Hegemoni Piala Presiden Bukti Kecerdikan Jokowi

Presiden Jokowi disela menyaksikan laga perdana Piala Presiden. Foto: Setkab

PENGGILA bola di tanah air pasti saat ini tidak melewatkan sebuah tontotan turnamen pra musim dengan tajuk Piala Presiden. Piala Presiden yang juga disiarkan secara langsung oleh salah satu televisi swasta nasional ini sangat menyedot perhatian yang luar biasa bagi masyarakat, termasuk orang yang tidak mania bola.

Itu yang menyaksikan di layar kaca, belum lagi yang menonton langsung di stadion. Bahkan bisa dibilang ajang ini begitu menyita perhatian hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Bagaimana tidak, turnamen ini dijalankan dengan model pembagian grup, dimana pada babak penyisihan masing-masing grup bertanding dengan sistem home turnamen dengan satu tempat.

Beberapa tempat yang menjadi penyelenggaraan turnamen ini juga tersebar diantaranya di Bandung, Malang, Surabaya, Kalimantan, dan Bali.

Tim – tim yang berlaga pun juga merupakan tim elit tanah air yang memiliki suporter yang banyak. Sebut saja Persib Bandung, Arema FC, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, PSIS Semarang, PSM Makasar, PSMS Medan, Sriwijaya FC, Bali United, Bhayangkara FC, dan tim tim lainnya.

Pembagian Grup Piala Presiden 2018

Sebagai sebuah tontonan, Piala Presiden ini tidak hanya menjanjikan sebuah pertandingan olahraga sepakbola yang memperebutkan prestasi. Namun juga ada aspek pembinaan pemain muda, menggerakkan ekonomi masyarakat, industrialisasi sepakbola, dan memberikan hiburan kepada masyarakat luas hingga sampai pada pelajaran pengelolaan keuangan klub yang transparan.

Hal itu seperti yang ada dalam visi misi ajang Piala Presiden ini. Namun dibalik penyelenggaraan Piala Presiden ini, masyarakat seperti tidak menyadari bahwa selain visi misi tadi, ada misi terselubung yang menyertai ajang ini.

Siapa lagi kalau bukan Presiden Jokowi yang membonceng turnamen ini untuk melanggengkan kekuasaan.

Dalam Teori Hegemoni yang dikenalkan filsuf Italia, Antonio Gramsci, masyarakat Indonesia melalui Piala Presiden ini jelas – jelas telah terhegemoni dengan hingar bingar penyelenggaraan turnamen ini.

Dalam teori hegemoni, masyarakat secara tidak sadar ikut menonton, menikmati dan larut dalam euforia pertandingan – pertandingan yang tersaji di Piala Presiden. Padahal terkadang tidak semua orang menyukai sepakbola dan sepakbola bukan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Namun pada kenyataannya, orang seperti terbawa arus untuk menikmati Piala Presiden.

Keberhasilan Piala Presiden menghegemoni masyarakat Indonesia itu tak terlepas dari strategi jitu Pak Presiden dalam memanfaatkan euforia sepakbola di tanah air yang melibatkan massa yang tidak ada tandingannya dibandingkan olahraga lainnya. Media juga berperan besar dalam proses hegemoni Piala Presiden tersebut.

Dan hebatnya lagi itu sudah dipikirkan Pak Jokowi sejak awal begitu dilantik sebagai orang nomor satu di negeri yang sangat beragam ini. Menilik awal digelarnya Piala Presiden, ajang ini pertama kali diputar pada 2015, kurang lebih setahun setelah Jokowi menjadi presiden.

Persib Bandung menjadi tim yang berhasil menjuarai Piala Presiden 2015. Pada 2016 memang Piala Presiden tidak digelar, namun pemerintah dengan kendali Presiden Jokowi menggelar turnamen serupa dengan nama Piala Jenderal Sudirman.

Piala Presiden kembali digelar pada 2017 dengan Arema FC Malang sebagai juaranya. Gaung Piala Presiden semakin menggema dengan diadakan lagi di tahun ini, 2018. Tahun yang sudah mulai ancang – ancang menghadapi Pemilihan Presiden 2019.

Cukup mudah untuk menjawab misi terselubung apa yang menyertai Piala Presiden ini. Okelah dengan visi misi yang diusung Piala Presiden, namun lebih dari itu misi besar dari ajang ini adalah menge-goal-kan kembali Jokowi untuk lanjut di periode kedua 2019 – 2024. Turnamen itu menjadi bagian dari komunikasi politik Jokowi menuju 2019.

Menurut Steven Foaster dalam Political Communication, komunikasi politik merupakan cara dan implikasi dimana politisi berusaha untuk mengkomunikasikan pesan terhadap pemilih yang skeptis dan tidak terikat.

Kita tahu bahwa massa yang terlibat di sepakbola terutama suporter sebagian besar merupakan orang yang skeptis dengan politik. Mereka juga tergolong orang bebas yang tidak terikat oleh partai politik.

Selama ini sudah banyak kecerdikan Jokowi dalam melakukan komunikasi politik. Dan Piala Presiden adalah salah satu kecerdikan Jokowi dalam melakukan komunikasi politik untuk meraup suara dari lapisan masyarakat penggila sepakbola.

Jokowi yang berlatar belakang seorang pengusaha tentu sadar tidak begitu paham masyarakat olahraga. Jokowi sebagai seorang politisi juga tidak begitu dekat dengan masyarakat olahraga.

Namun hanya dengan sebuah hajatan Piala Presiden, ini menjadi strategi jitu Jokowi meraih simpati massa dari masyarakat olahraga, khususnya sepakbola.

Melalui Piala Presiden sebenarnya Jokowi telah mempraktikkan ideologi politik yang sangat kanan, proliberalisasi, industrialisasi, dan komersialisasi. Ini tentu bertolakbelakang dengan apa yang dianut Jokowi selama ini yakni pro kerakyatan dan anti liberal. Namun masyarakat sudah terlanjur terhegemoni Piala Presiden, sehingga mata pikirnya tertutup oleh hiruk pikuk yang tersaji dalam turnamen tersebut.

Jokowi juga memilih untuk membiarkan penguasa federasi tertinggi sepakbola di tanah air (PSSI), Edy Rahmayadi bermain di politik mencalonkan gubernur di Sumatra Utara, agar misi tadi berjalan mulus.

Jokowi memilih untuk membuat sepakbola tanah air tidak bergejolak, meski Ketum PSSI rangkap rangkap jabatan dan kini terjun di politik. Menpora yang biasanya tidak suka dengan politisasi sepakbola pun dibuat tertidur oleh Jokowi.

Kalau masih ingat politisasi sepakbola era Nurdin Halid, bagaimana persetujuan pemerintah melalui Menpora Andi Malarangeng selalu berseberangan dengan PSSI sehingga membuat sepakbola tanah air diskors oleh FIFA.

Ribut ribut sepakbola dengan pemerintah itu tidak berlaku di era Jokowi. Kita tahu Jokowi sangat tidak suka dengan namanya kegaduhan, berkali kali Jokowi menyampaikan kepada para pembantunya (menteri) maupun lembaga lembaga lain untuk tidak gaduh.

Kerja kerja dan kerja. Begitu prinsip yang dimiliki Jokowi. Bagaimanapun Piala Presiden merupakan kesuksesan Jokowi dalam memperluas basis massa untuk melanggengkan kekuasaan.

Inilah kecerdikan Jokowi disaat “lawan” politiknya sibuk dengan isu SARA, Jokowi bermain halus dengan tetap membidik suara dari rakyat jelata, seperti penggila sepakbola yang identik dengan olahraga masyarakat kelas menengah kebawah.

Diluar sepakbola, tentu Jokowi juga sudah mulai memanasi mesin partai partai pendukungnya seperti yang sudah dan hampir pasti mendukung Jokowi diantaranya PDI Perjuangan, Nasdem, Partai Golkar, Partai Hanura, PPP, PKB, dan partai baru Perindo serta PSI. Yang namanya politik selalu dinamis, sehingga bisa jadi dukungan partai ke Jokowi bertambah lagi kedepannya.

Melihat konstelasi politik di tanah air, siapapun wakilnya nanti, sulit untuk mengalahkan Jokowi di Pilpres 2019.  (*)

*Penulis adalah mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Undip dan Ketua Kelompok Kajian Kebijakan Media (K3M)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here