Bandara Ngloram Diminati Pengusaha Penerbangan Carter

SEMARANG – Usai pendaratan King Air 200GT ke Bandar Udara Ngloram akhir pekan lalu, bandara yang pembangunannya ditargetkan rampung akhir 2020 bakal semakin ramai. Pasalnya, sudah ada pengusaha penerbangan sewaan atau carter yang berminat membuka penerbangan di bandara itu.

Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah Satriyo Hidayat mengatakan bahwa, saat ini sudah ada pihak swasta yang bersedia melakukan penerbangan carteran di bandara baru itu.

“Kalau sudah siap beroperasi, kita akan cari siapa yang bersedia nyarter pesawat. Enam bulan lalu sudah ada GM (General Manager) sebuah perusahaan yang (minat) mencarter pesawat untuk mendarat di bandara tersebut. Rutenya dari Ngloram ke Surabaya, Ngloram ke Solo (balik) Ngloram, selama tiga bulan. Namun itu menunggu jika (panjang landasan) sudah 1.600 meter,” jelas Satriyo, Selasa (14/1/20).

Ditambahkan, bandara itu akan dipersiapkan agar didarati oleh pesawat tipe jet. Namun, pengoperasiannya, menunggu evaluasi apakah rute tersebut diminati saat pengoperasian pesawat tipe baling-baling.

Menurutnya, jika panjang landasan telah mencapai 1.600 meter, bandara tersebut akan mampu melayani penerbangan pesawat baling-baling tipe ATR-72, secara maksimal dengan 72 penumpang dan kru. Artinya, kapasitas penumpang bisa maksimal ketika tinggal landas maupun mendarat.

Sementara, dengan kondisi sekarang di mana landasan baru sepanjang 1.200 meter dengan lebar 30 meter, kapasitas penumpang ATR-72 masih kurang dari 70 orang. Karenanya, pada 2020, direncanakan penambahan panjang runway menjadi 1.600 meter.

Bandara Ngloram, terang Satriyo, sudah diujicoba dengan pendaratan dan take off oleh pesawat King Air 200GT, PK-CAC, pada Sabtu (11/1/20), untuk memetakan pergerakan pesawat saat melakukan operasional di bandara itu. Ujicoba itu sendiri akan dicatat oleh Airnaf, yang kemudian menerbitkan notice, kepada Air Man atau pilot.

Dia mengakui, potensi Bandara Ngloram sangat besar. Sebab, di wilayah Cepu terdapat sejumlah perusahaan minyak milik asing, yang mempekerjakan ekspatriat. Sementara, selama ini penerbangan hanya sampai ke wilayah Surabaya atau Solo. Jika bisa segera dioperasikan, Satriyo yakin kawasan yang kaya akan “Emas Hitam” itu akan bertumbuh.

Ia menyebutkan, Bandar Udara Ngloram akan dihubungkan dengan stasiun kereta api. Apalagi, jarak bandara dengan Stasiun Kapuan saat ini hanya sekitar satu kilometer. Sedangkan, dengan Terminal Cepu berjarak 6,6 kilometer. Dengan skenario tersebut, akan tercipta konektivitas antarmoda transportasi.

“Harapannya Ngloram menjadi simpul transportasi udara. Jadi ketika moda kendaraan darat dan kereta penuh, bisa menggunakan alat angkut udara,” urainya.

Bandara Ngloram juga diharapkan bisa menjadi moda transportasi pilihan, bagi warga sekitar Blora. Antara lain, Rembang, sebagian Grobogan, dan wilayah di Jawa Timur, seperti Ngawi, Bojonegoro dan Tuban, yang diperkirakan akan menuai imbas positif pembangunan Ngloram.

Disinggung mengenai pembangunan Bandara Ngloram, menurutnya, akan melibatkan tiga instansi, yakni, Kementrian Perhubungan, Pemprov Jateng dan Pemkab Blora.

“Pemerintah provinsi dan kabupaten menyediakan lahan, sementara pembangunannya dari kementrian,” tutupnya. (ZP/07)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here