Cinta Abadi Rama Shinta Hadirkan Pesan Kesetiaan dan Pelestarian Tradisi

SEMARANG – Kisah cinta Rama dan Shinta kembali hidup di tengah suasana senja Kota Semarang. Sanggar Greget Semarang menghadirkan sendratari Cinta Abadi Rama Shinta di Malibu Seafood Deck, POJ City Marina, Jumat (25/9/2026).
Pertunjukan berlangsung ketika matahari mulai tenggelam. Nuansa senja menjadi latar yang memperkuat kisah Rama dan Shinta, yang diperankan Maestro Tari Yoyok Bambang Priyambodo dan Nabila Najwa Rafeyfa.
Sendratari yang disutradarai Sangghita Anjali dan dikoreografi sekaligus dikomposeri Canadian Mahendra itu mengangkat kisah Ramayana dengan sajian yang ringkas, dinamis, dan sarat simbol.
Cerita bermula di Hutan Dandaka. Rahwana, Raja Alengka yang diperankan Joko Suratno, berupaya mendapatkan Shinta. Ia menggunakan siasat dengan mengubah Kalamarica atau Cakil, yang diperankan Gustav Ilyasa, menjadi Kijang Kencana yang dimainkan Ratu Gayatri.
Gerakan Kijang Kencana yang lincah dan ekspresif berhasil menarik perhatian Shinta. Rama kemudian mengejarnya, hingga Rahwana memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membawa Shinta ke Alengka.
Rama yang setia kepada Shinta kemudian berusaha membebaskannya dengan bantuan Hanoman, diperankan Canadian Mahendra. Pertempuran pun terjadi antara Hanoman dan para prajurit Alengka, yang diperankan Nawfal Arfan Wildan dan Fabio Rizqi, serta para raksasa yang diperankan Azhar Ghani dan Muhammad Azzam.
Rahwana yang murka memerintahkan agar Hanoman dibakar. Namun, kesaktian Hanoman, putra Dewi Anjani dan Batara Bayu, justru membuat api membakar sebagian Kerajaan Alengka.
Maestro Tari Yoyok Bambang Priyambodo mengatakan, pementasan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni tradisi Jawa Tengah sekaligus meneruskan estafet kesenian kepada generasi muda.
“Pementasan ini merupakan karya nyata yang berkesinambungan dari generasi ke generasi sebagai tongkat estafet dalam mengekspresikan tari dan karawitan,” katanya.
Menurut dia, pertunjukan tersebut juga menjadi cara untuk mengenalkan seni tradisi kepada masyarakat dan mengajak pengunjung menghargai karya seni bangsa yang memiliki nilai adiluhung.
Sementara itu, Sangghita Anjali mengatakan alur cerita sengaja dikemas lebih padat agar dapat dinikmati dalam durasi yang tidak terlalu panjang, namun tetap mempertahankan inti cerita Ramayana karya Mpu Walmiki.
“Cerita ini penuh makna dan simbolis tentang kehidupan dan kesetiaan,” ujarnya.
Pementasan tersebut juga menjadi bentuk kolaborasi antara Sanggar Greget sebagai pelaku seni dan Malibu Seafood sebagai destinasi wisata kuliner. Kolaborasi itu diharapkan dapat memperkuat atraksi wisata berbasis budaya di Kota Semarang.
Pimpinan produksi Hasya Alvinki mengatakan pertunjukan seni budaya perlu terus digelar untuk memperkaya wajah pariwisata Semarang.
“Semarang tidak hanya menjadi kota jajan, tetapi juga kota budaya dengan berbagai atraksi yang menarik, salah satunya pementasan Sendratari Ramayana,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kota Semarang melalui dinas yang membidangi kesenian dan kebudayaan dapat terus menyediakan ruang, wadah, serta fasilitasi bagi sanggar-sanggar untuk menampilkan karya seni budaya.
Bagi Gustav Ilyasa, keterlibatannya dalam pertunjukan tersebut menjadi pengalaman sekaligus bentuk kontribusi sebagai generasi muda dalam menjaga seni tradisi.
“Saya sangat senang dan bangga terlibat dalam pementasan ini sebagai penari muda yang sekaligus ikut melestarikan dan mengembangkan seni budaya, khususnya seni tari,” ujarnya.***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.