GP Ansor Semarang Ajak Kaum Muda Tangkal Radikalisme Secara Komprehensif

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menyampaikan sambutan di acara Simposium Kebangsaan Pencegahan Radikalisme di Media Sosial "Peran Generasi Milenial Menghadapi Radikalisme di Dunia Medsos" di Aula Balai Kota Pemkot Semarang, Minggu (22/9).
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menyampaikan sambutan di acara Simposium Kebangsaan Pencegahan Radikalisme di Media Sosial “Peran Generasi Milenial Menghadapi Radikalisme di Dunia Medsos” di Aula Balai Kota Pemkot Semarang, Minggu (22/9).

SEMARANG – Gerakan radikalisme yang disusupkan melalui platform media sosial semacam Facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya, kian gencar dilakukan oleh kelompok berkepentingan tertentu. Karena itu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Semarang berusaha melakukan upaya antisipatif.

Salah satu cara yang dilakukan adalah menggelar Simposium Kebangsaan dengan tema “Pencegahan Radikalisme di Media Sosial” di Gedung Aula Balai Pemuda Kota Semarang, Minggu (22/9).

Dalam kegiatan tersebut, GP Ansor Kota Semarang mengundang sejumlah tokoh dan pakar di bidangnya, yakni Anggota Presidium Mafindo Farid Zamroni M, Penulis Buku Daulah Islamiyah dalam Al-Qur’an dan Assunnah M. Najih Arromadhoni, Ketua BANAAR Kota Semarang Abdurrahman, dan Ketua PW GP Ansor Jateng Sholahuddin Aly.

Ketua GP Ansor Semarang Rahul Saiful Bahri menjelaskan, simposium yang dihadiri sekitar 600 peserta tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman secara komprehensif mengenai bagaimana paham radikalisme telah disebarkan melalui media sosial.

Menurutnya, GP Ansor Kota Semarang akan terus berkomitmen menjaga keutuhan Pancasila dan NKRI.

“Siapapun yang ingin memecah belah dan mengusik dasar negara Pancasila menjadi Khilafah, maka kami akan jadi garda terdepan untuk menolaknya,” tegas Rahul.

Dia menjelaskan, persoalan radikalisme melalui media sosial tidak bisa dianggap sepele. Gerakannya massif tapi pihak yang menjadi konfrontir masih minim.

“Jika profokasi yang disebar oleh kelompok intoleran kemudian diterima oleh orang yang belum memiliki bekal keagamaan yang mumpuni, maka akan rentan terpapar. Ini sangat bahaya,” imbuh Rahul.

Ia menambahkan, gerakan radikalisme tidak bisa diselesaikan sendiri. Banyak pihak yang juga harus turut berperan. Apalagi, kata Rahul, selain di media sosial, radikalisme juga sudah mulai masuk ke ranah pendidikan.

“Gerakannya di dunia nyata juga sudah sangat mudah kita temui, dari mulai tingkat TK, sekolah dasar, kemudian sekolah menangah melalui organisasi rohisnya, belum lagi di kampus-kampus. Maka kita harus bersama-sama mengantisipasi,” ungkap Rahul.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang berkesempatan menghadiri Simposium, mengapresiasi terhadap kegiatan yang dilakukan GP Ansor.

“Apa yang dilakukan Ansor ini sebagai bukti kecintaan terhadap NKRI,” katanya.

Menurut Hendi, sapaannya, dalam sejarahnya, istilah media sosial sudah muncul jauh sebelum era teknologi berkembang. Dulu, katanya, media sosial adalah sebuah wilayah di pinggir sumur, di mana banyak orang berkumpul dan saling menyampaikan gagasannya.

Meskipun saat ini istilah media sosial merujuk pada hal berbeda, tapi kata Hendi, substansinya tidak beda. Sama-sama tempat untuk saling bertukar pendapat.

Hanya saja, lanjut Hendi, yang jadi masalah adalah banyaknya netizen yang tidak bertanggung jawab, melakan provokasi dan menyebar hoaks demi memuluskan aksinya. “Ini yang bahaya, kita harus segera antisipasi,” paparnya.

“Kalau menurut saya, menangkal hal-hal hoaks di medsos itu kan gampang. Tinggal kalau ada yang ngomong keliru, mari semua serang dengan argumen yang lebih kuat. Kita luruskan,” imbuh Hendi.

Dia melanjutkan, perlunya memberi pemahaman, utamanya kepada generasi muda sebagai pengguna media sosial terbanyak. Bahwa bagaimana bahaya radikalisme itu serta apa yang harus dilakukan warga negara untuk Pancasila dan NKRI.

Hendi mengaku miris dengan persoalan radikalisme. Sebab, semakin hari pertumbuhannya semakin banyak. “Bahkan tidak hanya di tingkat anak muda, tapi satu-dua orang profesor di perguruan tinggi negeri juga diduga ikut terpapar,” ungkapnya.

“Maka yang paling penting sekarang, baik dari unsur pemerintah maupun masyarakat, untuk menanamkan rasa cinta bangsa sebagai warga negara terhadap NKRI dan Pancasila,” imbuhnya. (ZP/06)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here