KulinerBubur India, Kuliner Legendaris Masjid Jami Pekojan yang Hanya...

Bubur India, Kuliner Legendaris Masjid Jami Pekojan yang Hanya Ada di Bulan Ramadhan

-

- Advertisment -spot_img

Para Takmir Masjid tengah mempersiapkan hidangan Bubur India untuk buka puasa, di Masjid Jami Pekojan, Semarang.

BAGI kamu yang ingin menemukan sensasi menu buka puasa yang benar-benar berbeda, tidak ada salahnya datang ke Masjid Jami Pekojan di Jalan Petolongan No 1, Purwodinatan, Semarang Tengah, Semarang ini.

Di Masjid Pekojan ada tradisi unik yang tidak bisa ditemui di hari dan bulan biasanya, karena tradisi ini hanya akan ada di bulan Ramadhan saja.

Para takmir di masjid ini akan menyediakan hidangan legendaris “Bubur India” yang telah disajikan lebih dari seabad itu. Bubur ini pun diberikan secara gratis bagi para jamaah yang ingin berbuka puasa di sini.

Selain bubur, para takmir juga melengkapinya dengan kurma dan aneka buah segar yang siap untuk disantap saat kumandang adzan Magrib tiba.

Anas Salim Harun, yang merupakan pewaris bubur India generasi ketiga mengatakan, resep mengolah Bubur India ini telah diberikan secara turun temurun dari kakeknya, Harun Rofi, kemudian diberikan kepada ayahnya Salim Harun, kemudian dilanjutkannya, serta kini telah diteruskan oleh Ahmad Ali sebagai generasi ke empat.

“Ini resep masakan turun-temurun sejak dari kakek saya yang asalnya dari Negara Bagian Gujarat, India,” kata Anas, pria yang kini berusia 76 tahun itu, Jumat (18/5).

Selain bubur, para takmir juga melengkapinya dengan kurma dan aneka buah segar yang siap untuk disantap saat kumandang adzan Magrib tiba.

Ia melanjutkan, kakenya merupakan seorang mubalig yang mensyiarkan agama Islam dari perbatasan India-Pakistan. Kemudian lambat laun memilih berdagang dengan komunitas orang Koja dan masuk Indonesia pada tahun 1800 silam atau sekitar 120 tahun lalu.

Perjalanan komunitas Koja pun berlanjut sampai ke tepi Pantai Semarang dan tiba di salah satu sudut kawasan Mataram yang kini dikenal dengan Kampung Petolongan.

“Di sinilah, awal mula orang-orang Koja berdagang sarung, tasbih sampai ragam rempah-rempah yang dibawa langsung dari tanah kelahirannya. Lalu karena punya resep bubur India yang sangat khas itu, maka dikenalkan kepada penduduk lokal,” sambungnya.

Dikatakan, dari semula hanya ada 10-15 orang, kini jumlah orang Koja yang mendiami kampung tersebut mencapai ratusan jiwa, yang menempati rumah-rumah bercorak khas campuran Pakistan-Melayu dengan dinding berwarna hijau muda.

Ia menambahkan, setiap Ramadhan tiba pengurus takmir masjid ini akan menyediakan 200 sampai 300 porsi bubur India.

“Sebagai variasi juga ada campuran kuah gulai, sambel goreng, ungkep dan terik,” ujarnya.

Para jamaah tengah menikmati Bubur India yang sudah disuguhkan lebih dari seabad.

Dijelaskan, Bubur India itu dibuat selama tiga jam, dari setelah shalat Dzuhur hingga selepas salat Ashar. Kemudian tepat pukul 15.30 WIB sajian khas warga Koja ini pun siap dihidangkan dalam mangkuk-mangkuk kecil bersama segelas susu.

“Dulunya ada tambahan zam-zam. Tapi karena pasokannya disetop sama Pemerintah Arab Saudi maka diganti susu,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, hidangan Bubur India ini memiliki arti yang mendalam bagi warga sekitar. Sesuai hadist Rasulullah SAW, lanjutnya, bagi siapa yang memberikan makanan buka puasa maka pahalanya di akhirat akan bertambah banyak.

“Dan barang siapa yang senang dengan datangnya Ramadan maka diharamkan jasadnya di neraka. Makanya, di sini selalu dibagikan bubur gratis selama 30 hari Ramadan,” pungkasnya. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Bentomie, Perpaduan Mie dan Bento

SEMARANG- Pengunjung Prima Raja Resto yang berada di kawasan Puri Anjasmoro Semarang kini diberikan ragam pilihan menu. Selain seafood...

Masjid Megah Pendiri JNE, diresmikan Gubernur Bangka Belitung

BANGKA BELITUNG– Masjid Jami’ Soeprapto Soeparno pertama kali dibangun oleh pendiri JNE, Almarhum Bapak H. Soeprapto Soeparno tahun 1979....

XL Axiata Dukung Geliat Wisata Jawa Tengah

*Pastikan Kualitas Jaringan di Magelang, Wonosobo, dan Temanggung MAGELANG- Industri wisata di Jawa Tengah terus menggeliat dan mencoba bangkit, antara...

Dorong Produksi Ekspor, PLN Tambah Daya Produsen Tas

KUDUS– PLN melakukan energize PT Wanxinda Travel Goods. Produsen tas ini menyepakati penambahan daya dari daya I2/197 kilo Volt...
- Advertisement -spot_imgspot_img

PLN Mendukung Pengembangan Ekosistem Electric Vehicle

SEMARANG- PT PLN (Persero) siap mendukung program pemerintah terkait percepatan implementasi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) atau Electric...

PLN Sambung Listrik Gratis di Kulon Progo

YOGYAKARTA- PLN kembali melakukan penyambungan gratis kepada masyarakat kurang mampu di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Program Corporate Social Responsibility...

Must read

Grab Hadirkan Protect dan Cleaning Station

  SEMARANG- Wacana untuk masuk dalam 'kebiasaan baru' atau yang...

PGSI Jateng Ajak Masyarakat Tingkatkan Kepedulian Sosial Hadapi Corona

  SEMARANG - Ketua Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI)...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Berita TerkaitTERKINI
Rekomendasi untuk Anda