Di Era JKN-KIS Berobat Tidak Selalu di Rumah Sakit

SEMARANG – Pada era program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) sekarang ini masyarakat khususnya peserta JKN-KIS cenderung ingin memanfaatkan pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat lanjutan (FKRTL). Namun sebaiknya, sebagai peserta pun kita perlu tahu alur dan prosedur pelayanan kesehatan yang mengharuskan peserta untuk kontak terlebih dahulu dengan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas, Klinik maupun Dokter Praktek Mandiri, kecuali dalam keadaan gawat darurat.

Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia tahun 2012, dari 736 daftar penyakit terdapat 144 penyakit yang harus dikuasai penuh oleh para lulusan karena diharapkan dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dapat mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas.

Sejalan dengan adanya ketentuan tersebut, sebagaimana diatur dalam Kepmenkes Nomor Hk.02.02/Menkes/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama, BPJS Kesehatan Cabang Semarang dan Puskesmas Mranggen 2 bersama-sama memberikan edukasi kepada masyarakat di Kecamatan Mranggen Demak tentang Program Rujuk Balik dan Program Pelayanan Penyakit Kronis, Selasa (9/7/19).

“Rangkaian kegiatan hari ini merupakan rangkaian kegiatan promotif preventif Puskesmas Mranggen 2. Jadi kami tidak hanya bisa memberikan pelayanan kesehatan bagi yang sakit saja atau pelayanan kuratif sajanamun juga pelayanan promotif dan preventif, sebagai upaya mencegah dan meningkatkan status kesehatan masyarakat. Seperti Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang diselenggarakan oleh Puskesmas bagi peserta JKN-KIS dengan penyakit Hipertensi dan Diabetes Melitus sangat bisa ditangani di Puskesmas, karena dokter di Puskesmas bisa memberikan obat yang sama dengan yang diresepkan oleh dokter spesialis di Rumah Sakit. Sehingga tidak perlu masyarakat yang menderita penyakit Diabetes Mellitus dan Hipertensi “minta” dirujuk ke Rumah Sakit hanya untuk berobatkarena tentunya membutuhkan waktu dan biaya bagi yang tempat tinggalnya jauh,” kata Kepala puskesmas mranggen dr. Haerudin pada acara Sosialisasi tersebut.

Ada 3 hal penting yang disampaikan dalam acara sosialisasi tersebut, Pertama, Skrinning Kesehatan. Sebagai peserta JKN-KIS harapannya tidak sakit, sehingga sebagai upaya mendeteksi faktor risiko penyakit Diabetes Mellitus akan dilakukan pemeriksaan berat badan, Tinggi Badan dan lingkar perut bagi peserta yang berkunjung ke FKTP. Dokter akan melihat apabila indeks masa tubuh (IMT) atau Lingkar Perutberada dalam batas normal atau diatas normal. Jika diatas normal maka peserta berpotensi menderita penyakit Diabetes Melitus dan bisa untuk dilakukan skrinning lanjutan berupa pemeriksaan Gula Darah Puasa (GDP) dan atau Gula Darah 2 jam Puasa (GDPP).

“Bagi peserta JKN-KIS apabila dari fasilitas kesehatan memberikan pengantar skrinning lanjutan mohon untuk dipatuhi, karena banyak dari peserta yang mengabaikan karena merasa sehat dan baik-baik saja,” ucap Asri Wulandari Kepala Bidang Penjaminan Manfaat Primer BPJS Kesehatan Cabang Semarang.

Kedua, Prolanis. Dari hasil skrinning peserta apabila hasilnya kurang baik dan mengindikasikan gejala Diabetesmelitus dan Hipertensi maka peserta harus mulai mengevaluasi atau merubah pola makan, pola hidup (life style), konsultasi dokter dan dihimbau menjadi peserta Prolanis. Dengan menjadi peserta Prolanis maka akan memperoleh Pemeriksaan rutin setiap bulan, Pemeriksaan lengkap tahunan, Konsultasi dan mengikuti kegiatan Prolanis seperti senam dan edukasi.

Ketiga, mengenai Program Rujuk Balik (PRB). Peserta yang memperoleh pelayanan kesehatan di rumah sakit apabila tidak ada komplikasi, tidak ada penyulit dan dalam keadaan stabil, maka bisa dikembalikan atau dirujuk balik oleh dokter spesialis RS ke FKTP. Ada 9 penyakit yang bisa dirujuk balik antara lain, Diabetes Mellitus, Hipertensi, PPOK, Epilepsi, Asma, Jantung, Penyakit Jiwa, SLE, dan Stroke. Pengobatan dan pemantauan pasien PRB selanjutnya akan diteruskan oleh dokter di FKTP sama persis seperti yang diberikan oleh dokter spesialis di RS. Untuk Obatnya disediakan dan dilayani oleh Apotek PRB yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

“Ini yang kami harapkan bahwa Puskesmas sebagai FKTP menjadi garda pertama dalam memberikan pelayanan dengan peserta JKN-KIS dan dekat dengan masyarakat, sehingga harapannya edukasi-edukasi yang dilakukan oleh Puskesmas bisa merubah paradigma masyarakat dari paradigma sakit menjadi paradigma sehat dan juga merubah mindset masyarakat bahwaberobat tidak harus selalu ke Rumah Sakit, Karena di FKTP juga bisa,” tutup Asri. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here