Bus Wisata Diminta Lakukan Penyesuaian Normal Baru

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memberikan keterangan kepada wartawan di Semarang.

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo minta pengusaha bus pariwisata melakukan penyesuaian terhadap kenormalan baru. Itu bisa dilakukan dengan membuat protokol khusus saat hendak naik angkutan wisata.

“Tidak sulit kok caranya, yang penting bus harus bersih, apakah itu (bus) dipasangi UV atau dipasangi air purifying. Bisa juga sopir dan kondekturnya pakai APD, ataukah jaraknya diatur dan wajib pakai masker,” kata Ganjar.

Menurutnya, semua bidang usaha tak terkecuali pariwisata memang harus berubah karena wabah Corona. Ia menyadari, sektor wisata paling terpengaruh Covid-19. Banyak pengusaha transportasi wisata yang tak mengoperasikan armadanya. Namun demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersiap melakukan kenormalan baru di bidang wisata.

“Seiring beberapa daerah telah menurun (tingkat penularan) kita dengan hati-hati melakukan simulasi. Kami harap Anda (pengusaha bus wisata), bisa ikut menjadi bagian, terkait prosedur normal baru (di bidang transportasi wisata),” urainya.

Ganjar menjelaskan, satu objek wisata yang akan melakukan simulasi Normal Baru adalah Borobudur. Di Candi Budha yang terletak di Magelang itu, akan disimulasikan bagaimana protokol wisatawan memasuki destinasi.

“Jumlah pesertanya (simulasi) 50 orang. Setelahnya, akan dilakukan evaluasi apakah destinasi tersebut bisa dibuka tapi terbatas, mekanisme masuknya bagaimana, kemudian pelindung diri yang digunakan. Besok akan kita lihat,” papar Ganjar.

Menanggapi hal itu, Ketua Harian Aspatria Jateng Kuswidyo Aji mengamininya. Ia mengaku siap menyesuaikan armada yang dimiliki oleh asosiasi dengan kenormalan baru.

“Insyaallah kita siap untuk menyikapinya, apakah itu dengan mengurangi kapasitas bus jadi separuh ataukah dengan pemasangan (penyekat) mika. Kita akan bicarakan dengan asosiasi. Proses ini (normal baru) juga perlu kerja sama dengan biro, hotel dan restoran,” bebernya.

Kuswidyo memaparkan, sejak pandemi Covid-19 sekitar 1.000 armada bus pariwisata terpaksa tak mengaspal. Hal itu juga berimbas pada kru bus wisata yang otomatis menganggur, akibat hal tersebut. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here