Cerita Haru Perantau Karanganyar 25 Tahun Jualan Bakso di Jakarta Ikut Mudik Gratis

JAKARTA – Di tengah hiruk pikuk program Mudik Gratis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (16/3/2026), sebuah momen sederhana justru mencuri perhatian.
Seorang pemudik tiba-tiba menyodorkan sebungkus bakso kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Bukan sekadar makanan, bingkisan itu adalah simbol rasa terima kasih dari seorang perantau yang puluhan tahun berjuang hidup di Ibu Kota.
Suasana di area parkir Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII, siang itu dipenuhi ratusan pemudik yang bersiap pulang ke kampung halaman. Gubernur Ahmad Luthfi tampak menyusuri deretan bus, menyapa satu per satu peserta mudik gratis.
Ketika sampai di bus nomor 21 tujuan Kabupaten Karanganyar, ia berhenti di kursi seorang pemudik bernama Lulik Setiyawan. Percakapan santai pun terjadi.
“Kamu pekerjaannya apa? Sudah ikut mudik gratis berapa kali?” tanya Ahmad Luthfi.
Lulik menjawab dengan senyum. Ia mengaku sebagai pedagang bakso keliling di kawasan Jakarta Selatan. Program mudik gratis itu bukan hal baru baginya. Sejak 2016, ia hampir selalu ikut program tersebut untuk pulang ke kampung halaman di Karanganyar.
Namun di tengah percakapan itu, tiba-tiba Lulik menyodorkan sebuah kantong plastik berisi bakso kepada sang gubernur.
“Pak, ngapunten. Niki kula damelke khusus kagem Pak Gubernur (Pak mohon maaf. Ini saya buatkan khusus buat Pak Gubernur),” ucapnya dalam bahasa Jawa halus, sambil tersenyum.
Ahmad Luthfi pun tertawa hangat menerima bingkisan sederhana tersebut. Ia kemudian membalas dengan memberikan paket makanan ringan sebagai bekal perjalanan bagi Lulik.
“Top, dikasih bakso aku. Besok baliknya ikut program Balik Rantau Gratis juga? Bisa ngirit dong. Yang penting senang dan sehat,” kata Ahmad Luthfi.
Di balik sebungkus bakso itu, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang perantau. Lulik sudah hampir 25 tahun hidup di Jakarta. Setelah lulus sekolah, ia mengikuti orang tuanya yang lebih dulu merantau ke ibu kota. Awalnya ia bekerja serabutan sambil membantu orang tua berjualan bakso.
Setelah menikah pada 2012, Lulik memutuskan membuka usaha sendiri sebagai pedagang bakso keliling. Sementara sang istri ikut menopang ekonomi keluarga dengan berjualan jamu keliling.
“Hampir 25 tahun jualan. Dulu ikut orang tua, terus sempat kerja serabutan, akhirnya setelah menikah baru jualan bakso sendiri,” ujarnya.
Penghasilan kotor dari berjualan bakso keliling rata-rata sekitar Rp 5 juta per bulan. Namun angka itu masih harus dipotong berbagai kebutuhan hidup di Jakarta.
Ia menyewa rumah kontrakan kecil bersama istri dan anak-anaknya dengan biaya Rp 800 ribu per bulan. Jika ditambah kebutuhan makan, listrik, dan air, total pengeluaran rumah tangga bisa mencapai sekitar Rp 1 juta per bulan. Belum lagi biaya sekolah anak yang harus terus dipenuhi.
Ketika musim Lebaran tiba, beban pengeluaran biasanya semakin berat. Harga tiket bus menuju Karanganyar bisa mencapai Rp 600 ribu per orang.
“Kalau mudik bayar sendiri ya berat. Makanya program mudik gratis ini sangat membantu sekali,” katanya.
Kisah serupa juga dialami Bejo Fauzan, pedagang bakso asal Jatiyoso, Karanganyar, yang kini berjualan di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Bejo sudah merantau sejak 1994. Perjalanan usahanya dimulai dari yang paling sederhana.
Awalnya ia berjualan bakso menggunakan pikulan. Lalu beralih menggunakan sepeda ontel, kemudian memakai gerobak dorong keliling. Setelah bertahun-tahun berjuang, ia akhirnya bisa membuka warung kaki lima. Kini Bejo bahkan mampu menyewa sebuah bangunan kecil untuk berjualan.
“Di sini baru empat tahun. Dulu warung tempel di depan situ, kemudian dapat kontrak bangunan ini. Sewanya Rp 3,5 juta per bulan,” katanya. Pendapatan kotor dari usahanya berkisar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per bulan.
Meski sudah puluhan tahun merantau, baru tahun ini Bejo mengetahui adanya program mudik gratis dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Informasi itu ia dapat dari Lulik.
“Baru tahu tahun ini dari Mas Lulik, lalu saya minta tolong didaftarkan sekeluarga,” katanya. Biasanya setiap Lebaran ia harus membeli tiket bus seharga Rp 600 ribu per orang untuk pulang kampung.
“Alhamdulillah ada mudik gratis. Lumayan uangnya bisa buat beli susu anak dan bekal lebaran di kampung,” ujarnya.
Di tengah kerasnya kehidupan perantauan, sebungkus bakso yang diberikan Lulik kepada gubernur mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya tersimpan cerita panjang tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan para perantau untuk tetap bisa pulang ke kampung halaman tanpa beban biaya yang berat.*
