Dari Semarang hingga Demak, GPM Perkuat Stabilitas Harga Pangan

SEMARANG – Upaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan terus diperkuat di Jawa Tengah. Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di sejumlah wilayah, di antaranya melalui program Kempling Semar di Kota Semarang dan GPM di Kabupaten Demak.
Di Kota Semarang, Pemerintah Kota Semarang bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah dan TPID sukses menggelar GPM Serentak melalui program Kempling Semar atau Ketahanan Pangan Keliling Semarang di 16 kecamatan.
Puncak kegiatan GPM Serentak dipusatkan di halaman Kantor Kecamatan Banyumanik pada Senin (31/8/2026). Program tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga komoditas pangan pokok yang bergejolak sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.
Selama Agustus 2026, Kempling Semar telah menjangkau 729 RW dari total 1.532 RW di Kota Semarang. Dalam pelaksanaannya, sebanyak 80 ton beras SPHP dan 35.040 liter minyak goreng disalurkan kepada masyarakat.
Selain beras dan minyak goreng, masyarakat juga dapat memperoleh berbagai komoditas pangan strategis, seperti gula pasir, telur ayam ras, aneka cabai, bawang merah, bawang putih, serta sayuran segar. Total nilai transaksi selama pelaksanaan GPM serentak di tingkat RW mencapai Rp128,12 juta.
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, GPM Kota Semarang melalui sinergi program Pak Rahman dan Kempling Semar telah dilaksanakan di 1.085 titik dengan total omzet mencapai Rp5,01 miliar.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng mengatakan, pendekatan stabilisasi harga berbasis wilayah permukiman terbukti efektif dalam mendekatkan pasokan pangan kepada masyarakat sekaligus meredam gejolak harga di tingkat konsumen.
“Pemerintah Kota Semarang terus berkomitmen memfasilitasi akses pangan yang berkualitas dan terjangkau langsung ke lingkungan warga melalui Kempling Semar,” ujarnya.
Menurut dia, kolaborasi bersama Bank Indonesia dan 14 mitra penyedia pangan strategis tidak hanya bertujuan menjaga ketersediaan kebutuhan pokok, seperti beras dan minyak goreng, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan keluarga serta menggerakkan perekonomian lokal melalui keterlibatan pelaku UMKM daerah.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari H., mengatakan, sinergi antara TPID Kota Semarang dan Bank Indonesia merupakan langkah proaktif dan terukur dalam pengendalian inflasi daerah.
Menurutnya, pelaksanaan GPM tidak hanya memperkuat kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan pangan, tetapi juga mengintegrasikan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran melalui penggunaan QRIS.
“Sinergi antara TPID Kota Semarang dan Bank Indonesia melalui kerangka Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera merupakan wujud langkah proaktif dan terukur dalam mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat,” tuturnya.
Penyelenggaraan GPM Serentak Kempling Semar turut didukung 14 mitra strategis penyedia pangan, di antaranya Perum BULOG Kantor Cabang Semarang, PT Jateng Agro Berdikari, PT Rajawali Nusindo, PT Indoguna, BUMD PT Bhumi Pandanaran Sejahtera, BUMP PT Lumpang Semar Sejahtera, serta sejumlah distributor komoditas pangan lokal.
Rangkaian kegiatan tersebut juga diisi dengan penyerahan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD), peluncuran program budidaya pekarangan keluarga Bulir Padi di Kelurahan Jangli dan Mijen, penyerahan Sertifikat Zona KHAS atau Kuliner Halal, Aman, dan Sehat, serta bazar produk olahan UMKM setempat.
Upaya serupa juga digelar di Kabupaten Demak. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengadakan GPM di halaman Kantor LPP TVRI Jawa Tengah, Pucang Gading, Kabupaten Demak, Rabu (2/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari sinergi pelaksanaan GPM dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-64 LPP TVRI Jawa Tengah.
GPM tersebut diprakarsai Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan LPP TVRI Jawa Tengah, Badan Pangan Nasional, Pemerintah Kabupaten Demak, serta didukung Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah.
Melalui kegiatan itu, masyarakat dapat memperoleh berbagai komoditas pangan pokok strategis dengan harga terjangkau, bahkan di bawah harga pasar. Komoditas yang disediakan antara lain beras SPHP, minyak goreng Minyakita, gula pasir, daging ayam beku, telur ayam ras, cabai rawit merah, cabai merah keriting, bawang merah, dan bawang putih.
Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah juga menggelar tebus murah untuk komoditas telur ayam ras dengan transaksi menggunakan QRIS. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya stabilisasi harga sekaligus mendorong penggunaan pembayaran digital yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Selain kebutuhan pokok, GPM di Demak juga menyediakan beragam pangan lokal bersubsidi dan produk hilirisasi pangan daerah. Produk yang ditawarkan antara lain beras organik, beras analog berbahan jagung dan singkong, hingga aneka produk olahan mocaf. Kehadiran produk tersebut diharapkan dapat mendorong penganekaragaman konsumsi pangan masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengatakan Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung langkah pemerintah daerah dan TPID dalam menjaga stabilitas inflasi pangan.
Menurutnya, penguatan ketersediaan pasokan melalui operasi pasar dan GPM merupakan bagian dari Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
“Upaya tersebut diharapkan mampu mengarahkan ekspektasi inflasi masyarakat sekaligus menjaga daya beli secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Melalui sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, TPID, dan berbagai pemangku kepentingan, strategi pengendalian inflasi terus diperkuat melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Dengan langkah tersebut, inflasi Indeks Harga Konsumen Jawa Tengah pada 2026 diharapkan tetap rendah dan terkendali dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5 ± 1 persen, sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.