Pengusaha Sirup Parijoto Kudus Raup Untung di Tengah Pandemi Covid-19

Proses pembuatan sirup parijoto khas Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

SEMARANG – Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki kontribusi sebesar 60,3% dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Apalagi dengan jumlah UMKM yang kini mencapai 64,2 juta unit, sendi utama perekonomian nasional itu mampu menyerap 97% dari total tenaga kerja dan 99% dari total lapangan kerja. Di masa transisi paska pandemik Covid-19 diperlukan banyak dukungan agar sektor UMKM kembali mengeliat.

Salah satu pengusaha UMKM yang berhasil melalui fase krisis saat pandemi Covid-19 adalah Triyanto, seorang warga Kudus yang juga merupakan mitra binaan PT Phapros, Tbk, anak usaha dari PT Kimia Farma Tbk. Triyanto merupakan pengusaha sirup parijoto  (Medinilla speciosa) yang merupakan olahan tanaman endemik di Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah.

“Awalnya saya hanya memanfaatkan peluang yang ada. Di tempat saya tinggal, buah parijoto ini sangat banyak, dan harganya bisa melonjak tinggi bila di musim kemarau mencapai Rp 30.000 – Rp 50.000 per tangkainya,” ujar pria yang juga memiliki hobi fotografi ini.

“Karena rasanya yang kurang enak jika dimakan langsung, maka saya kemudian mulai mengolahnya menjadi sirup pada tahun 2015 dan dijual dalam skala kecil,” tambahnya.

Adapun lebih lanjut Triyanto megatakan bahwa dirinya menggunakan strategi pemasaran online dan membentuk agen – agen resmi di beberapa wilayah Indonesia untuk mengenalkan produknya. “Saya lebih aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat sehingga mereka tertarik untuk menjadi agen atau reseller. Pada saat pameran pun, ketika orang lain mencari konsumen, saya malah berpromosi untuk mencari agen atau reseller baru. Saat itu pikirian saya sederhana, yakni bagaimana aya mempertahankan kelangsungan produk ini di masa depan,” ujarnya.

Triyanto tak memungkiri, bahwa kandungan flavonoid, tanin, dan saponin yang merupakan antioksidan dan bisa mencegah kanker menjadi daya tarik konsumen membeli produknya.

Di saat banyak UMKM lain gulung tikar, Triyanto justru bisa mendulang rupiah dari hasil penjualan sirup parijotonya. “Per bulan biasanya saya bisa menghasilkan Rp 50 juta Pada saat pandemi, usaha ini mengalami lonjakan permintaan hingga penghasilan per bulan meningkat sampai Rp 150 juta,” katanya.

Triyanto menjelaskan bahwa justru di saat pandemi, ia bisa membuka peluang reseller baru. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan atau ingin menambah penghasilan akhirnya bergabung dengan usaha sirup parijoto ini dengan menjadi agen atau reseller nya. “Mereka memasarkan produk ini secara online dan hampir di semua marketplace kini bisa ditemukan sirup parijoto,” terangnya.

Kini, usahanya berkembang pesat dan telah memiliki diversifikasi produk yakni teh celup dan teh tubruk parijoto. Triyanto juga memiliki lahan baru di sebrang rumahnya, buah hasil dari kegigihannya menjalani usaha di tengah pandemi.

“Lahan ini rencananya akan kami gunakan sebagai tempat produksi dengan kapasitas yang lebih besar. Saya juga berterima kasih kepada Phapros karena saat ini saya bisa memiliki tempat produksi sendiri setelah dulu saya harus produksi sirup ini dengan menumpang di dapur orangtua,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here