Investor Minta BGN Tak Abaikan Wilayah 3T, Ribuan Penerima MBG Menanti

SEMARANG – Investor pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) segera merealisasikan operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) di Jawa Tengah. Desakan tersebut muncul karena seluruh persiapan dinilai telah rampung, namun ribuan calon penerima manfaat di Karimunjawa, Kabupaten Jepara, dan sejumlah wilayah pelosok Kabupaten Demak hingga kini masih menunggu dimulainya program.

Investor pembangunan SPPG, Rendra, mengatakan pihaknya telah menuntaskan berbagai kebutuhan operasional, mulai dari penyediaan lahan, pembangunan dapur SPPG, penyiapan jaringan distribusi logistik, hingga koordinasi dengan pemerintah desa, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan pelaku UMKM setempat.

Menurut Rendra, pengalaman mengerjakan berbagai proyek di Karimunjawa membuat timnya telah memahami karakteristik wilayah kepulauan, sehingga konsep operasional SPPG disusun secara matang dengan mempertimbangkan berbagai tantangan yang ada.

“Kami sudah memahami kondisi lapangan. Jaringan penyedia material, transportasi laut, hingga mitra di Karimunjawa sudah terbentuk sejak lama. Jadi ketika dipercaya mengelola SPPG, kami sebenarnya sudah sangat siap untuk langsung bekerja,” kata Rendra, Selasa (30/6).

Ia menjelaskan, tantangan utama pelaksanaan MBG di wilayah 3T bukan terletak pada pembangunan dapur, melainkan pada distribusi logistik yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan transportasi laut.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah menyiapkan armada kapal barang untuk mendukung distribusi bahan pangan dan kebutuhan operasional menuju Karimunjawa. Sistem distribusi juga dirancang menggunakan titik konsolidasi sebelum bahan pangan disalurkan ke masing-masing wilayah pelayanan.

Selain itu, Rendra mengungkapkan pihaknya juga menyiapkan pembangunan fasilitas cold storage atau gudang penyimpanan berpendingin sebagai cadangan bahan pangan ketika cuaca buruk menghambat pelayaran.

Meski fasilitas tersebut belum diatur secara khusus dalam petunjuk teknis BGN, menurutnya keberadaan cold storage sangat penting agar pelayanan MBG tetap berjalan tanpa terganggu kondisi cuaca.

“Kalau cuaca buruk dan kapal tidak bisa berangkat, stok bahan pangan tetap tersedia. Jadi pelayanan makan bergizi kepada anak-anak tidak sampai berhenti,” ujarnya.

Tak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, operasional SPPG juga dirancang untuk menggerakkan perekonomian masyarakat setempat. Pemerintah desa, BUMDes, UMKM hingga nelayan akan dilibatkan sebagai pemasok bahan pangan.

Menu MBG nantinya juga disesuaikan dengan potensi lokal, terutama hasil laut yang sedang musim seperti cumi-cumi, tongkol, dan tenggiri.

“Harapan kami, program ini tidak hanya meningkatkan gizi anak-anak, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat lokal melalui UMKM, BUMDes, dan nelayan,” katanya.

Layani 2.514 Penerima Manfaat

Rendra menyebutkan, berdasarkan hasil verifikasi, lima SPPG yang diusulkan di wilayah 3T Karimunjawa dan Demak diproyeksikan melayani sebanyak 2.514 penerima manfaat.

Rinciannya meliputi 449 penerima manfaat di Desa Tambak Gojoyo, 326 penerima manfaat di Desa Parang, 166 penerima manfaat di Desa Nyamuk, 1.041 penerima manfaat di Desa Kemujan, serta 532 penerima manfaat di Desa Tambak Seklenting.

Menurutnya, data tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis sehingga pelaksanaannya di wilayah kepulauan tidak seharusnya terus mengalami penundaan.

Wilayah 3T Diminta Menjadi Prioritas

Rendra menilai pelaksanaan MBG selama ini masih lebih banyak menyasar kawasan perkotaan atau wilayah aglomerasi yang memiliki akses infrastruktur lebih baik. Sementara itu, daerah 3T yang justru menghadapi tantangan lebih besar belum memperoleh perhatian yang setara.

Padahal, apabila tujuan utama program adalah meningkatkan kualitas gizi anak sekaligus menekan angka stunting, wilayah 3T semestinya menjadi prioritas pelaksanaan.

Ia mengaku prihatin karena hingga kini anak-anak di Karimunjawa belum dapat menikmati manfaat Program Makan Bergizi Gratis, sementara program serupa telah berjalan di berbagai daerah lain.

“Anak-anak di Karimunjawa dan pelosok Demak juga berhak mendapatkan Program Makan Bergizi Gratis. Mereka melihat teman-temannya di daerah lain sudah menikmati program ini, sementara mereka belum. Kami berharap pemerintah memberi perhatian lebih kepada wilayah 3T,” ujarnya.

Menurut Rendra, masyarakat di Karimunjawa dan sejumlah wilayah Demak terus mempertanyakan kapan SPPG mulai beroperasi. Namun sebagai investor sekaligus pelaksana di lapangan, pihaknya belum dapat memberikan kepastian karena seluruh keputusan berada di tangan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional.

Ia berharap BGN segera mempercepat operasional SPPG di wilayah 3T Jawa Tengah agar ribuan calon penerima manfaat dapat segera merasakan manfaat Program Makan Bergizi Gratis.

“Program ini sangat baik untuk meningkatkan gizi anak sekaligus menekan stunting. Yang kami harapkan hanya satu, jangan sampai wilayah 3T terus tertinggal. Anak-anak di kepulauan juga berhak memperoleh pelayanan yang sama seperti anak-anak di daerah lain,” pungkasnya.***

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

Verified by MonsterInsights