Batik Pewarna Alami Kampung Malon Rambah Pasar Jepang dan Singapura

Salah seorang pengunjung di rumah Zie Batik yang berlokasi di Kampung Alam Malon, Gunungpati, Semarang.

SEMARANG- Aneka warna dan corak kain batik tertata begitu rapi di sudut rumah Zie Batik yang berlokasi di Kampung Alam Malon, Gunungpati, Semarang.

Berbagai koleksi batik yang dibuat dengan menggunakan pewarna alami itu ada yang ditata berjejer, digantung dan ada pula yang disusun di lemari.

Pada sudut lain, kain-kain batik disusun dari atas ke bawah. Motif-motif unik khas batik semarangan seolah menarik perhatian siapapun yang memasuki ruangan itu.

“Saya masuk ke Semarang sekitar tahun 2004 dan mulai mengembangkan batik pada 2006. Saat itu belum di Kampung Alam Malon, masih di Bubakan atau kampung batik,” ujar Marheno salah satu perajin batik, Kamis (13/2).

Pria yang akrab disapa Heno itu mengemukakan, saat itu pihaknya mendapat dukungan dari Dekranasda. Melatih sekitar 20 orang, batik khas semarangan pun mulai dikembangkan.

“Dulu orang belum percaya diri mengakui batik khas semarangan. Setelah dikembangkan, mereka mulai percaya diri bahwa, batik semarangan itu bagus. Motif batik dengan dihiasi beberapa ikon Kota Semarang, seperti Lawang Sewu, Gereja Blenduk, Tugu Muda, dan lainnya,” paparnya.

Ia mengaku, saat itu belum mengembangkan batik dengan pewarna alami. Meski demikian, ia sudah melakukan beberapa percobaan membatik dengan menggunakan pewarna alami pada beberapa kain batik buatannya.

Proses membatik dengan pewarna alami diakuinya melalui proses cukup panjang. Puncaknya, ketika dia bermukim di Kampung Malon sejak dua tahun lalu, percobannya pun mulai membuahkan hasil.

“Saya melihat Kampung Malon ini memiliki potensi alam cukup besar. Banyak tumbuhan yang bisa dimanfaatkan untuk dijadikan pewarna alami. Hingga akhirnya Kampung Malon dijadikan kampung tematik Kampung Alam Malon, saya mulai berpikir untuk mengembangkan batik dengan pewarna alami,” jelasnya.

Saat ita dipercaya sebagai ketua tematik. Sebuah beban muncul dalam dirinya. Dia tidak ingin membiarkan Kampung Alam Malon sekadar memiliki gapura dengan tulisan serupa.

“Saya mulai merangkul para warga untuk menjadi penggiat batik. Awalnya sulit karena kebanyakan dari masyarakat memulai semuanya dari nol. Akhirnya empat kelompok kami bentuk, terdiri atas kelompok citra, delima, kristal, dan manggis. Hal itu untuk memudahkan komunikasi saja karena di sini terdapat tiga RT,” katanya.

Meski demikian, perjuangannya dalam mengembangkan Kampung Alam Malon tidak terlepas dari bantuan beberapa pihak. Mulai dari Pemerintah Kota Semarang, Kementerian, hingga Indonesia Power.

“Kami menjadi binaan dari Indonesia Power. Sampai saat ini, ada sekitar 50 penggiat batik di Kampung Alam Malon ini. Hal itu juga sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat sekitar. Mereka yang awalnya hanya pergi ke sawah, menjadi memiliki kegiatan lain yang memberikan dampak positif bagi perekonomian masing-masing,” ujarnya.

Perjuangannya pun tak sia-sia. Saat ini, produk batik dengan pewarna alami itu sudah merambah hingga Singapura dan Jepang. Tak menutup kemungkinan, negara-negara lain juga mulai tertarik dengan karyanya.

Batik tersebut semakin sempurna karena telah mendapatkan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada 2018 lalu. Proses untuk mendapatkan SNI pun tak mudah karena harus melalui proses cukup panjang. Mulai dari mengirim contoh kain hingga harus memiliki lokasi pengerjaan yang ramah lingkungan.

Adapun, beberapa pewarna alami tersebut didapatkan dari beberapa tumbuhan yang ada di sekitar Kampung Alam Malon. Sebut saja kulit pohon mahoni, kuliat buah joho, secang, mangrove, daun indigo, dan lainnya.

“Prosesnya sama dengan membatik pada umumnya. Ada yang direbus, ada juga yang melalui proses fermentasi. Tak hanya itu, para pembeli yang datang ke sini juga bisa ikut serta dalam proses membatik. Jadi mereka tidak hanya mendapat kain batik, tetapi juga mendapat ilmu tentang proses pembuatannya,” terangnya.

Dikatakan, ia tak hanya menjual kain batik tetapi juga kebudayaan yang ada di dalamnya. Dengan mengetahui proses pembuatan, para pengunjung akan lebih menghargai karya yang dihasilkan.

“Kelebihan lain ada pada motif yang tidak pasaran. Karena dibuat secara handmade, otomatis kain batik di sini tidak ada yang sama. Semua batik dikerjakan satu per satu,” tegasnya.

Tak hanya sampai di situ, keunikan juga terdapat pada kemasan, tanpa menggunakan plastik, kotak kemasan dibuat dari pelepah pisang. Pada bagian atas dibuat transparan dengan menambahkan mika.

Mengenai produk unggulan, Heno mengatakan batik legenda merupakan salah satu unggulan Zie Batik. Batik legenda merupakan sebuah batik dengan cerita di dalamnya. Dalam satu kain, terdapat satu cerita runtut. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here