Pemprov Jateng Beberkan Penyebab Harga Bawang Putih Melambung

Istimewa.

SEMARANG – Harga bawang putih di Jawa Tengah yang sempat mencapai Rp55 ribu per kilogram, kini mulai berangsur turun. Kenaikan harga komoditas tersebut, tak lepas dari ketergantungan pasar lokal terhadap impor dari Tiongkok. Sementara, di negeri Tirai Bambu itu sedang diterpa isu virus Korona.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah Arif Sambodo menyebut, kenaikan harga bawang putih terjadi secara nasional. Hal itu dipengaruhi oleh dua hal, yakni belum optimalnya proses perdagangan di Tiongkok karena liburan Imlek yang mengakibatkan keterlambatan stok pesanan untuk bulan Desember 2019, serta isu akan adanya pemberhentian impor karena virus Korona.

Arif menambahkan, hingga saat ini belum ada pembuktian secara ilmiah terkait kontaminasi virus Korona, terhadap bawang putih.

“Hal itu menimbulkan sentimen negatif, mereka (importir) tentunya akan menghitung sampai dengan stok berakhir dan itu menimbulkan efek psikologis supply and demand. Kementrian kemarin sudah mengimbau para importir untuk melempar dengan harga sewajarnya. Ketika ada berita kita akan lanjutkan impor, harga bawang putih langsung turun. Rekomendasi impor juga hampir turun sebesar 100 ribu ton,” tuturnya, saat konferensi pers di Gedung A Lantai 1 Kantor Gubernur Jateng, Rabu (12/2/20).

Ia menambahkan, secara nasional 95 persen kebutuhan bawang putih tercukupi dengan mekanisme impor. Sedangkan Tiongkok, menguasai 90 persen produk bawang putih di Indonesia yang mencapai 550 ribu ton.  Sementara, kebutuhan bawang putih di Jawa Tengah, mencapai 10 ribu ton tiap bulan.

Berdasarkan pantauan Disperindag di Kabupaten Pati, kata Arif, merangkaknya harga bawang putih terjadi sejak akhir Desember 2019. Dari harga di bawah Rp30 ribu per kilogram, harga bumbu dapur itu kemudian melonjak drastis pada akhir Januari dan awal Februari. Pada 3 Februari 2020, harganya menyentuh Rp55 ribu per kilogram dan mencapai puncaknya ada 7 Februari yakni, Rp65 ribu per kilogram.

Pola hampir serupa terjadi di Kabupaten Banyumas di mana harga bawang putih naik drastis pada awal Februari 2020. Begitu pula di Kota Magelang, Kota Surakarta, Kota Tegal, Kota Pekalongan, Kabupaten Kudus, Kabupaten Cilacap, dan Kota Semarang.

”Harga di tingkat pengecer pada tanggal 31 Januari 2020, dari Rp38 ribu per kilogram, naik 46,32 persen menjadi Rp55.600 per kilogram. Harga tersebut bertahan sampai tanggal 9 Februari. Oleh karena itu kami melakukan inspeksi, pada Senin (10/2/20) kemarin,” ujarnya.

Inspeksi yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), di Penampungan Pedagang Pasar Johar MAJT, menemukan fakta baru. Harga yang sebelumnya mencapai lima puluh ribu per kilogram, turun drastis menjadi Rp 29 ribu.

Tak hanya berhenti di pasar tradisional, tim kemudian melakukan inspeksi ke distributor dan importir. Hasilnya sama, bawang putih asal Tiongkok tersedia dan stoknya mencukupi.

”Kenaikan bukan dipicu karena kurangnya stok, di lapangan beberapa pedagang besar memiliki persediaan sampai 20 ton, untuk kebutuhan empat hari mendatang,” urainya.

Arif menyebut, penurunan harga bawang tak lepas dari campur tangan pemerintah pusat. Berdasarkan informasi yang ia dapatkan, sudah ada rapat antara Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tata Tertig Niaga Veri Anggrijono dan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Indriasari Wisnu, beserta Satgas Pangan Polri.

”Isinya seputar imbauan kepada importir untuk menurunkan harga bawang ke distributor. Karena apabila harga masih liar, maka Satgas Pangan anak turun ke lapangan,” tutupnya. (ZP/07)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here