IPM Kendal: Dita Bukan Lagi Kader IPM

KENDAL- Dita Siska Millenia alias Maumil alias Ukhti Dita alias Dita, diamankan polisi karena diduga akan melakukan penyerangan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Sabtu (12/5) lalu. Dita lahir di Temanggung, 25 Januari 2000.

Berdasarkan kesaksiannya, dalam setahun terakhir perempuan berusia 18 tahun ini aktif mengikuti perkembangan Daulah Islamiyah di media sosial. Pada pertengahan 2016 Dita memutuskan berbaiat mendukung ISIS pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi.

Dita juga mengikuti sejumlah organisasi lain seperti organisasi Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM). Ia lulus dari SMK Muhammadiyah Kendal tahun 2017.

Pengakuan Dita ini mendapat tanggapan dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah IPM Kabupaten Kendal.

Ketua IPM Kendal Muhammad Nazulul Farqi menegaskan, Dita Siska Millenia yang diduga terlibat terorisme sudah bukan lagi kader IPM karena statusnya sudah lulus sebagai pelajar.

“Terduga pelaku memang pernah tercatat sebagai anggota IPM Kendal, yakni saat belajar di Ponpes Modern Darul Arqom, Patean, Kendal,” kata Muhammad Nazulul Farqi, Senin (14/5).

Dita, alumnus Ponpes Darul Arqom Kendal merupakan salah satu dari dua perempuan muda yang diduga akan melakukan aksi penusukan terhadap anggota Brimob di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, beberapa waktu lalu.

Dita, warga Dusun Jambon, Gemawang, Temanggung diamankan bersama Siska Nur Azizah, bermukim di Kampung Legok 1, Indragiri, Panawangan, Ciamis, Jawa Barat, ketika akan melakukan aksi tersebut.

Dari kedua perempuan muda itu, kepolisian menyita barang bukti berupa dua buah kartu tanda penduduk (KTP) atas nama keduanya, dua unit telepon seluler (ponsel), dan satu buah gunting.

Dita menjalani pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi Darul Arqom Kendal mulai 2014 hingga lulus 2017, kata Farqi, sehingga setelah itu sudah melepas statusnya sebagai pelajar yang menjadi syarat anggota IPM.

Ponpes Darul Arqom merupakan ponpes modern yang berada di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah yang menyelenggaran pendidikan mulai madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), hingga madrasah aliyah (MA) dan SMK.

Selepas lulus dari Ponpes Darul Arqom Kendal, kata dia, Dita melanjutkan belajar di Ponpes Darul Ulum, Majenang, Kabupaten Cilacap, Jateng, dan dikabarkan mengambil kuliah jurusan farmasi.

Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kendal Yusuf Darmawan menyampaikan keprihatinannya atas aksi terorisme yang diduga akan dilakukan Dita di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Ia menjelaskan Dita memang alumnus Ponpes Darul Arqom Kendal yang berada di bawah pengelolaan PDM Kendal sehingga segala aktivitasnya setelah lulus bukan lagi menjadi tanggung jawab pihak pondok.

“Jadi, Dita itu sudah lulus dari Ponpes Darul Arqom, kemudian menjalani semacam pengabdian di ponpes di Cilacap. Kami mencatat kasus Dita ini baru pertama kalinya, tetapi kan sudah lulus,” ujarnya.

Di luar Pondok Darul Ulum, Majenang, Kabupaten Cilacap, lanjutnya, kemungkinan Dita bertemu dengan orang-orang yang kemudian memengaruhinya sampai berani berbuat semacam itu sangat besar dan di luar pantauan.

Untuk pembelajaran di Ponpes Darul Arqom Kendal, tambah Yusuf, telah sesuai dengan kurikulum pendidikan yang berlaku, yakni MI, MTs, dan MA di bawah Kementerian Agama dan SMK di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Itu semua juga sudah diatur oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Pendidikannya (formal) memang menyatu dengan pendidikan kepondokan. Tidak ada yang namanya terorisme, dan sebagainya,” tegasnya. (ZP/05)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here