Enam SPM Diterapkan, Posyandu Jateng Didorong Lebih Responsif bagi Warga

SEMARANG – Sebanyak 20.521 Posyandu di Jawa Tengah telah bertransformasi dengan menerapkan enam bidang standar pelayanan minimal (SPM). Namun, transformasi tidak cukup hanya ditandai dengan bertambahnya jenis layanan. Setiap Posyandu didorong menghadirkan pelayanan yang benar-benar berdampak, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin menegaskan, transformasi Posyandu enam SPM bukan sekadar menggelar meja pelayanan. Lebih dari itu, diperlukan perubahan pendekatan agar Posyandu mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Transformasi enam layanan ini bukan hanya menggelar meja, tapi bagaimana kita melalukan perubahan-perubahan pendekatan,” katanya, dalam Rapat Koordinasi Tim Pembina Posyandu Kabupaten/Kota se-Jateng, di Grhadika Bhakti Praja, Senin (2/11/2026).

Berdasarkan data Sistem Informasi Posyandu (SIP), dari total 49.149 lembaga Posyandu di Jateng, sebanyak 20.521 telah bertransformasi melayani enam bidang SPM. Sementara itu, 2.256 lembaga telah terdaftar dalam register Kemendagri. Adapun Posyandu lainnya masih dalam proses penerapan enam SPM.

Nawal mengatakan, transformasi tersebut mulai mendorong lahirnya berbagai inovasi pelayanan di daerah. Salah satunya di Kota Surakarta yang mengembangkan pendekatan berbasis digital, serta menghadirkan inovasi layanan konseling.

Melalui enam bidang SPM, Posyandu kini memiliki cakupan pelayanan yang lebih luas, meliputi pendidikan, kesehatan, sosial, pekerjaan umum, perumahan rakyat, serta ketenteraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat (trantibumlinmas).

Karena itu, istri Wakil Gubernur Jateng tersebut berharap kader Posyandu dapat menjadi ujung tombak yang mampu mengidentifikasi kebutuhan warga, sekaligus mendekatkan akses pelayanan.

“Kemudian juga kita harus bagaimana transformasi ini ini menjadi simpul pelayanan masyarakat, yang mampu mengidentifikasi kebutuhan warga. Juga kita bisa mendekatkan akses Posyandu ini kepada masyarakat,” ucap Nawal.

Selain memberikan pelayanan langsung, setiap Posyandu juga diharapkan menjadi penghubung antara masyarakat, dengan berbagai program pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya.

“Kita juga bisa mendekatkan akses Posyandu ini kepada masyarakat, serta bagaimana kita terus menghubungkan masyarakat dengan program-program pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya yang terkait,” imbuh Ketua TP PKK Jateng ini.

Untuk mendorong peningkatan kualitas layanan, Nawal menekankan pentingnya sinergi dengan berbagai pihak, termasuk kampus melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kolaborasi tersebut sejalan dengan semangat collaborative governance, yang dijalankan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin.

Sebagai tindak lanjut, Tim Pembina Posyandu Jawa Tengah menyepakati kerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Walisongo.

Dalam kegiatan tersebut, Nawal juga menyerahkan penghargaan kepada sejumlah Posyandu tingkat kabupaten/ kota, kecamatan, dan desa/ kelurahan, atas inovasi pelayanan enam SPM yang telah dilakukan.
Pada kesempatan yang sama, Nawal mendampingi Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) atas rekor pengumpulan minyak jelantah oleh ASN dan pegawai BUMD terbanyak, yang melibatkan 60.680 pegawai, dengan total pengumpulan mencapai 31.032,44 liter. Penghargaan diserahkan oleh Senior Representative Muri, Ari Adriyani.
Wagub Taj Yasin mengapresiasi capaian transformasi Posyandu enam SPM di Jawa Tengah. Dia meminta seluruh layanan yang telah tersedia terus dioptimalkan, agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kader-kader Posyandu ini luar biasa tugasnya, melebihi gubernur, bupati, dan wali kota. Dan kader-kader inilah yang membantu kita sebenarnya,” pungkasnya.*

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

Verified by MonsterInsights