Gus In’am Sampaikan Filosofi Ketupat ke Warga Lempongsari

0
Gus In’am saat memberikan tasusyiah ke warga Lempongsari Semarang. (foto:ist)

SEMARANG, ZONAPASAR.COM – Syawalan identik dengan gambar ketupat. Ketupat pun sebenarnya sudah ada sejak jaman Walisongo dan memiliki makna mendalam dalam silaturahmi.

Hal itu disampaikan oleh Dosen UIN Walisongo Dr.KH.Muhammad In’am Muzahidin,M.Ag yang biasa dipanggil Gus In’am saat mengisi tausyiah  kepada warga RT 4 RW III Lempongsari I Kelurahan Lempongsari, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang dalam Halalbihalal di Balai RT 04 pada 13 Mei 2023.

Menurut Gus In’am, Syawal itu identik dengan gambar Kupat. Filosofi Kupat muncul pada zaman Walisongo yang bisa diartikan Laku Papat yaitu Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.

Ke-4 unsur itu harus selalu dibudayakan agar terjalin silahturahmi antarwarga, tanpa ada perbedaan pangkat ataupun golongan. ”Dengan ‘HATI’ kita tingkatkan kebersamaan untuk memperkuat tali persaudaraan sesama warga RT 04 RW 03 Lempongsari I,” katanya.

”Ketupat menjadi simbol maaf bagi masyarakat Jawa, yaitu ketika seseorang berkunjung ke rumah kerabatnya nantinya mereka akan disuguhkan ketupat dan diminta untuk memakannya. Apabila ketupat tersebut dimakan, secara otomatis pintu maaf telah dibuka dan segala salah dan khilaf antar keduanya terhapus,” ungkapnya.

Ditambahkan, terdapat makna lain mengenai beras yang menjadi isian dari ketupat. Beras diibaratkan dengan simbol nafsu dunia dan janur mencerminkan hati nurani. Dengan demikian, ketupat memiliki makna nafsu dunia harus dibungkus dengan hati nurani. (***)

Tinggalkan pesanan

email kami rahasiakan

Verified by MonsterInsights