Gubernur Jateng Ingatkan Masyarakat Agar Tidak Terprovokasi Berita di Medsos

Wakil Gubernur Jateng KH Taj Yasin saat memberikan sambutan di acara pengajian Akbar dalam rangka harlah ke 16 MAJT Jumat malam (14/9) di ruang utama MAJT.

SEMARANG- Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajak masyarakat merawat provinsi ini dengan aktivitas positif dan membangun, agar tetap kondusif di tahun politik 2019. Hal tersebut disampaikan dalam sambutan tertulis dibacakan Wagub Jateng Taj Yasin pada pengajian memeringati HUT ke 16 Masjid Agung Jawa Tengah, Jumat (14/9/2018) malam.
Pengajian yang diisi ulama kharismatik KH Abdul Qoyyum Mansyur, pengasuh Ponpes Al-Nur, Lasem, Rembang, dihadiri ribuan jamaah yang memadati ruang utama salat MAJT.
Pasangan Ganjar-Taj Yasin yang dilantik sebagai Gubernur-Wagub periode 2018-2023, berharap masyarakat makin guyub rukun, tak mudah diprovokasi dan bertikai. “Ojo sithik-sithik ngamuk, padahal masalahe iso dirembug,” pintanya dalam bahasa Jawa.
Gubernur berharap pula masyarakat tak mudah terpengaruh apalagi bergabung dengan paham radikal atau memakai narkoba. Jangan pula selalu menolak bila dijak sambatan, juga jangan isone mung sambat karo sambat.
“Pada tahun politik seperti, hal sepele mudah menjadi isu besar, mudah terbakar amarah untuk hal-hal yang belum jelas. Terlebih di medsos berseliweran cuitan saling menjelekkan, bahkan fitnah. Rasanya Ngelus dada dan prihatin,” tandas Ganjar.
Tapi, lanjutnya, tidak cukup ngelus dada terus. Harus ada aksi nyata untuk mengedukasi masyarakat lewat pendidikan karakter agar tak mudah mengunggah informasi yang belum jelas.
“Ingatkan mereka agar klarifikasi sebelum menggunggah informasi. Bagi penyebar hoaks agar diproses hukum. Jadikan pemilu 2019 sebagai sarana demokrasi dan pestanya rakyat yang menggembirakan. Jangan korbankan persaudaraan hanya untuk pileg-pilpres,” tegasnya.
Menyinggung hari lahir ke-16 MAJT, Ganjar menilai banyak kiprah positif dari pengurus dalam membesarkan MAJT hingga menjadi ikon dan kebanggaan Jateng. MAJT terus peran positif untuk umat, menjadi pusat diskusi dan kegiatan keilmuan. Termasuk mengembangkan pemberdayaan ekonomi umat.
Hal ini selarasa dengan visi misi Pemprov ke depan, menjalankan pembangunan keumatan untuk meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan dan kesehatan. Maka, kata Ganjar, politik anggarannya akan dinaikkan pada sektor-sektor tersebut, termasuk membantu lembaga pendidikan dan  pondok pesantren untuk penguatan karakter.
Mengingat, kata  Ganjar, masih banyak PR yang harus diselesaikan termasuk kemiskinan. Meski di Jateng penurunannya menjadi yang terbaik se Indonesia, tapi belum signifikan. Targetnya menurunkan angka kemiskinan hingga single digit.
Langkahnya program pembangunan RTLH, pemberian Kartu Jateng Sejahtera, pemberian Kartu Tani, pengembangan UMKM,  terus berlanjut. Termasuk mendorong ekonomi berbasis pondok pesantren. Saatnya santri bukan hanya piawai dalam ilmu keagamaan tetapi juga bisa mandiri sebagai wirausaha.

KH Abdul Qoyyum Manshur saat memberikan tausiyah di MAJT Jumat malam (14/9)

Sementara, KH Abdul Qoyyum Mansyur dalam tausiyahnya mengatakan, sejak zaman nabi Muhammad dulu, masjid memang tidak hanya sekedar untuk ibadah sholat saja, namun juga untuk yang lain, yakni dzikir dan diskusi membahasa persoalan haram dan haram. Dan dalam perkembangan sejarah Islam, masjid juga pernah dijadikan tempat untuk kegiatan ekonomi, yaitu mencetak uang. Pengelolaan masjid menjadi tanggung jawab semua orang Islam, dan hendaknya orang yang lebih mengelola juga harus tetap bekerja mencari nafkah. “Sahabat Nabi  Muhammad yang mengelola masjid ada 450 orang. Namun mereka semua bekerja mencari nafkah di luar masjid. Ada yang pergi masuk hutan mencari kayu,” ucap Gus Qoyyum.(zp/03)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here