HIMKI Tolak Ekspor Kayu Gelondongan

RAKERNAS- (Kiri ke kanan) Wakil Ketua Umum HIMKI, Wiradadi Soeprayogo; Ketua Umum, Soenoto; dan Sekjen, Abdul Sobur; saat memberikan keterangan pers sela-sela Rapat Kerja Nasional di Hotel Santika, Semarang, Kamis (24/1).

SEMARANG- Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menolak pembukaan keran ekspor kayu gelondongan (log) dan bahan baku rotan. Bahkan, anggota asosiasi pengusaha mebel di Tanah Air yang berjumlah sekitar 3.000 orang ini siap melakukan aksi demo jika pemerintah membuka keran impor kayu log.

“Saat ini memang ada wacana terkait pembukaan keran ekspor bahan baku mebel ini. Jika kemudian pengambil kebijakan meloloskan hal tersebut, maka kami para pengusaha dan seluruh pekerja akan demo,” kata Soenoto, Ketua Umum HIMKI, didampingi Wakil Ketua Umum, Wiradadi Soeprayogo, dan Sekjen, Abdul Sobur, di sela-sela Rapat Kerja Nasional di Hotel Santika, Semarang, Kamis (24/1).

Menurutnya, jika hal tersebut dibiarkan, maka bahan baku kayu dan rotan Indonesia bisa habis tanpa bisa dinikmati oleh para pelaku industri furnitur dan kerajinan lokal. Adapun pihak yang paling diuntungkan dari ekpor bahan baku ini adalah pelaku industri di luar negeri yang bisa mendapatkan bahan mentah dengan harga murah, lalu menjualnya dengan harga tinggi.

“Wacana ekspor bahan mentah ini bisa membuat industri kita berantakan. Oleh karena itu, kami menolak dengan tegas wacana untuk membuka kembali ekspor log dan bahan baku rotan,” ungkapnya.

Sekjen HIMKI, Abdul Sobur menambahkan, kebijakan pembukaan keran ekspor log dan bahan baku rotan, hanya akan menguntungkan negara-negara importir yang telah lama menunggu kebijakan itu untuk memenuhi pasokan bahan baku industri mereka.

Dicontohkan, Tiongkok dan Vietnam kini merajai ekspor mebel di dunia, karena bisa menjual produk barang jadi rotan dengan harga yang lebih murah. Padahal, kedua negara tersebut mendapatkan bahan mentah dari Indonesia dengan harga murah.

Ditegaskan, dalam Permendag No. 44 Tahun 2012 juga sudah secara tegas melarang ekspor bahan baku berupa log, kayu gergajian, rotan mentah atau asalan, rotan poles, hati rotan serta kulit rotan demi menjamin pasokan bahan baku bagi industri barang jadi di dalam negeri.

“Akhir-akhir ini malah muncul wacana yang dilontarkan oleh sejumlah pihak yang sebenarnya ingin industri mebel di Indonesia hancur,” tandasnya.

Selain itu, HIMKI juga mendukung kebijakan pemerintah dalam peningkatan nilai tambah produk di dalam negeri, yaitu dengan mengolah bahan baku menjadi barang jadi sesuai UU No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.

“Produk-produk yang memiliki added-value justru lebih bernilai tinggi. Oleh karena itu, kami juga terus mendorong anggota untuk memproduksi produk-produk dengan nilai tambah yang tinggi,” ujar Sobur.

Wakil Ketua Umum HIMKI, Wiradadi Soeprayogo menambahkan, Rakernas di Semarang ini bertujuan untuk pengembangan dan penguatan industri mebel dan kerajinan nasional, yang meliputi keberlangsungan supply bahan baku dan penunjang, desain dan inovasi produk, peningkatan kemampuan produksi, pengembangan sumber daya manusia, promosi dan pemasaran, serta pengembangan kelembagaan agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi industri mebel dan kerajinan nasional.

Rakernas juga membahas berbagai permasalahan yang memperlemah daya saing industri mebel dan kerajinan nasional dan solusi yang harus dilaksanakan.

“Rakernas ini sangat penting diselenggarakan, mengingat industri mebel dan kerajinan nasional merupakan bantalan ekonomi yang kuat pada saat krisis ekonomi seperti saat ini dan menjadi jalan keluar negara dalam penyerapan tenaga kerja. Sampai saat ini, industri mebel dan kerajinan tetap eksis dan menghasilkan devisa bagi negara di saat industri lain terkena imbas krisis, karena industri ini didukung oleh local content yang cukup besar,” pungkasnya. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here