Pedagang Kelelawar di Semarang Santai Meski Ada Virus Corona

SEMARANG – Pedagang kelelawar di Kota Semarang, Jawa Tengah tidak ambil pusing dengan adanya kasus virus corona yang diakibatkan oleh kelelawar.

Pedagang Kelelawar di Pasar Burung Karimata, Jl Purwosari Raya, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Semarang, Marimin misalnya.

Ia tidak percaya apabila, virus corona yang merebak di China dan mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia karena dipicu oleh kelelawar.

Menurutnya, selama bertahun-tahun ia berjualan tidak pernah terkena sakit karena kelelawar ataupun kalong. Ia juga menjumpai tidak ada pembeli yang mengeluh sakit.

“Saya sudah jualan kelelawar selama tujuh tahun gak pernah kena penyakit apa-apa. Makannya (kelelawar) juga cuma buah, jadi gak sembarangan yang dimakannya,” kata Marimin, Senin (3/2/20).

Dia mengatakan, virus corona yang sudah menjalar ke berbagai belahan dunia itu memang memberikan dampak pada omzet penjualan kelelawarnya.

Sebelum ada virus tersebut, kata dia setiap harinya hampir ada pelanggan yang selalu pesan kelelawar maupun kalong.

“Seminggu ini pembeli sedikit, biasanya ada yang menghubungi saja untuk pesan,” katanya.

Sutaryadi, yang juga pedagang kelelawar di Pasar Burung Karimata itu menyampaikan hal yang sama. Menurutnya apabila benar virus tersebut diakibatkan oleh kelelawar, tentu pedagang yang akan terkena lebih dulu.

“Kalau memang isunya begitu pasti sudah dari dulu ada dan pedaganganya pertama kali yang kena mas,” ucapnya.

Adapun Sutaryadi biasa menjual satu ekor kelelawar dengan kisaran harga Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Namun, harga tersebut tergantung ukuran masing-masing kelelawar.

“Biasanya yang beli dipakai untuk obat. Mereka percaya kalau kelelawar bisa digunakan untuk obat asma,” pungkasnya. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here