Wali Kota Semarang: Dugderan Ajang Bersatu Pasca Pemilu

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi beserta istri, Krisseptiana Hendrar Prihad dalam Kirab budaya Dugderan Semarang, Sabtu (4/5/19).

SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi membuka langsung kirab budaya Dugderan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1440 H, di halaman Balai Kota Semarang, Sabtu (4/5/19).

Wali Kota Semarang yang memerankan sebagai Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat itu menabuh beduk berkali-kali sebagai tanda dimulainya Dugderan tersebut.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, pemerintah Kota Semarang akan selalu menjaga dan melestarikan tradisi kirab budaya Dugderan itu, karena merupakan warisan dari Bupati Pertama Semarang, Ki Ageng Pandan Arang.

Pada saat itu, kata dia Ki Ageng Pandan Arang menggelar rapat dengan para ulama, dan menyampaikan masyarakat bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan puasa.

“Diharapkan warga Kota Semarang bersih-bersih diri, mempersiapkan fisik dan tidak kalah penting perbanyak hal positif karena menjadi amalan yang dilipat gandakan Allah SWT,” kata Hendi di sela-sela kegiatan Dugderan tersebut.

Disebutnya, kegiatan Dugderan kali ini juga menjadi ajang memperkuat silaturahmi sesama warga Kota Semarang, yang sebelumnya terjadi perbedaan pandangan politik dalam mendukung calon-calon legislatif maupun presiden.

“Beberapa waktu lalu ada dukung mendukung ke beberapa calon, lewat kegiatan seperti Dugderan melebur jadi satu, kita satu warga bangsa Indonesia, satu sedulur Kota Semarang harus kompak bersama membangun kota yang dicintai dan banggakan,” ujarnya.

Ditambahkan, perbedaan-perbedaan yang dimiliki bangsa ini harus menjadi modal utama kekuatan berbangsa, bukan justru melemahkan persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa.

“Saran saya di bulan Ramadhan saling menghargai dan menghormati. Kita lebur jadi satu perbedaan-perbedaan yang ada di lingkungan kita. Yang puasa memahami teman yang agama lain tidak puasa, yang tidak puasa menghargai tidak makan sembarang tempat, tidak kemudian malah mengodo-goda. Sikap saling menghargai dan menghormati ini insyaallah akan terus kita lestarikan untuk menuju bagian dari pada kekompakan Kota Semarang,” tandasnya.

Ribuan masyarakat sendiri nampak antusias mengikuti dan menyaksikan tradisi Dugderan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1440 H, yang dimulai dari halaman balai kota.

Secara berurutan, dari 16 kecamatan, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai komunitas, hingga barongsai, serta tak ketinggalan Warak Ngendog berukuran raksasa yang merupakan hewan imajiner yang menjadi ikon Kota Semarang memeriahkan kirab budaya ini.

Kirab budaya Dugderan dimulai dari balaikota Semarang kemudian melewati Jalan Pemuda, lalu menuju Masjid Agung Semarang atau biasa disebut Masjid Kauman, Jalan Jolotundo, kemudian menuju Masjid Agung Jawa Tengah. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here