Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi Ingin ‘Hompimpa’ Terdengar Di Taman-Taman

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi Ingin ‘Hompimpa’ Terdengar Di Taman-Taman

Semarang – Anak-anak tahun 80an-90an pasti ingat dan pernah melakukan permaian Hompipa atau hompimpah. Saat ini permainan tersebut sudah jarang sekali dimainkan, atau bahkan sudah dilupakan oleh anak-anak jaman now.

Berdasarkan Wikipedia Hompimpa atau hompimpah adalah sebuah cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan telapak tangan yang dilakukan oleh minimal tiga peserta.

Secara bersama-sama, peserta mengucapkan kata hom-pim-pa. Ketika mengucapkan suku kata terakhir (pa), masing-masing peserta memperlihatkan salah satu telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke bawah atau ke atas. Dalam budaya Jawa, hompimpa dilakukan dengan kalimat “Hompimpa alaium gambreng”.

Pemenang adalah peserta yang memperlihatkan telapak tangan yang berbeda dari para peserta lainnya. Ketika peserta lainnya sudah menang, peserta yang kalah ditentukan oleh dua peserta yang tersisa dengan melakukan suten (suit).

Biasanya hompimpa digunakan oleh anak-anak untuk menentukan giliran dalam sebuah permainan. Sewaktu bermain petak umpet misalnya, anak yang kalah hompimpa mendapat giliran sebagai penjaga pos.

Sudah hilangnya permaian tradisional itu membuat Wali Kota Semarang Hendar Prihadi merasa prihatin. Permainan yang hampir setiap hari dimainakan oleh Hendi waktu kecil itu lambat laun dilupakan anak-anak.

“Tahun kemarin kita bangun 20 taman dan 5 lapangan olahraga, tahun ini kita bangun juga 16 taman dan 7 lapangan olahraga, itu bisa menjadi tempat berkumpul anak-anak di Kota Semarang untuk bermain mainan tradisional, sehingga tidak hanya disibukkan dengan gadget“, tutur Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018 tingkat Kota Semarang, dengan tema ‘Dolanan Sebagai Wadah Interaksi Sosial’ di Taman Budaya Raden Saleh Kota Semarang, Kamis (26/7).

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Semarang yang juga akrab disapa Hendi tersebut menegaskan pentingnya permainan tradisional untuk lebih dipopulerkan lagi kepada anak-anak. Dirinya beralasan, nilai-nilai moral yang terdapat pada berbagai permainan tradisional dapat membentuk karakter anak-anak menjadi lebih positif.

“Tahu nggak artinya Hompimpa Alaihum Gambreng ? Itu diambil dari bahasa Sansekerta artinya dari Tuhan kembali ke Tuhan, yang mana pesannya untuk kita agar selalu legowo”, terang Hendi.

“Pernah lihat anak-anak kalah Hompimpa terus pukul-pukulan ? Nggak ada kan ? Kalah ya pasrah saja, legowo dan tetap tersenyum”, lanjutnya.

Wali Kota Semarang yang juga politisi PDI Perjuangan tersebut menuturkan jika selain Hompipa, masih ada raturan nilai-nilai moral yang bisa diajarkan melalui tak kurang dari 212 permainan tradisional yang ada dalam budaya Jawa.

Contoh lain disebutkannya adalah permainan engklek dengan melompati 7 kotak, yang mana memberi pesan bahwa setiap hari dari Senin sampai Minggu setiap orang harus terus bekerja keras.

“Maka kenapa tema peringatan Hari Anak Nasional 2018 di Kota Semarang adalah dolanan sebagai wadah interaksi sosial ? Karena kami ingin anak-anak didorong secara serius untuk memainkan permainan tradisional. Ini adalah sebagai bagian dari upaya kami melakukan pembentukan karakter bagi anak-anak di Kota Semarang”, tegas Hendi.

Sebelumnya dalam peringatan Hari Anak Nasional tahun 2018 tingkat Nasional sendiri di Surabaya, Kamis (26/7), Kota Semarang dinobatkan sebagai Kota Layak Anak tahun 2018 di Indonesia tingkat Madya. Penghargaan tersebut sendiri merupakan capaian baru bagi Kota Semarang yang sebelumnya pada tahun 2017 mendapatkan predikat kota layak anak tingkat Pratama.

“Untuk terus mempertahankan Semarang sebagai Kota Layak Anak butuh dukungan seluruh stakeholder secara serius. Persoalan yang berkaitan dengan anak tidak sama dengan pesoalan orang dewasa, jangan dianggap pemikirannya sama denga kita karena cara pendekatannya berbeda. Inilah yang kemudian terus kita bedah urusannya satu per satu supaya bisa menciptakan suasana yang mendukung tumbuh kembang anak”, tutur Wali Kota Semarang tersebut. (ZP/04)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here