Ekonomi BisnisImplementasikan Green Chiller, Phapros "Ngirit" Rp500 Juta per Tahun

Implementasikan Green Chiller, Phapros “Ngirit” Rp500 Juta per Tahun

-

- Advertisment -spot_img
Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM – Rida Mulyana (kiri) bberbincang bersama Direksi PT Phapros usai peresmian Green Chiller

Semarang – PT Phapros, Tbk menunjukkan komitmennya dalam melakukan efisiensi energi dengan mengimplementasikan penggunaan green chiller sebagai sistem pendingin berbasis hidrokarbon yang ramah lingkungan.

Dengan penggunaan Green Chiller tersebut Phapros mampu menekan biaya tagihan listrik hingga Rp500 juta per tahunnya. Phapros merupakan industri pertama yang mengimplementasikan teknologi ini.

Direktur Utama Phapros, Barokah Sri Utami (Emmy) mengatakan,  penggunaan green chiller memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah menurunkan biaya operasional karena green chiller menggunakan teknologi yang lebih efisien.

“Instalasi chiller hidrokarbon ini juga dapat menghemat tagihan listrik lebih dari 20% atau hampir Rp 500 juta dari sistem pendingin yang saat ini digunakan. Investasi akan semakin terprediksi sesuai dengan kenaikan harga listrik dan tentu saja hal ini bisa meningkatkan citra perusahaan melalui implementasi teknologi terbarukan dan ramah lingkungan, serta iklim,” ujarnya di sela – sela peresmian teknologi green chiller di pabrik Phapros di kawasan Simongan, Semarang, (4/5).

Dalam implementasi green chiller lokal berbasis hidrokarbon ini, Phapros turut serta menggandeng Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Deutsche Gesellschaft für  Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH.

Teknologi chiller hidrokarbon ini bisa menekan penggunaan energi karena memiliki konduktivitas panas yang 50% lebih efisien dibandingkan dengan refrigeran fluorocarbon, serta beroperasi dengan tekanan kerja yang 20% lebih rendah dibandingkan dengan refrigeran fluorocarbon. Sehingga dapat mengurangi konsumsi energi antara 17% – 30% dibandingkan dengan penggunaan refrigeran fluorocarbon.

Sebagai perbandingan, Daya input chiller lama adalah 151 kW dengan penggunaan listrik sebesar 545.387 kW/tahun dan biaya listrik per tahun mencapai lebih dari Rp 600 juta/tahun. Sementara dengan green chiller untuk menghasilkan efek pendinginan yang sama, hanya dibutuhkan 42 kW dengan penggunaan listrik 151.078 kWh/tahun dan biaya listrik sebesar  Rp 160 juta/tahun.

Chiller hidrokarbon pertama mulai dipasang di pabrik Phapros pada akhir tahun 2017, menyusul kemudian chiller kedua di bulan Januari 2018. Chiller tersebut digunakan untuk mendinginkan berbagai ruangan untuk produksi obat, penyimpanan dan pembiakan bakteri di gedung produksi PT. Phapros Tbk di Semarang, Jawa Tengah.

Chiller tersebut dipasang untuk mengganti 2 unit lama yang menggunakan refrigeran tetrafluoroethane (R134a) yang memiliki potensi pemanasan global cukup tinggi.

Direktur Utama PT RNI (Persero), Didik Prasetyo juga turut mengapresiasi langkah Phapros untuk mengimplementasikan green chiller yang juga merupakan bentuk hilirisasi riset.

“Kerjasama ini adalah representasi dari konsep ABCG, dimana Akademisi diwakili oleh UNDIP, Politeknik Bandung dan Politeknik Bali, Bisnis diwakili oleh Pertamina dan Phapros, Community diwakili oleh ASHRAE (The American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers) dan Government diwakili oleh Kementerian ESDM dibantu oleh GIZ,” jelas Didik.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana, mengatakan bahwa hal yang menarik dalam mengembangkan refrigeran hidrokarbon adalah dari sisi isu lingkungan.

Menurut dia, ada tiga hal yang membuat kita tertarik untuk mengembangkan refrigeran hidrokarbon. Yang pertama ketersediaan bahan baku yang kita punya. Kedua dari sisi lingkungan, melihat bahwa dulu kita menggunakan Freon yang tidak ramah lingkungan dan kemudian kita ganti dengan yang lebih natural yaitu hidrokarbon.

“Ketiga, bahwa industri dalam negeri juga sudah bisa memproduksinya. Artinya kalau ini dikembangkan maka akan menciptakan lapangan kerja baru dan pada saatnya akan meningkatkan perekonomian nasional,” paparnya.(ZP/01)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Pameran Property Expo Semarang Cetak Transaksi Rp 28 Miliar

SEMARANG - Pameran Property Expo Semarang mendapatkan hasil menggembirakan bagi para pengembang di awal tahun 2022. Pemeran perdana yang digelar...

GTSI Kembali Dikontrak BP Berau Ltd.

JAKARTA– PT GTS Internasional Tbk. (GTSI) melalui salah satu anak perusahaannya PT Hikmah Sarana Bahari (HSB) berhasil mendapatkan kepercayaan...

Empal Krispi Sajian Baru Hotel Santika Pekalongan

PEKALONGAN - Hotel Santika Pekalongan kembali mengeluarkan special menu di awal tahun 2022 ini. Menu ini sangat cocok untuk...

Smartfren Hadirkan Unlimited Terbaru, No Drama No Ribet dengan Promo Dua Kali Lebih Besar

JAKARTA –  Selaras dengan kebutuhan generasi masa kini  yang selalu keep connected ke internet, maka di awal tahun ini...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Pertamina Tegaskan WA Undian Berhadiah HOAX

SEMARANG- PT Pertamina (Persero) menegaskan, pesan berantai yang beredar melalui sejumlah saluran media seperti Whatsapp terkait undian berhadiah...

25 Konsumen Pertama di Kota Semarang Terima Honda All New BR-V

SEMARANG- Mengawali tahun 2022, Honda Semarang Center melakukan penyerahan perdana secara simbolik 25 unit All New Honda BR-V kepada...

Must read

Akhir 2021, Dafam Buka 2 Hotel Baru SEMARANG- Pandemi tidak...

Grab Hadirkan Protect dan Cleaning Station

  SEMARANG- Wacana untuk masuk dalam 'kebiasaan baru' atau yang...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Berita TerkaitTERKINI
Rekomendasi untuk Anda