Jateng Deflasi 0,21%, 5 Komoditas Ini Jadi Penopangnya

Kepala BPS Provinsi Jateng, Sentot Bangun Widoyono (Foto: Zikan)

SEMARANG- Penurunan harga telur ayam ras, angkutan udara, bawang merah, cabai rawit dan beras menopang ekonomi Jawa Tengah sehingga meraih deflasi sebesar 0,21% selama bulan Agustus 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat pada bulan Agustus 2018 di Jawa Tengah terjadi deflasi sebesar 0,21% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 131,71.

Kepala BPS Provinsi Jateng, Sentot Bangun Widoyono mengatakan, deflasi di Jateng terjadi karena turunnya harga yang ditunjukkan dengan penurunan indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 1,31%, selanjutnya kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,44% dan kelompok sandang sebesar 0,12%.

“Penyebab utama deflasi Jawa Tengah Agustus 2018 adalah turunnya harga telur ayam ras, angkutan udara, bawang merah, cabai rawit dan beras,” kata Sentot, Senin (3/9).

Sentot menambahkan, sedangkan yang menahan Iaju deflasi adalah kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,38%, diikuti kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,30%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,15% dan kelompok kesehatan sebesar 0,11%.

“Yang menahan Iaju deflasi adalah naiknya kue kering berminyak, kayu balokan, biaya sekolah menengah pertama, salak dan upah pembantu rumah tangga,” jelasnya.

Dia menerangkan, deflasi terjadi di enam kota Survei Biaya Hidup (SBH) di Jateng. Kota Surakarta mengalami deflasi tertinggi yaitu sebesar 0,58% dengan IHK sebesar 128,22, diikuti lima kota Iain yang juga deflasi yaitu Kota Tegal sebesar 0,22% dengan IHK sebesar 129,96, Kota Purwokerto sebesar 0,17% dengan IHK sebesar 130,41, Kota Cilacap sebesar 0,12% dengan IHK sebesar 136,30.

“Deflasi terendah terjadi di Kota Kudus dan Kota Semarang masing-masing sebesar 0,11% dengan IHK masing-masing sebesar 139,54 dan 131,45,” ujarnya.

Dia melanjutkan, deflasi terjadi di tiga ibukota provinsi di Pulau Jawa sedangkan tiga ibukota provinsi Iainnya mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Yogyakarta sebesar 0,26% diikuti Kota Semarang sebesar 0,11% dan terendah di Kota Bandung sebesar 0,02%.

“Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surabaya sebesar 0,23% diikuti Kota Serang sebesar 0,07% dan inflasi terendah di DKI Jakarta sebesar 0,03%,” pungkasnya. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here