Industri Kreatif Miliki Peluang Besar untuk Ekspor

Owner Identix Batik, Irma Susanti saat menjadi pembicara dalam seminar nasional & talk show bertajuk The Golden Way To Be Young Entrepreneur, di Polines Semarang, Kamis (14/11/19).

SEMARANG – Peluang industri kreatif untuk masuk di pasar ekspor bisa dibilang sangat tinggi. Salah satunya adalah industri kreatif yang berhubungan dengan fashion, yakni batik. Batik Indonesia sendiri saat ini mulai mendunia dan diminati oleh pasar luar negeri.

Owner Identix Batik, Irma Susanti mengatakan, peluang industri kreatif untuk dipasar luar negeri sangatlah luas. Diferensiasi produk, dan keunikan batik ternyata tidak dimiliki oleh negara lain selain Indonesia.

“Batik tulis, punya peluang ekspor yang besar. Produk Identix misalnya, diminati oleh pasar luar negeri, misalnya Eropa,” kata Irma saat menjadi pembicara dalam seminar nasional & talk show bertajuk The Golden Way To Be Young Entrepreneur, di Polines Semarang, Kamis (14/11/19).

Ia menjelaskan, batik yang ia buat memanfaatkan peluang yang tidak dimiliki negara lain ataupun pelaku bisnis batik tulis pada umumnya. Irma begitu ia disapa, memproduksi batik kustom dengan corak dan desain limited sehingga lebih eksklusif sekaligus memancarkan karakter pemakainya.

“Salah satunya memanfaatkan online, sehingga batik saya dikenal luas. Bahkan banyak pemasan yang datang dari London, Spanyol, Singapura, Malaysia, serta Jepang,” jelasnya.

Tahun lalu, Irma dan Identix Batik diajak pentas bareng fashion show di Potters Fields Park London Inggris dalam gelaran Indonesian Weekend, ia menampilkan 12 koleksi corak batik kustom yang dipadukan dengan kain sutera, serta berbagai material lainnya.

“Batik punya kekuatan budaya, hal inilah yang bisa dijual sekaligus melestarikan. Peluang bisnis yang besar ini, saya manfaatkan dengan memadukan teknologi,” tambahnya.

Kepada para mahasiswa, Irma mengajak agar sejak muda untuk kreatif. Salah satunya mengubah mindset, maaping dan melakukan planning bisnis, agar target yang dicanangkan bisa tercapai, serta tak lupa untuk terus berinovasi.

“Dulu saya berpikiran, lima tahun kedepan Identix bisa seperti apa, Alhamdulillah saat ini dikenal sebagai produsen batik yang kental dengan budaya Indonesia,” bebernya.

Sementara itu, Bagas Chandra Barista dari Foto Kopi, yang kini memiliki empat buah gerai di Semarang, lebih menekankan akan self branding dan produk branding ketika akan merintis atau sedang memiliki sebuah usaha.

“Self branding adalah pelayanan, keramahan dan lainnya. Porsinya sebesar 75 persen, sedangkan produk branding komposisinya 25 persen. Jadi bisa dibilang pelayanan adalah hal yang paling mendasar dalam bisnis,” pungkasnya. (ZP/07)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here