one-stop-property-new

Manfaatkan Media Sosial untuk Publikasi Kesiapsiagaan Bencana

0
one-stop-property-new
Ketua Bidang PB PMI Jateng, Sarwa Pramana memimpin rakor bidang PB yang diikuti Kepala Markas dan Staf Bidang PB PMI se-Jateng di Aula Markas PMI Jateng, Sabtu (17/3/19).

SEMARANG – Seiring meningkatnya kejadian bencana di Jawa Tengah sejak awal tahun ini, Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Tengah selenggarakan Rapat Koordinasi Bidang Penanggulangan Bencana (PB) yang diikuti Kepala Markas dan Staf Bidang PB PMI se-Jawa Tengah.

Ketua PMI Jateng, Imam Troyanto mengungkapkan, kondisi cuaca yang sering berubah drastis, harus menjadi catatan bagi PMI untuk siaga.

“Undang-undang Nomor 1 tahun 2018 tentang Kepalangmerahan dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2019 tentang aturan pelaksanaan UU, mandat utama PMI adalah terlibat aktif dalam penanggulangan bencana,” kata Imam saat membuka rakor di aula Markas PMI Jateng, Semarang, Sabtu (16/3/19).

Imam juga mengingatkan agar kesiapsiagaan bencana PMI kabupaten-kota di Jateng dengan kapasitas dan sumber daya yang dimiliki dan pemanfaatan media sosial.

“Selain itu, ketersediaan darah yang dibutuhkan masyarakat, tetap juga diperhatikan, agar maksimal dalam pelayanan untuk masyarakat,” imbuhnya.

Wakil Ketua Bidang Relawan PMI Jateng Gunawan Permadi, memberikan paparan tentang pentingnya Media Sosial. Era sekarang, media sosial memiliki peran penting dari sisi informasi dan publikasi.

“PMI tidak boleh mengabaikan medsos, sebagai saluran komunikasi publik, sehingga harus dikelola dengan baik dan berkesinambungan,” ujar Gunawan.

Keberanian berkomunikasi informal dengan kalangan muda juga perlu dibangun, agar PMI dapat beradaptasi dan diterima oleh kalangan milenial.

“Anak muda sekarang dapat mendapatkan informasi detail dengan menjelajahi situs-situs internet. Sehingga cukup sajikan informasi kebencanaan secara singkat-simple, namun gamblang-jelas, serta memperhatikan aturan yang berlaku,” pesannya.

Ketua Bidang PB PMI Jateng mengatakan agar PMI selalu siaga untuk mengurangi risiko dampak bencana dengan lebih mengaktifkan Posko ditiap wilayah.

“PMI harus 24 jam dan 7 hari, dalam kesiapsiagaan, penanggulangan bencana dan pelayanan masyarakat,” katanya.

Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) penting pula untuk diberdayakan secara efektif. “Kembangkan tim sibat agar peran serta masyarakat dalam kesiapsiagaan lebih meningkat dan tepat sasaran,” ujarnya.

Sarwa juga mengingatkan mekanisme pelaporan pertanggungjawaban dalam aktifitas PMI.

“Setiap kejadian bencana memerlukan penanganan harus cepat dan tepat. Sangat penting bagi PMI dalam menyusun perencanaan kegiatan termasuk kondisi darurat bencana. Sehingga menjaga akuntabilitas PMI,” ujarnya. (ZP/07)

Tinggalkan pesanan

email kami rahasiakan