Media Jangan Mau Jadi Alat Politik Cagub Jateng

SEMARANG – Nuansa pertarungan pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2017 lalu sepertinya akan merembet ke Jawa Tengah. Itu terlihat dari salah satu calon yang sudah dijagokan Partai Gerindra yakni Sudirman Said.

Sama seperti di DKI Jakarta yang sukses menjadikan mantan menteri pendidikan Anies Baswedan sebagai gubernur, Gerindra dengan motor Prabowo Subianto bertekad kembali menjadi mantan menteri Joko Widodo, Sudirman Said menjadi Gubernur Jateng.

Gerindra yang getol menyodorkan menteri pecatan Presiden Joko Widodo ini patut menjadi perhatian di Jawa Tengah. Pasalnya dikhawatirkan strategi yang sama seperti di DKI Jakarta akan dibawa ke Jawa Tengah, yakni memainkan isu agama.

Terlebih lagi calon yang ditawarkan Gerindra tersebut juga kembali didukung beberapa partai seperti PKS, PAN, dan nantinya tidak menutup kemungkinan bertambah lagi.

Media yang memiliki peran besar dalam mempengaruhi masyarakat pun seolah terbawa arus ingin menggiring suasana pilkada DKI Jakarta 2017 ke Jawa Tengah tahun ini.

Tidak hanya media konvensional, media – media non konvensional (media online) ditambah media sosial (medsos) pun belakangan sudah gencar menyajikan beragam informasi tentang Sudirman Said. Banyak media yang sudah terlalu offensif mengabarkan Sudirman Said beserta calon – calon kuat yang akan menjadi pendampingnya.

Sementara media yang pro petahana, dalam hal ini calon yang akan dijagokan PDI Perjuangan, juga semakin gencar memberitakan kandidat yang diprediksi akan mendapat rekomendasi dari partai terbesar di Jawa Tengah ini.

Sejauh ini calon yang diekspos kencang dari poros PDIP adalah Ganjar Pranowo dan Mustofa. Ganjar sebagai petahana sudah jelas – jelas memiliki tim media sendiri yang sudah jauh – jauh hari ditampilkan tatkala bertemu langsung masyarakat.

Sedangkan Mustofa lebih memilih memanfaatkan media melalui cara penempatan berita yang dibungkus dengan advetorial. Strategi tim media Mustofa pun menempatkan berita – berita tersebut di halaman depan media sehingga telihat mencolok dan mudah dilihat pembaca.

Pengamat Media dari Kelompok Kajian Kebijakan Media (K3M), Alkomari mengkhawatirkan media akan larut dalam euforia pertarungan politik Pilgub Jateng 2018. “Kalau media sudah terang – terangan partisan terhadap salah satu calon dalam Pilgub Jateng, maka ini sebuah pertanda media telah kehilangan jatidirinya sebagai kontrol sosial yang harusnya independen dan tidak memihak,” ujarnya.

Dikatakan, sebenarnya bukan sebuah larangan ketika media bermitra atau menjalin kerjasama dengan salah satu calon yang akan berlaga di ajang Pilgub Jateng. Namun jangan meninggalkan fungsi kontrol sosial, agar kepentingan publik tidak terabaikan. “Media jangan mau hanya menjadi corong salah satu calon, boleh memberitakan tapi juga harus menampilkan kritik jika memang patut untuk dikritik,” katanya.

Selain itu media juga harus menjaga keberimbangan informasi. Ibarat sebuah pertandingan yang menampilkan beberapa kandidat, media jangan hanya melulu memberitakan satu kandidat saja. “Media harus memberikan kesempatan yang sama kepada semua calon untuk disampaikan ke publik,” tegas Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Undip ini.

Pihaknya juga berharap nantinya media juga jangan dijadikan alat politik salah satu kandidat untuk menyerang kandidat lainnya dengan isu – isu yang diangkatnya. Mengingat banyak isu yang berpotensi dijadikan media untuk menyerang kandidat, seperti isu KTP elektronik, isu agama, dan isu lainnya. (ZP/01)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here