one-stop-property-new

Perhimpunan INTI Jateng Peduli Terhadap Anak Autis Indonesia

0
one-stop-property-new

SEMARANG – Masyarakat Jawa Tengah, khususnya di kota Semarang, diajak untuk peduli akan keberadaan anak-anak autis. Sampai kini, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak tahu dan kurang peduli terhadap para penyandang autis.

Untuk meningkatkan kepedulian kepada anak-anak autis, Perhimpunan Indonesia Tionghoa Indonesia (INTI) Jawa Tengah bekerjasama dengan Komunitas Sahabat Difabel (KSD) akan menyelenggarakan Charity Seminar bertajuk “Meningkatkan Komunikasi dan Sosialisasi pada Anak dengan Autisme”.
Seminar ini akan menghadirkan Dr. Thomas Layton, PhD, Profesor Speech-Language Pathology dari Amerika Serikat yang sudah berpengalaman di bidang autisme selama 40 tahun.

“Baru pertama kali di Jawa Tengah digelar Caharity Seminar Autis dengan mengundang seorang pakar dari Amerika Serikat untuk membantu anak-anak autis, agar lebih mandiri, tentu ini sangat bermanfaat,” tutur Ketua Perhimpunan INTI Jateng, Gouw Andy Siswanto.

Acara tersebut akan diadakan pada hari Kamis tanggal 18 Juli 2019 di Aula Dinas Sosial (Dinsos Jateng), Jalan Pahlawan Nomor 12, Kota Semarang. Berlangsung mulai pukul 12.00 – 17.30 WIB. Peserta seminar tidak dipungut biaya dan akan mendapat Sertifikat.

“Autisme & Seluk Beluk Problem Sosial Komunikasi” dan “Meningkatkan Komunikasi pada Anak dengan Autisme” adalah dua materi sangat menarik yang akan dipaparkan secara gamblang dalam acara Charity Seminar.

Narasumber penting lain adalah Lany Setyadi (Founder Komunikasi Sahabat Difabel Ketua Yayasan Yogasmara, Autisme Center, Semarang), dan Gouw Andy Siswanto (Ketua Perhimpunan INTI yang juga Managing Director Global Elektronik Semarang). Sebagai Moderator dan Translator adalah Sielvy Megawaty S.Pd. Charity Seminar ini digelar untuk menggugah kepedulian masyarakat terhadap autisme, karena masih banyak masyarakat kita yang belum paham tentang autis.

Perhimpunan INTI

Perhimpunan INTI didirikan berdasarkan KEPUTUSAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA, NOMOR AHU-0000159.AH.01.08.TAHUN 2018, TENTANG PERSETUJUAN PERUBAHAN BADAN HUKUM PERKUMPULAN PERKUMPULAN PERHIMPUNAN INDONESIA TIONGHOA. Perhimpunan Indonesia-Tionghoa [INTI] di deklarasikan pada tanggal 10 April 1999. Sebagai organinsasi kebangsaan, Organisasi non partisan dan independen. Saat ini, di Indonesia INTI telah memiliki 59 Cabang di 13 provinsi, dan di Jawa Tengah ada 8 cabang.

Ketua Umum Perhimpunan INTI, TEDDY SUGIANTO, menjelaskan, visi dan misi INTI adalah menjadi organisasi maju, modern, bercitra internasional, beroriantasi pada kebangsaan Indonesia. Menghargai hak asasi manusia, egaliter, pluralis, inklusif, demokrasi dan transparan. Berperan aktif dalam dinamika kebangsaan.

Dengan proses pembangunan bangsa, antara lain pemikiran masalah Tionghoa di Indonesia menuju terwujudnya Bangsa Indonesia yang kokoh. Rukun, bersatu dalam keharmonisan. Kebhinekaan, saling menghargai dan saling percaya.

Perhimpunan INTI juga merangkul PEREMPUAN hebat yang bernama PINTI (Perempuan Indonesia-Tionghoa). Perempuan turut memperkokoh keluarga, dan banyak kegiatan, seperti seni budaya, kesehatan, sosial kemanusiaan, hukum dan hak-hak asasi manusia.

Didalam INTI juga ada GEME (Generasi Muda Indonesia Tionghoa), yang berdiri sejak tanggal 2 Mei 2008. Ini untuk melatih generasi muda dan meluncurkan program beasiswa PELANGI, tujuannya untuk mencegah anak putus sekolah.

“INTI adalah sebuah organisasi yang lahir oleh semangat dan kesadaran dasar bahwa setiap warga negara harus di perlakukan sama di depan hukum dan undang-undang, mendapat pelayanan yang sama oleh negara dan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab sama pula,” kata Andy, Ketua INTI Jawa Tengah.

Tanpa ada perbedaan asal usul, keturunan, suku, gender, status sosial, agama, dan kepercayaan, hanya kebersamaan itulah INTI yakin Indonesia akan maju dan berjaya. (ZP/07)

Tinggalkan pesanan

email kami rahasiakan