Pacu Ekspor Sarang Burung Walet, Kementan Siapkan Layanan Digital

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil saat melakukan monitoring Rumah Proses Walet di Salatiga, Selasa (8/10).
Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil saat melakukan monitoring Rumah Proses Walet di Salatiga, Selasa (8/10).

SEMARANG – Komoditas sarang burung walet (SBW) saat ini menjadi produk pertanian unggulan berorientasi ekspor di banyak wilayah.

Setelah sebelumnya di tahun 2015 pasar tujuan utama SBW asal Indonesia ke negeri Cina sempat ditutup, kini Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian mencatat data lalu lintas eksportasi SBW dalam kurun waktu tiga tahun terakhir menunjukan tren peningkatan yang signifikan. Tercatat ditahun 2018 sebanyak 1,2 ribu ton dengan nilai ekonomi Rp. 3,6 triliun.

“Sudah menjadi tugas kami ketika terjadi hambatan dagang berupa persyaratan teknis, maka negosiasi harmonisasi peraturan kita lakukan. Sekarang kita jaga, kita pastikan produk yang diekspor sehat dan aman,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil saat melakukan monitoring Rumah Proses Walet di Salatiga, Selasa (8/10).

Menurut Jamil, selain melakukan upaya ini, pihaknya juga lakukan percepatan dan fasilitasi layanan perkarantinaan serta aspek kelestarian alam juga menjadi fokus pengembangan industri SBW.

Jamil menegaskan, bahwa SBW yang diekspor berasal dari rumah walet yang sudah teregistrasi. Bukan berasal dari gua, karena selain tidak mencukupi jumlahnya dalam skala industri, SBW asal gua juga tidak memenuhi persyaratan ketelusuran (traceability).

Sistem audit registrasi meliputi pemeriksaan dokumen baik regulasi formal maupun dokumen sistem keamanan pangannya serta pemeriksaan langsung ke lokasi rumah walet dan rumah prosesingnya. “Burung walet itu sumber dari SBW dan dari merekalah kita bisa ekspor, makanya tidak mungkin kita mengabaikan aspek kelestariannya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Karantina Pertanian Semarang, Wawan Sutian yang mendampingi kunjungan kerja kali ini menyebutkan data dari sistem otomasi Barantan IQFAST di wilayah kerjanya yang mencatat ada 56 eksportir walet dengan 31 rumah walet. Total ekspor pada periode Januari hingga September 2019 tercatat 38 ton senilai Rp. 1,06 triliun atau hampir 50% dari capaian nilai ekonomi SBW nasional yang mencapai Rp. 2,2 triliun.

Wawan juga menjelaskan bahwa untuk eksportasi sarang walet khusus ke Cina memiliki persyaratan teknis diantaranya berasal dari rumah walet dan prosesing yang teregistrasi di Barantan dan General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC).

Selain itu produk harus sudah dipanaskan dengan suhu inti produk tidak boleh dibawah 70°C selama 3,5 detik guna mematikan virus AI dan mikroba patogen lainnya. Selain itu kadar nitrit produk juga tidak boleh lebih dari 30 ppm. Juga harus ada jaminan ketelusuran hingga ke rumah walet.

Dari total 21 rumah proses walet yang sudah diregristrasi, saat ini secara nasional Barantan tengah memproses 10 rumah proses walet lagi. “Dengan potensi yang besar Jawa Tengah merupakan sentra, tidak saja rumah walet tapi juga industrinya,” ujar Jamil yang pada saat bersamaan juga melepas ekspor SBW sebanyak 224,15 kg senilai total Rp. 5,3 miliar milik PT Waleta Asia Jaya.

Joko Hartanto, selaku pemilik yang menerima Surat Kesehatan Hewan atau Health Certificate (HC) sebagai persyaratan negara tujuan mengapresiasi percepatan layanan dari Barantan. Ia menyebutkan proses registrasi, permohonan penetapan instalasi karantina hewan kini sudah melalui online yaitu lewat aplikasi Penetapan Instalasi Karantina Hewan.

Tidak hanya bisa dipantau prosesnya secara online, ia tidak perlu lagi mengajukan dokumen secara hard copy ke kantor layanan karantina. Registrasi penetapan tersebut, juga hanya membutuhkan wakru paling lama 8 hari kerja.

Joko juga memaparkan saat, kini pihaknya tengah mengembangkan produk hilir berupa produk siap konsumsi. Pihaknya juga berjanji bakal mengembangkan produk turunan lainnya berupa pangan, kosmetik maupun obat.

Selain margin keuntungannya bisa lebih besar, juga dapat menyerap tenaga kerja. “Kami mengapresiasi, ekspor tidak lagi produk mentah tapi sudah bentuk jadi. Jika masih ada hambatan jangan ragu hubungi kami. Kami juga mengajak masyarakat untuk bersama menjaga status kesehatan hewan dan tumbuhan agar produk pertanian kita aman dikonsumsi, lestari dan laris di pasar global,” pungkasnya. (ZP/07)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here