Angkat Pamor Uwi dan Gembili, Jateng Gerakkan Diversifikasi Pangan Lokal

SEMARANG – Konsumsi beras dan terigu di Jawa Tengah masih mencapai 91 persen. Karenanya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong diversifikasi pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan terigu, dengan memperkuat kedaulatan pangan nasional, sekaligus mempromosikan konsumsi umbi-umbian, seperti garut, gembili dan uwi, sebagai panganan sumber prebiotik.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Sekda Provinsi Jawa Tengah Peni Rahayu mengungkapkan, pangan lokal seperti garut, ganyong, uwi, gembili, talas sukun dan waluh bisa menjadi aset kekayaan pangan. Penganekaragaman pangan seperti umbi-umbian juga diharapkan mampu mengurangi defisit impor gandum.

“Masyarakat banyak yang beranggapan umbi-umbian sebagai makanan kelas dua. Padahal menurut penelitian umbi-umbian adalah sumber prebiotik, untuk meningkatkan imunitas dan saluran cerna,” ujar Peni, membacakan sambutan, mewakili Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, pada Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal 2020, di Lapangan Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (19/8/2020).

Ditambahkan, umbi-umbian juga bisa diolah menjadi berbagai macam panganan. Seperti kudapan, biskuit, mi, bakso, bubur, nugget, serta bahan pengental, penyalut, dan sebagainya.

Berdasarkan data, industri makanan jenis mi, biskuit, wafer, dan crackers, menyumbang kontribusi sebanyak 85 persen. Karenanya, potensi pengembangan cookies dari umbi-umbian lokal terbuka lebar.

“Melihat besarnya potensi aplikasi tepung dan pati dari umbi-umbian lokal, maka pengembangan tepung dari umbi-umbian nantinya diharapkan menggeser kedudukan tepung terigu,” papar Peni.

Diversifikasi pangan diharapkan, mengangkat citra umbi-umbian lokal, juga mengantisipasi krisis pangan global dan penyediaan karbohidrat lokal nonberas. Di samping itu, diharapkan dapat menggerakan ekonomi masyarakat, melalui pemberdayaan UMKM.

Selain itu, berdasarkan skor Pola Pangan Harapan (PPH) tahun 2019, konsumsi beras dan terigu warga Jateng mencapai 91 persen, dibanding umbi-umbian, jagung, kentang sukun, dan sebagainya. Dengan penganekaragaman pangan lokal, diharapkan dapat mengurangi ketergantungan akan beras dan terigu.

Pada acara tersebut, dipamerkan pula kreasi panganan dari umbi-umbian lokal. Sebanyak 11 pelaku usaha Pengembangan Industri Pangan Lokal (PIPL). Satu di antaranya, kreasi mi pelangi Kelompok Wanita Tani (KWT) Ceria, Desa Pagersari, Patean, Kabupaten Kendal, yang terbuat dari tepung singkong atau tapioka.

Ketua KWT Ceria Eny Woro Subekti mengungkapkan, penamaan mi pelangi karena produknya memiliki warna beragam.

“Kami pewarnanya menggunakan bahan alami. Seperti daun kelor, sawi, bayam merah, tomat, buah naga, dan sebagainya,” sebut Woro.

Ia menyebut, selama ini usahanya didampingi oleh binaan Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jawa Tengah. Selain bantuan alat, pihaknya juga dibantu pelatihan dan pemasaran daring.

“Bantuannya berupa alat 10 macam alat, termasuk alat fortifikasi mi. Alhamdulillah pesanan sekarang sudah banyak dari sekitar Kendal. Dari luar kota juga ada, tapi kami terkendala proses pengiriman, karena produk kami kan lembut, berbeda dengan mi instan pada umumnya,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here