Kembangkan Ekonomi Syariah, BI Dorong Peran Pesantren dan Industri Halal

Gubernur BI Agus Martowardojo, tengah memberi sambutan dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) 2018 di Hotel Gumaya, Semarang, Rabu (2/4).

SEMARANG- Bank Indonesia (BI) mendorong pengembangan ekonomi pesantren, UMKM syariah, maupun industri halal sebagai suatu ekosistem yang utuh dalam local halal value chain (rantai nilai halal daerah) dengan memanfaatkan local wisdom masing-masing daerah, merupakan langkah yang tepat untuk mengoptimalkan besarnya potensi ekonomi syariah regional.

Hal itu diungkapkan, Gubernur BI Agus Martowardojo, dalam pembukaan Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) 2018 di Hotel Gumaya, Semarang. Dengan tema “Peningkatan Peran Pesantren dan Industri Halal dalam Pengembangan Ekonomi Syariah”, untuk mengembangkan ekonomi syariah secara serentak di seluruh Indonesia dalam mendukung kemajuan ekonomi nasional.

“Perekonomian Indonesia tahun 2017 menunjukkan kinerja yang baik di tengah berbagai tantangan yang masih menyelimuti perekonomian global. Ke depan, ekonomi Indonesia dapat tumbuh secara berkelanjutan, seimbang, dan inklusif apabila partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam kegiatan ekonomi dapat lebih ditingkatkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Terkait hal tersebut, ekonomi dan keuangan syariah dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan partisipasi masyarakat,” kata Agus Martowardojo, Rabu (2/5).

Dijelaskan, Di dunia internasional, kinerja ekonomi dan keuangan syariah tengah memperlihatkan pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 2016, volume industri halal global mencapai Rp 4.15 triliun dolar AS dan diperkirakan akan meningkat mencapai Rp 6.78 triliun dolar AS pada tahun 2022, dimana Indonesia merupakan pangsa terbesar bagi produk industri halal tersebut. Pada tahun 2016, volume pasar makanan halal di Indonesia mencapai Rp 169.7 miliar dolar AS. Kondisi ini menunjukkan besarnya potensi pasar Indonesia bagi produk halal.

Ia menambahkan, Bank Indonesia pun memberikan kontribusi aktifnya dengan menyusun blueprint pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang berlandaskan pada tiga fokus strategi utama, yaitu pilar pemberdayaan ekonomi syariah, pilar pendalaman pasar keuangan syariah, dan pilar riset, asesmen, dan edukasi ekonomi dan keuangan syariah.

Sedangkan, dalam kesempatan pembukaan Fesyar kali ini dilakukan pula simbolisasi pelaksanaan program Pemberdayaan Ekonomi untuk Penguatan Kemandirian Pondok Pesantren. Seperti pembentukan Pusat Informasi Kajian dan Pengembangan Ekonomi Syariah (PIKES) dan pengembangan model bisnis Kampoeng Batik Laweyan.

Kemudian dilanjutkan peningkatan sinergi melalui linkage program antara BI, pondok pesantren, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan klaster binaan BI, dan ketiga, penandatanganan komitmen bersama gerakan santri membatik mushaf Alquran. Selain itu, dilakukan pula penyerahan Rekor MURI untuk edukasi ekonomi syariah pelajar, dan terakhir, pengumuman tokoh ekonomi syariah unggulan. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here