Enaknya Kue Gandos, Jajanan Khas Semarang Bikin Nagih

Pak Sujud, penjual Kue Gandos saat memasak kue tradisional khas Semarang itu, Sabtu (28/9/19).

SEMARANG – Kue Gandos yang terbuat dari adonan tepung beras dan santan menjadi salah satu kuliner khas Semarang. Rasanya yang enak dan gurih di mulut menjadikan kuliner satu ini banyak digemari.

Para penjual kue tradisional ini biasa menjajakan dagangannya dengan dipikul keliling kampung, perumahan, sekolah dasar dan di sekitar pusat keramaian lainnya.

Zonapasar.com mencoba mencari jajanan satu ini. Setelah berkeliling akhirnya bertemu dengan Pak Sujud yang berkelilig di bilangan jalan Lamongan Raya, berdekatan dengan Taman Menoreh I.

Pak Sujud pun bergegas menuangkan adonan kue ke dalam loyang cetakan saat pembeli datang. Cetakan Kue Gandos hampir sama dengan cetakan kue Pukis, namun memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil.

Satu per satu cetakan pun dipenuhinya dengan adonan Kue Gandos hingga seluruh cetakan yang berjumlah 20 tersebut penuh dengan adonan. Usai penuh, adonan pun ditutup supaya cepat matang.

“Saya sudah berjualan selama 15 tahun mas. Ndak berubah dari dulu, tetap mikul gerobak kayak ini,” ujarnya, Sabtu (28/9/19).

Dikatakan, selama 15 tahun menjajakan kue Gandos memang terjadi pasang surut. Banyaknya jajanan lain yang ada menjadi tantangan tersendiri.

“Sekarang langka ditemui. Dulu masih banyak saya temui teman sesama penjual Gandos tapi sekarang sudah jarang. Tinggal 3 orang saja kalau saya nggak salah yang menjualnya dengan pikulan seperti ini, termasuk saya,” imbuhnya.

Disebutnya, setiap hari ia tidak bisa memastikan bisa menghabiskan berapa kilo adonan. Jika dirasa adonan habis, ia hanya tinggal membuatnya kembali.

“Kalau mau habis itu, saya buat lagi adonannya. Tinggal ke Pasar lalu beli keperluan bahan untuk adonan, terus dibuat gitu aja. Kalau dikira-kira ya bisa 4-5 kilo sehari. Tapi itu tidak mesti segitu,” ujar pria asal Pati itu.

Ditambahkan, kue Gandos yang dijajakannya terbebas dari bahan kimia dan pengawet. Sejak 15 tahun hingga sekarang, memiliki resep yang tidak berubah.

“Jelas nggak ada pengawetnya mas. Resepnya juga sama. Cuman yang berubah itu gerobaknya saja. Karena perlu diperbaiki kalau rusak,” ujarnya sambil bercanda.

Adapun harga Kue Gandos ia jual Rp 600, harga tersebut sudah dinaikan beberapa kali mengingat bahan baku pembuatan adonan dan biaya hidup yang semakin naik.

“Kalau dulu Rp 100 per biji, lalu naik Rp 1.000 dapat lima. Kalau sekarang Rp 600 saja,” pungkasnya. (ZP/07)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here