lindri semua rasa.

“Dulu awal saya jualan seribu rupiah dapat 5 potong. Jadi sepotongnya Rp 200. Setiap hari jualan dari jam 10.00 sampai 18.00. Alhamdulillah setiap hari habis,” ucapnya.

Setiap harinya, dirinya mengaku setiap hari menjajakan jajannya di kawasan Kaligawe hingga Terboyo Semarang.

“Penjual Gethuk Lindri di kawasan sini tinggal 7 saja termasuk saya mas. Kalau dulu banyak karena masih populer. Tapi saat ini sangingannya banyak jajanan lain,” pungkasnya. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here