APTRI Jateng Berharap Petani Tebu Bersikap Dewasa Tanggapi Rencana Impor Gula Mentah

0
Ilustrasi petani tebu di Jawa Tengah. (foto:ist)
SRAGEN – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Tengah menghimbau kepada petani tebu untuk tidak resah dengan rencana kebijakan pemerintah tentang impor gula mentah (raw sugar). Mengingat impor gula mentah itu agar kebutuhan nasional tercukupi sehingga masyarakat tidak terbebani harga.
Mantan Ketua APTRI Jawa Tengah Sukadi Wibisono meminta petani tebu bersikap dewasa dalam menanggapi kebijakan pemerintah dalam mengimpor gula mentah tersebut.
APTRI Jawa Tengah sendiri mendukung langkah pemerintah mengimpor raw sugar (gula mentah) sebanyak 381 ribu ton, dengan dalih pasokan gula dari pabrik lokal semakin menipis.
 “Teman-teman petani  tidak perlu resah, dan  jangan  galau. Kita yakini  saja, bahwa impor gula mentah agar kebutuhan nasional tercukupi, agar masyarakat tidak terbebani oleh harga. Juga  tidak akan mengerdilkan semangat para petani tebu,” tambah eks Ketua APTRI Jateng, Sukadi Wibisono melalui rilis yang dikeluarkan Senin (18/4).
Mantan Ketua APTRI Jawa Tengah Sukadi Wibisono. (foto:ist)
Supaya memiliki posisi tawar di pasar global, Lanjut Sukadi, para petani tebu hendaknya ketat dan disiplin dalam menata manajemen.
“Kita tengok kilas balik  sedikit. Di sekitar tahun 2008, di Jawa Tengah ada pabrik gula yang menerapkan manajemen tebang angkut secara ketat dan benar. Sehingga , rendemen yang diperoleh bisa  tinggi dan berkelanjutan. Dari situlah, kesejahteraan petani ikut terdongkrak, sehingga tidak takut dengan persaingan pasar,” jelasnya.
Agar kejayaan di tahun 2008 bisa diraih kembali,  Sukadi juga meminta, agar penerapan manajemen tebang angkut secara baik dan benar dihidupkan kembali.  Apalagi, menurutnya hal ini untuk menyongsong musim giling tahun 2022. Hal itu sekaligus menghadapi era perdagangan global, tebu yang disetor ke pabrik harus tebu yang berkualitas baik di tingkat petani ataupun di tingkat pabrikan.
 “Yang disetor ke pabrik gula adalah tebu yang bersih dari pucuk, bersih dari bung atau bonggol, dan bersih dari rapak (daun kering-red). Jika hal ini dilakukan oleh petani, dan di sisi lain, para pengelola pabrik tebu juga menerapkan manajemen secara baik  dan efisien, ini tidak ada yang mustahil. Kita siap berkompetisi dengan produk-produk import. Apalagi bersaing dengan produk-produk sesame pabrik gula,” tambahnya.
Bersamaan dengan ini Sukadi mewanti-wanti, agar para petani tebu mulai menyiapkan diri masuk ke sistem digital. Pasalnya pada era digital seperti sekarang semua penjual harus bisa menjajakan hasil produknya melalui situs jual beli online.
“Dengan teknologi digital, maka tebu yang ditawarkan petani akan bisa diakses oleh calon pembeli. Tebu ini umurnya berapa, rendemen berapa, volume produksinya, berapa ukurannya, di mana kelbihan dan kekurangannya langsung bisa diketahui,” tandasnya.
Dalam pesan terakhirnya, Sukadi juga meminta seluruh elemen masyarakat khususnya para petani tebu di Jawa Tengah, agar ikut menjaga Sitkamtibnas di lingkungan masing-masing.
“Mari kita jaga lingkungan. Jangan sampai terprovokasi oleh isu-isu menyesatkan. Mari kita bersama sama agar situasi Kamtibnas wilayah JawaTengah tetap kondusif dan aman,” pungkasnya. (alkomari)
Tinggalkan pesanan

email kami rahasiakan

Verified by MonsterInsights